Energi Juang News, Jakarta–Mince kedatangan tanggal apes yang tak ada di kalender. Niat berangkat pacaran malah kehilangan sepeda motor kesayangan. Perempuan asal Kecamatan Mojoroto ini awalnya hanya ingin menjalani kisah cinta sederhana ala anak muda, yang penting ada teman ngobrol, ketawa bareng, dan sesekali bahas hal mendasar bahas ‘biologi khusus’. Namun yang diharap kadang berlebih dari ekspektasi. Janji manis Kang Dalbo bisa berubah jadi drama kriminal, dan rencana jalan-jalan romantis malah berakhir dengan pulang naik ojek online sambil menahan emosi campur malu.
Cerita ini bermula dari Kenalan di Facebook, tempat semua orang terlihatjulid soal kenyataan. Lewat Facebook, Mince berkenalan dengan seorang pria yang mengaku bernama Kang Dalbo, anak bandar singkong didesanya/ Keduanya dipertemukan oleh sebuah komunitas penggemar anime dan musik Jepang. Obrolan mereka nyambung, mulai dari anime favorit sampai lagu Jepang yang bikin baper. Dari situ, kedekatan tumbuh pelan-pelan, seperti lem powerglue cepet nempel cepet kering.
Kang Dalbo ini tipe yang kalau ngobrol kayak salesmie mercon akhir bulan. Setiap chat terasa seperti dialog sinetron sore, penuh pujian dan janji manis. Mince yang masih duduk di bangku SMA pun perlahan luluh. Sebulan berselang, tanpa banyak curiga, Mince nekat datang ke Jombang naik kereta api. Dalam pikirannya, ini hanya pertemuan dua insan yang merasa cocok. Tanpa rasa curiga yang berbunyi, karena hatinya sedang sibuk mendengarkan lagu cinta.
Pertemuan pertama berjalan lancar. Mereka ngobrol, ketawa, dan merasa cocok. Tanpa proses panjang ala PDKT berlapis-lapis, keduanya langsung memutuskan jadian. Dunia terasa lebih cerah, seolah hujan bisa berhenti hanya karena dua orang sepakat saling suka. Tak lama kemudian, giliran Kang Dalbo yang bertandang ke Kediri. Ia naik kereta api, lalu dijemput Mince menggunakan sepeda motor Honda Beat kesayangan.
Momen ini terasa seperti adegan film romantis . Mereka berkeliling kota, naik motor berdua, tertawa tanpa beban. Dunia serasa milik berdua, sementara orang lain hanya figuran yang lewat sekilas. Dari luar, semuanya tampak normal. Tidak ada tanda-tanda bahwa cerita ini akan berbelok tajam ke genre kriminal ringan bercampur tragedi dompet.
Petaka datang saat mereka berada di kawasan Simpang Lima Gumul. Di Taman Hijau SLG, Kang Dalbo tiba-tiba berdalih ingin ke toilet. Alasannya terdengar masuk akal, karena siapa pun bisa tiba-tiba kebelet di tengah jalan. Mince menunggu dengan santai, mungkin sambil scroll ponsel atau melamun tentang masa depan yang indah. Namun menit demi menit berlalu, dan sosok yang ditunggu tak kunjung kembali. Kecurigaan timbul dari rasa tak nyaman.
Rasa curiga mulai muncul. Mince mencoba mencari dan menghubungi Kang Dalbo. Telepon tak diangkat, pesan WhatsApp hanya centang satu. Di titik ini, kenyataan mulai terdengar asli. Ada warga yang bilang, sepeda motor yang tadi dipakai berkeliling sudah dibawa kabur oleh sosok pria yang ciri cirinya mirip Kang Dalbo. “Sepeda motor dibawa kabur, aku ditinggal di taman SLG,” ujarnya dengan nada getir.
Tanpa kendaraan dan tanpa teman, Mince akhirnya pulang ke rumah menggunakan ojek online. Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya, bukan karena macet, tapi karena pikiran penuh penyesalan. Setiba di rumah, bukan pelukan hangat yang didapat, melainkan ceramah panjang dari keluarga. Kejadian ini pun dilaporkan ke pihak kepolisian, karena cinta boleh kandas, tapi motor harus diusahakan kembali.
Jika ditarik lebih luas, kisah ini menjadi contoh nyata dari modus yang Kang Dalbo jalankan yang sering terjadi di era media sosial. Polanya sederhana tapi efektif: pelaku membangun kepercayaan lewat kesamaan emosional dengan rayuan, lalu memanfaatkan situasi ketika korban lengah. Trik rayuan orang dewasa semacam ini tidak selalu melibatkan kekerasan, tetapi bermain di wilayah psikologis dan rasa percaya. Karena kalau sudah begitu, bukan cuma perasaan yang bisa hilang, tapi juga sepeda motor, harga diri, dan kepercayaan pada janji manis berikutnya.
Redaksi Energi Juang News



