Energi Juang News, Surabaya– SMA Wijaya berdiri megah namun kusam di salah satu sudut kota kecil di Jawa Timur, dengan tembok tebal peninggalan Belanda yang mulai retak dimakan usia. Bangunan itu tampak biasa di siang hari, dipenuhi suara bel sekolah dan tawa siswa, tetapi menjelang sore suasananya berubah muram. Seorang pedagang kaki lima di depan sekolah pernah berbisik, “Kalau matahari sudah turun, rasanya sekolah ini seperti berubah wajah,” katanya pelan, membuat siapa pun yang mendengar ikut merinding tanpa tahu sebabnya.
Cerita tentang keanehan sekolah ini beredar turun-temurun di kalangan warga sekitar, meski jarang ada yang berani membicarakannya terang-terangan. Seorang ibu penjaga warung berkata pada Arif suatu sore, “Nak, jangan main ke gedung belakang ya, dari dulu tempat itu nggak beres.” Nada suaranya serius, seolah memperingatkan bahaya nyata. Namun bagi Arif, siswa baru yang baru pindah, larangan seperti itu justru menumbuhkan rasa ingin tahu yang sulit ditekan.
Arif sering mendengar bisikan teman-temannya tentang satu gedung tua di belakang sekolah yang selalu terkunci rapat. Konon, ruangan kelas di dalamnya sudah lama ditutup tanpa penjelasan resmi. Doni pernah berujar sambil tertawa kaku, “Katanya sih, kalau malam suka ada suara bangku diseret sendiri.” Rika menimpali dengan wajah pucat, “Aku pernah dengar ketukan jendela, padahal nggak ada siapa-siapa.” Cerita-cerita itu terdengar seperti bumbu horor, tapi terlalu sering diulang untuk dianggap sekadar candaan.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa takut. Pada suatu malam mendung, Arif mengajak Doni, Rika, dan Sinta menyusuri gedung tua itu. Angin dingin berembus menusuk tulang saat mereka melewati gerbang belakang sekolah. “Kalian yakin mau lanjut?” bisik Sinta gugup. Arif mengangguk, mencoba terdengar berani. Langit gelap tanpa bintang, dan setiap langkah kaki mereka seolah bergema terlalu keras di tengah keheningan yang aneh.
Setibanya di depan ruangan kelas yang terkenal angker itu, Rika mendadak berhenti. “Aku merinding, Arif,” katanya dengan suara bergetar. Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya, dan suasana mendadak sunyi, seakan semua suara ditelan malam. Pintu kelas terkunci rapat, namun Arif mendorongnya dengan tenaga penuh hingga terbuka perlahan, menimbulkan bunyi berderit panjang yang membuat jantung mereka serentak berdegup kencang.
Ruangan itu gelap dan berbau busuk menyengat, seperti kain basah yang lama membusuk. Cahaya senter menyorot kursi-kursi berantakan dan dinding penuh coretan tak bermakna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan dari jendela belakang. “Itu apa?” bisik Doni panik. Saat itulah Rika melihat sosok putih berdiri kaku: pocong dengan kain kafan kusam, wajahnya pucat dan matanya kosong menatap mereka tanpa suara, kehadirannya membawa rasa dingin yang menusuk dada.
Mereka berlari keluar dengan panik, namun langkah mereka terhenti oleh tawa melengking dari atas langit-langit. Di lorong gelap, tampak kuntilanak melayang perlahan, rambut panjang terurai menutupi sebagian wajah pucatnya. Matanya merah menyala. “Pulang… kalian pulang…” desisnya lirih namun jelas. Sinta menjerit histeris, sementara Doni tersungkur, tubuhnya gemetar tak mampu bergerak saat sosok itu mendekat.
Saat ketakutan memuncak, pocong tadi tiba-tiba melompat dari arah belakang, seolah menutup jalan keluar. Arif berteriak, “Jangan ganggu kami!” suaranya pecah oleh panik. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria tua membawa senter. “Astaghfirullah, ikut saya!” seru Pak Roso, penjaga sekolah. Ia membacakan doa dengan suara lantang, dan perlahan sosok-sosok itu memudar seperti kabut tersapu angin.
Di tempat aman, Pak Roso duduk bersama mereka dan mulai bercerita. “Dulu, di gedung itu terjadi kecelakaan besar,” katanya pelan. Seorang guru dan beberapa siswa tewas tragis. “Pocong itu arwah sang guru, masih menjaga murid-muridnya,” lanjutnya. Kuntilanak adalah siswi yang meninggal dengan dendam. Seorang warga tua yang ikut mendengar hanya menghela napas, “Kami sudah lama tahu, tapi takut bicara.”
Sejak malam itu, ruangan tersebut ditutup rapat dan tak seorang pun berani mendekat. Kisah teror itu menjadi peringatan bagi siswa baru dan warga sekitar. Teror hantu SMA Wijaya pun terus hidup sebagai cerita yang dibisikkan, bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi sebagai pengingat bahwa beberapa tempat menyimpan luka lama. Dan setiap kali malam turun, sekolah itu seakan berbisik, meminta masa lalunya tetap dihormati.
Redaksi Energi Juang News



