Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Di tengah perubahan zaman yang cepat, pilihan karier anak muda, khususnya generasi Z, sering kali disalahpahami oleh generasi sebelumnya. Mereka yang memilih untuk tidak bekerja di kantor 9-to-5 dianggap tidak serius, pemalas, bahkan antisosial.
Padahal, di balik keputusan itu tersimpan alasan yang jauh lebih kompleks. Gen Z bukan generasi yang anti kerja, mereka hanya mencari bentuk kerja yang lebih bermakna, fleksibel, dan selaras dengan identitas diri mereka.
Menurut Jean M. Twenge, seorang psikolog yang banyak meneliti generasi muda, Gen Z tumbuh di era yang sangat digital, sehingga mereka terbiasa dengan kecepatan, kreativitas, dan otonomi sejak dini. Maka, tidak mengherankan jika banyak dari mereka lebih memilih karier non formal seperti freelancer, content creator, wirausaha digital, atau pekerja lepas kreatif daripada bekerja di bawah tekanan sistem konvensional.
Realitas di lapangan juga memperkuat alasan mereka. Saat ini, lapangan kerja formal semakin sempit, sementara persaingan makin ketat. Ironisnya, banyak posisi penting di perusahaan besar justru diisi lewat jalur orang dalam atau koneksi keluarga. Fenomena ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara mereka yang punya privilese dan yang tidak.
Gen Z yang tidak memiliki akses ke jaringan tersebut akhirnya mencari jalan sendiri. Dunia digital menawarkan solusi: mereka membangun portofolio, menjual jasa atau produk secara mandiri, bahkan mengelola brand pribadi. Di mata orang tua, ini mungkin tampak tidak stabil, namun bagi Gen Z, ini adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang tidak adil.
Tentu saja, tidak semua karier non formal menjanjikan kenyamanan finansial. Tantangan seperti pendapatan yang fluktuatif, tidak adanya jaminan sosial, dan tekanan kreatif sangat nyata. Tetapi justru karena inilah pilihan mereka perlu dihargai. Gen Z sedang menciptakan ekosistem kerja baru yang lebih inklusif dan personal.
Mereka tidak ingin hidup hanya untuk gaji, mereka ingin hidup yang punya nilai. Maka, daripada mencap mereka pemalas, mungkin saatnya kita mendengarkan aspirasi mereka lebih dalam. Dunia kerja sedang berubah, dan Gen Z bukan sedang melarikan diri, mereka sedang menciptakan jalannya sendiri.
Inilah saat yang tepat bagi masyarakat dan pemerintah untuk merespons perubahan ini dengan kebijakan yang adaptif, akses pelatihan keterampilan digital, serta perlindungan kerja yang relevan.
Sebab, jika Gen Z diberi ruang dan kepercayaan, mereka tak hanya akan menciptakan karier untuk diri sendiri, tapi juga peluang baru bagi masa depan ekonomi Indonesia.
Redaksi Energi Juang News



