Energi Juang News, Pati— Ratusan warga Pati memadati halaman Markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Selasa (4/11/2025). Mereka datang menjenguk dua pemimpin Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto, yang ditahan usai memimpin aksi menuntut pemakzulan Bupati Sudewo.
Sejak pagi, massa berkumpul di Alun-Alun Pati. Sekitar pukul 07.00 WIB, rombongan berangkat menggunakan beberapa bus dan kendaraan pribadi. Sebuah ambulans milik posko AMPB turut ikut dalam iring-iringan menuju Semarang.
Kedua aktivis itu ditangkap pada Jumat malam, 31 Oktober 2025, usai demonstrasi besar di pusat kota berujung pada aksi blokade jalur Pantura Pati–Rembang. Polisi menuding aksi itu mengganggu ketertiban umum dan menjerat Supriyono serta Teguh dengan pasal 192 ayat 1 KUHP, serta pasal 160, 169, dan 55 KUHP.
“Dari Pati saja ada seratusan orang, belum termasuk simpatisan yang sudah menunggu di Semarang,” ujar Kristoni Duha dari Tim Advokasi AMPB.
Penangkapan keduanya memicu reaksi keras dari masyarakat. Banyak warga menilai langkah aparat terlalu berlebihan dan justru memperkeruh suasana politik lokal. Apalagi, aksi tersebut dipicu oleh kekecewaan atas hasil sidang paripurna DPRD yang menolak rekomendasi pemakzulan Bupati Sudewo.
Panitia Khusus Hak Angket sebelumnya menyerahkan laporan berisi dugaan pelanggaran serius yang dilakukan Bupati, termasuk kaitannya dengan kasus korupsi Dirjen Perkeretaapian (DJKA) yang tengah diusut KPK. Namun, mayoritas fraksi di DPRD Pati menolak rekomendasi itu. Hanya Fraksi PDI Perjuangan yang tetap bersikap tegas meminta pemberhentian sementara sang bupati.
Usai keputusan tersebut, warga yang sudah memadati alun-alun melampiaskan kekecewaannya dengan turun ke jalan. Mereka menutup sebagian jalur Pantura sebagai bentuk protes simbolik. Tak lama kemudian, polisi membubarkan massa dan menahan beberapa orang, termasuk dua pimpinan AMPB.
Kini, Supriyono dan Teguh masih ditahan di Polda Jawa Tengah untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Meski begitu, dukungan terhadap keduanya terus mengalir dari warga Pati yang menilai perjuangan mereka adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan politik di daerah.
Redaksi Energi Juang News



