Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta- Ada hal-hal yang tidak tercatat dalam data statistik: keheningan di kamar seorang remaja yang tidak pernah bangun pagi itu, tawa di keramaian yang menyembunyikan luka dalam, atau seseorang yang terus mengetik “aku gapapa” sambil menahan air mata. Bunuh diri bukan sekadar angka ia adalah tragedi diam-diam yang kerap terjadi karena kita lupa satu hal paling sederhana: bertanya dan mendengarkan.
Menurut WHO, sekitar 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Di Asia Tenggara, Thailand mencatat angka tertinggi (12,9 per 100.000 populasi), diikuti oleh Singapura (7,9), Vietnam (7,0), Malaysia (6,2), Indonesia dan Filipina (3,7). Meski Indonesia tampak “rendah”, kenyataannya banyak kasus tak pernah dilaporkan karena stigma dan tabu yang masih kuat.
Data dari Indonesian Association for Suicide Prevention (2020) mencatat 670 kematian akibat bunuh diri, kebanyakan dari kelompok usia tua. Namun, angka terbaru dari Kepolisian Indonesia menunjukkan lonjakan drastis: dari 300 kasus (Januari–Agustus 2022) menjadi 866 kasus pada periode yang sama tahun 2023. Di Bali, peningkatan kasus mencapai 36,67% dalam setahun, dan para ahli percaya angka riil bisa jauh lebih tinggi.
Lantas, apa yang membuat seseorang memilih mengakhiri hidupnya?
Bunuh diri tidak terjadi karena satu alasan tunggal. Ia adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. WHO menekankan bahwa selain depresi dan penyalahgunaan zat, banyak kasus bunuh diri terjadi secara impulsif dalam momen krisis ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk menghadapi stres berat seperti masalah keuangan, konflik keluarga, pelecehan, atau rasa kesepian yang kronis.
Di tengah hiruk pikuk dunia digital, kita semakin sibuk, namun juga semakin sendiri. Remaja dan anak muda kini menjadi kelompok yang sangat rentan karena tekanan ekspektasi, perbandingan sosial di media, dan kurangnya ruang aman untuk bercerita. Mereka tidak butuh motivasi toksik. Mereka butuh didengar tanpa dihakimi.
WHO merekomendasikan langkah-langkah pencegahan yang sederhana namun efektif, seperti membatasi akses pada sarana bunuh diri, pelatihan keterampilan emosional, dan keterlibatan media dalam pelaporan yang etis. Tapi semua itu tidak akan cukup jika kita sendiri masih takut membuka percakapan yang seharusnya sudah kita mulai sejak lama.
“Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan sederhana ini bisa menyelamatkan nyawa. Tanyakan dengan tulus, lalu dengarkan dengan sabar tanpa menghakimi atau memaksa solusi instan.
Akhirnya, tulisan ini bukan untuk mencari simpati. Ini adalah seruan lembut namun mendesak: jadilah telinga yang hadir, sebelum kehilangan menjadi penyesalan yang tak bisa diperbaiki. Kadang, satu percakapan bisa menyelamatkan hidup. Maka bertanyalah. Dengarkan. Hadir. Sebelum mereka benar-benar menghilang.
Redaksi Energi Juang News



