Lapangan hijau kembali membuktikan dirinya sebagai panggung politik dunia yang paling jujur. Kemenangan Spanyol atas Argentina dalam laga final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pamer taktik atau ketangkasan mengolah si kulit bundar.
Di balik riuh tepuk tangan pengagum sepak bola, bentrokan di final tersebut menyimpan narasi perseteruan ideologi yang mendalam: pertarungan antara sosialis-progresif anti-imperialis melawan anarko-kapitalisme pro-imperialis.
Sejak lama, narasi mistifikasi bahwa “olahraga harus steril dari politik” terus dijejalkan ke kepala publik dunia. Padahal, sejarah membuktikan sebaliknya. Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, jauh-jauh hari telah mematahkan mitos naif tersebut. Bagi Bung Karno, olahraga tak pernah sebatas kompetisi fisik semata, melainkan instrumen perjuangan politik bangsa-bangsa untuk keluar dari cengkeraman kolonialisme dan imperialisme.
Pesan ideologis ini diwujudkan secara konkret ketika Indonesia menggelar Games of the New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1963—sebuah tandingan progresif terhadap tatanan olahraga internasional yang kala itu dinilai didominasi kekuatan imperialis lama atau Old Established Forces (OLDEFO).
Maka, melihat kekalahan Argentina di tangan Spanyol melalui kacamata Bung Karno bukanlah hal yang mengada-ada, melainkan sebuah pembacaan realitas geopolitik yang gamblang.
Dua Wajah Ideologi di Panggung Dunia
Spanyol di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Pedro Sánchez berdiri sebagai benteng sosialis-progresif di Eropa. Sánchez konsisten mengusung welfare state (negara kesejahteraan), perlindungan hak-hak sosial, kesetaraan, serta posisi politik luar negeri yang berani menantang arus utama imperialisme barat.
Sikap geopolitik Spanyol paling tegas terlihat dalam keberanian mereka mengakui kedaulatan negara Palestina serta melontarkan kecaman keras terhadap operasi militer Israel di Gaza. Spanyol menunjukkan bahwa keberpihakan pada kemanusiaan dan keadilan geopolitik adalah prinsip yang tak bisa ditawar oleh kekuatan sosialis.
Di sudut lain, Argentina hadir membawa narasi yang bertolak belakang. Di bawah Presiden Javier Milei, Argentina menjelma menjadi laboratorium eksperimen “anarko-kapitalis” dengan agenda pasar bebas ekstrem. Dalam ranah politik luar negeri, Milei tanpa malu menyandarkan diri pada barisan penganut rezim Zionis Israel dan kekuatan imperialis global, sembari mengambil sikap konfrontatif terhadap musuh-musuh geopolitik AS seperti Iran.
Kemenangan Nilai Kemanusiaan atas Pasar Bebas
Ketika trofi Piala Dunia diangkat oleh para pemain Spanyol, terdapat pesan simbolis yang melampaui skor di papan nilai. Ini adalah kemenangan dari sebuah tatanan sosial yang menempatkan kesetaraan dan solidaritas di atas ketamakan kapitalisme liberal.
Piala Dunia 2026 mengajarkan kita bahwa kolektivisme dan keberpihakan pada nilai-nilai kemerdekaan serta kesetaraan, mampu menumbangkan liberalisme ekstrem pro imperialisme yang diusung tatanan anarko-kapitalis.
Laga final ini mengonfirmasi kembali ajaran Bung Karno: selama ketimpangan dan dominasi imperialisme masih ada di muka bumi, olahraga akan selalu menjadi medan laga politik yang bertenaga. Dan dalam pertempuran ideologi di lapangan hijau kali ini, angin sejarah berembus memihak mereka yang membela keadilan dan kemanusiaan.
Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)




