Perubahan iklim di negara-negara Selatan semakin nyata terasa, terutama di kawasan tropis yang sejak awal sudah berhadapan dengan suhu tinggi. Ironisnya, banyak dari negara-negara ini juga merupakan penghasil minyak, sehingga mereka bukan hanya korban dari panas ekstrem, tetapi juga turut menyumbang emisi karbon yang memperparah kondisi. Fenomena “double panas” ini membuat masyarakat di negara-negara Selatan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan wilayah lain.
Gelombang panas ekstrem yang melanda India, Pakistan, dan Thailand menjadi contoh nyata. India dan Pakistan setiap tahun mencatat suhu hingga 50 derajat Celcius, sementara Bangkok pernah mencapai 50,2 derajat Celcius pada 2023. Kondisi ini memicu ribuan kematian, terutama di kalangan masyarakat miskin yang tidak memiliki akses memadai terhadap pendingin ruangan atau infrastruktur kesehatan. Menurut laporan, gelombang panas ekstrem menewaskan sekitar 489.000 orang per tahun di dunia, dengan sebagian besar korban berasal dari wilayah yang infrastrukturnya terbatas. Fakta ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan krisis kemanusiaan yang merenggut nyawa.
Ketidakadilan iklim semakin terlihat ketika kita membandingkan kontribusi dan dampak. Negara-negara Global North bertanggung jawab atas sekitar 92% emisi karbon berlebih, sementara Global South justru menanggung akibat paling parah. Banjir mematikan di Afrika Timur, kekeringan panjang di Asia Selatan, hingga badai tropis di Amerika Latin adalah bukti nyata bahwa beban iklim tidak terbagi secara adil. Namun, ironisnya, penelitian iklim masih didominasi oleh ilmuwan dari Global North. Laporan IPCC terbaru memang menunjukkan peningkatan keterlibatan peneliti dari Global South, tetapi mayoritas penulis (62%) tetap berasal dari Global North. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana solusi iklim bisa benar-benar efektif jika suara mereka yang paling terdampak justru kurang didengar?
Dampak perubahan iklim di negara-negara Selatan merembes ke semua aspek kehidupan. Pertanian terguncang oleh kekeringan, membuat harga pangan melonjak dan mengancam ketahanan pangan. Kesehatan masyarakat terancam oleh gelombang panas yang mematikan, sementara kemiskinan semakin dalam karena biaya hidup naik dan akses terhadap layanan dasar terbatas. Ketika iklim berubah, yang paling rentan adalah mereka yang sudah berada di garis kemiskinan.
Karena itu, penting bagi dunia untuk memberi ruang bagi negara-negara Selatan untuk menentukan agenda riset dan kebijakan iklim mereka sendiri. Mereka tidak boleh sekadar menjadi objek penelitian, melainkan harus menjadi subjek yang aktif dalam mencari solusi. Inisiatif seperti konferensi iklim di Kigali, Rwanda, yang menghadirkan ribuan pakar dari seluruh dunia dengan keterlibatan signifikan dari Global South, adalah langkah positif. Namun, lebih dari sekadar kolaborasi, dunia harus memberi otonomi penuh bagi negara-negara Selatan untuk menyuarakan kebutuhan dan pengetahuan lokal mereka.
Perubahan iklim bukan sekadar angka di laporan ilmiah, melainkan kisah nyata tentang keluarga yang kehilangan rumah karena banjir, petani yang gagal panen karena kekeringan, dan anak-anak yang tumbuh di bawah langit yang semakin panas. Jika dunia ingin bertahan, maka solusi harus lahir dari kolaborasi yang setara, di mana Selatan tidak lagi sekadar korban, tetapi juga pemimpin dalam menentukan arah masa depan iklim.
Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)




