Energi Juang News, Jakarta- Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia, telah menjadi saksi bisu perayaan Waisak yang penuh makna.
Sejak tahun 1929, umat Buddha dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sini untuk merayakan Tri Suci Waisak, memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran Pangeran Siddharta, pencapaian Penerangan Agung, dan wafatnya Buddha Gautama.
Perayaan Waisak di Borobudur tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol toleransi dan harmoni antarumat beragama.
Seperti yang disampaikan oleh Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki, “Kebiasaan melihat perbedaan sebagai keindahan secara otomatis juga akan melahirkan toleransi dan sikap saling menghargai.”
Rangkaian perayaan dimulai dengan prosesi dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, membawa api dharma dari Mrapen dan air berkah dari Umbul Jumprit.
Puncaknya ditandai dengan detik-detik Waisak pada pukul 20.52 WIB, diikuti oleh pelepasan ribuan lampion ramah lingkungan ke langit malam, simbol harapan dan kedamaian.
Perayaan ini menarik lebih dari 75.000 pengunjung, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara, yang datang untuk merasakan kedamaian dan spiritualitas di Candi Borobudur.
Direktur Pemasaran dan Program Pariwisata InJourney, Maya Watono, menyatakan, “Kesuksesan tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Candi Borobudur sebagai salah satu episentrum umat Buddha dunia yang menarik minat wisata religi atau spiritual tourism dari wisatawan di berbagai belahan dunia.”
Dengan perayaan Waisak yang khidmat dan penuh makna, Candi Borobudur terus menjadi simbol persatuan dalam keberagaman, mengajak semua untuk merenungkan ajaran Sang Buddha dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Redaksi Energi Juang News



