EnergiJuangNews,Lampung- Malam itu seharusnya berakhir dengan tenang. Usai shalat Isya berjamaah, warga berjalan keluar masjid dengan wajah damai, beberapa masih saling menyapa di pelataran. Masjid kecil itu berdiri tak jauh dari hutan, tempat pepohonan tinggi menjulang dan gelapnya malam terasa lebih pekat. Angin berdesir pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua.
Tak ada yang menyangka, beberapa menit kemudian, suasana berubah mencekam.
“Ada… ada putih di atas pohon!” suara seorang pria memecah keheningan. Ia berdiri kaku, tangan gemetar memegang ponsel, matanya tak lepas menatap ke arah hutan. Warga yang semula hendak pulang spontan berhenti. Beberapa mendekat, yang lain justru mundur sambil membaca doa pelan.
Kamera ponsel diarahkan ke atas pohon besar tak jauh dari masjid. Di antara ranting dan daun, tampak sesosok putih diam tak bergerak. Cahaya senter menyorotinya, namun sosok itu tetap ada, seolah tak terpengaruh. “Demi Allah, itu bukan kain,” ujar perekam dengan napas tertahan. “Ini sudah yang kedua kalinya muncul.”
Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Video tersebut kemudian menyebar luas di media sosial, memunculkan istilah yang membuat bulu kuduk berdiri: musim kuntilanak. Warganet ramai berspekulasi, sementara warga setempat justru diliputi ketakutan yang lebih nyata.
Sebagai ahli supranatural, aku tertarik pada satu detail penting: lokasi dan waktu. Penampakan terjadi usai ibadah, di dekat hutan, dan bertahan cukup lama meski disorot senter. Ini bukan pola yang asing dalam kisah-kisah makhluk astral di Nusantara.
“Kalau cuma orang iseng, pasti sudah turun,” bisik Pak Rahmat, seorang sesepuh desa, padaku keesokan harinya. “Ini diam saja, tinggi, putih… cirinya sudah jelas.” Ia menghela napas panjang. “Dari dulu, daerah sini memang rawan.”
Menurut cerita warga, sosok itu terlihat seperti perempuan berambut panjang, wajahnya samar tertutup bayangan daun. Tidak melayang, tapi berdiri atau bertengger di dahan tinggi. “Saya lihat jelas,” kata Roni, pemuda yang ikut menyinari pohon malam itu. “Senter kami kena langsung, tapi dia nggak hilang. Malah seperti menatap balik.”
Dialog antarwarga malam itu terekam jelas dalam ingatan banyak orang.
“Jangan keras-keras,” ujar seorang ibu.
“Kenapa?” sahut yang lain.
“Kalau dia dengar, nanti mendekat.”
Kepercayaan semacam itu bukan tanpa alasan. Dalam folklor Lampung dan berbagai daerah di Indonesia, kuntilanak sering dikaitkan dengan pohon besar, hutan, dan area sunyi. Ia dipercaya muncul pada waktu-waktu tertentu, seolah mengikuti siklus yang hanya dimengerti oleh dunia lain.
Fenomena ini kemudian dikenal luas sebagai misteri hantu kuntilanak, bukan hanya karena penampakannya, tetapi karena kemunculannya yang berulang. Warga mengaku sosok tersebut sudah dua kali terlihat di desa mereka. Pada kemunculan pertama, hanya segelintir orang yang menyaksikan. Kali kedua, puluhan mata menatap langsung.
“Ini seperti penanda,” kata Pak Rahmat lirih. “Biasanya kalau sudah muncul berkali-kali, akan ada kejadian lain menyusul.” Kalimat itu membuat suasana diskusi pagi itu menjadi berat. Beberapa warga memilih diam, yang lain saling pandang dengan wajah tegang.
Pro dan kontra pun muncul. Sebagian pemuda mencoba berpikir logis. “Bisa saja itu boneka atau kain putih,” ujar seorang dari mereka. Namun argumen itu dipatahkan oleh kesaksian yang konsisten. “Kalau kain, kenapa tidak bergerak tertiup angin?” sahut warga lain. “Dan kenapa munculnya malam terus?”
Sejak video itu viral, perubahan sikap warga terasa jelas. Anak-anak dilarang keluar rumah selepas magrib. Pintu dan jendela ditutup lebih awal. Beberapa rumah menggantungkan benda-benda penangkal: gunting, bawang putih, hingga sapu lidi di dekat pintu. Tradisi lama kembali dihidupkan, seolah desa ini sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tak kasatmata.
Seorang ibu muda mengaku mendengar suara tawa pelan dari arah hutan dua malam setelah penampakan. “Seperti perempuan tertawa, tapi sedih,” katanya sambil memeluk anaknya. “Saya langsung baca ayat kursi.”
Dalam kajian supranatural, rasa takut kolektif sering kali memperkuat energi suatu tempat. Semakin banyak yang percaya, semakin “hidup” cerita itu. Namun, aku juga percaya bahwa tidak semua ketakutan lahir dari imajinasi. Ada wilayah-wilayah tertentu yang memang menyimpan sejarah kelam, meski tak tercatat secara resmi.
Hingga kini, belum ada penjelasan pasti dari pihak berwenang. Tidak ada bukti fisik, hanya rekaman video dan kesaksian warga. Namun bagi mereka yang melihat langsung, itu sudah lebih dari cukup.
Redaksi Energi Juang News



