Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaNasib Ukraina dan Relevansi Politik Non-Blok ala Sukarno

Nasib Ukraina dan Relevansi Politik Non-Blok ala Sukarno

Penulis
Esteria Tamba
(Jurnalis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta- Krisis yang melanda Ukraina sejak invasi Rusia pada 2022 hingga kini telah menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai kebijakan luar negeri yang tepat bagi negara-negara berkembang.

Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan mendekat ke Blok Barat dianggap oleh Rusia sebagai ancaman langsung, yang memicu konflik berkepanjangan. Situasi ini mengingatkan kita pada kebijakan politik luar negeri non-blok yang pernah digagas oleh Presiden Sukarno, yang menekankan ketidakberpihakan dalam percaturan politik global.

Gerakan Non-Blok (GNB) didirikan pada 1961 sebagai respons terhadap ketegangan Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.

Negara-negara pendiri, termasuk Indonesia, India, Mesir, Ghana, dan Yugoslavia, sepakat untuk tidak memihak salah satu blok, dengan tujuan menjaga kedaulatan dan integritas nasional tanpa terlibat dalam konflik kekuatan besar.

Keputusan Ukraina untuk mendekat ke NATO dan Uni Eropa dapat dilihat sebagai langkah yang menjauh dari prinsip non-blok. Keinginan ini, meskipun beralasan untuk meningkatkan keamanan dan kemakmuran, justru memicu ketegangan dengan Rusia, yang merasa terancam oleh ekspansi NATO ke timur.

Akibatnya, Ukraina terperangkap dalam konflik yang menghancurkan, sementara dukungan dari negara-negara Barat tidak sepenuhnya memenuhi harapan mereka. Amerika Serikat dan Jerman, misalnya, bersikap hati-hati dalam memberikan jaminan keamanan penuh kepada Ukraina untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia.

Situasi ini membuktikan relevansi kebijakan non-blok ala Bung Karno dalam konteks modern. Dengan tidak memihak pada aliansi militer atau blok politik tertentu, negara dapat menghindari provokasi dan menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan global.

Pendekatan ini memungkinkan negara-negara untuk mempertahankan kedaulatan dan membuat keputusan berdasarkan kepentingan nasional tanpa tekanan eksternal.

Baca juga :  Dorong Bank Biayai MBG, OJK Jadi Perpanjangan Tangan Pemerintah?

Dampak dari konflik Ukraina terhadap politik dunia sangat signifikan. Ketegangan antara NATO dan Rusia meningkat, dengan potensi memicu konflik yang lebih luas. Selain itu, negara-negara lain mungkin merasa terpaksa memilih sisi dalam konflik ini, yang dapat mengarah pada ketidakstabilan regional dan global.

Dalam konteks ini, prinsip non-blok menawarkan alternatif yang memungkinkan negara-negara untuk tetap netral dan fokus pada pembangunan internal serta kerjasama internasional yang damai.

Pada akhirnya, pengalaman Ukraina menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aliansi militer atau blok politik tertentu dapat membawa risiko signifikan, terutama ketika berhadapan dengan kekuatan besar yang merasa terancam.

Kebijakan luar negeri non-blok, seperti yang dipromosikan oleh Bung Karno, menawarkan jalan tengah yang memungkinkan negara-negara untuk menjaga kedaulatan dan menghindari konflik yang tidak perlu. Dalam dunia yang semakin multipolar, pendekatan ini mungkin lebih relevan daripada sebelumnya.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments