Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta— Di tengah tensi geopolitik antara dua kekuatan ekonomi dunia—Amerika Serikat dan Tiongkok—terjadi perang yang tak kasat mata, namun sangat nyata: perebutan dominasi informasi di ruang digital global. Salah satu front pertempuran yang paling mencolok hari ini adalah pergeseran perilaku pencarian informasi di kalangan Generasi Z.
Studi terbaru dari Bernstein Research, September 2024, mengungkap bahwa Gen Z kini lebih memilih TikTok ketimbang Google sebagai rujukan utama saat mencari informasi lewat ponsel mereka. Fenomena ini bukan sekadar tren teknologi; ini adalah simbol dari pergeseran kekuasaan informasi global.
TikTok, media sosial berbasis video pendek asal Tiongkok, telah menjadi alat baru bagi generasi muda dalam mencari tahu sebelum mengambil keputusan.
Menurut laporan Business Insider, Gen Z dan bahkan Gen Alpha kini mulai meninggalkan kebiasaan lama membuka Google, dan beralih ke TikTok untuk menggali referensi atau pengetahuan baru.
Survei lain yang dirilis oleh Forbes Advisor bersama Talker Research pada April 2024 turut memperkuat temuan ini: sekitar 45% responden dari kalangan Gen Z mengaku lebih suka menggali informasi melalui media sosial dibandingkan mesin pencari konvensional.
Alasan utama di balik tren ini pun cukup masuk akal. TikTok menyajikan informasi secara visual dan cepat, dua hal yang sangat relevan dengan karakteristik Gen Z yang dinamis dan terbiasa dengan arus informasi instan. Format video pendek memungkinkan pemrosesan informasi yang ringkas namun mengena.
Tidak hanya itu, kehadiran influencer yang menyampaikan ulasan secara personal, emosional, dan langsung seringkali dianggap lebih autentik daripada artikel teks yang panjang dan cenderung netral seperti yang umum dijumpai di Google. Algoritma TikTok juga terasa lebih “dekat”, menghadirkan konten yang sangat relevan dan sesuai dengan preferensi pengguna secara real time.
Namun, di balik pergeseran ini, muncul pertanyaan penting: apakah kita sedang menyaksikan semacam kolonialisme digital baru, tetapi kini hadir dalam wajah yang lebih halus—bukan lagi lewat dominasi militer atau ekonomi, tetapi lewat teknologi informasi? Selama dua dekade terakhir, Google telah memonopoli arus pengetahuan digital dengan mesin pencarinya yang berbasis di AS.
Banyak pihak menganggapnya sebagai perpanjangan tangan dari hegemoni informasi Barat. TikTok, dalam hal ini, hadir sebagai alternatif dari kutub yang berbeda—mewakili kekuatan baru yang mencoba menyaingi dominasi digital Amerika.
Jika sebelumnya masyarakat dunia seolah hanya mengenal satu lensa informasi dari Google dan produk-produk Barat lainnya, kini TikTok menghadirkan narasi tandingan. Ini bukan sekadar tentang memilih platform hiburan atau belajar, melainkan tentang memperluas cara pandang, memberi ruang bagi berbagai perspektif non-Barat, dan membebaskan masyarakat dari satu arah alur informasi yang itu-itu saja.
Tentu saja, TikTok bukan tanpa celah. Risiko misinformasi tetap tinggi, dan isu privasi data belum sepenuhnya transparan. Namun, keberadaan platform ini memberi warna dan keseimbangan baru dalam arus informasi global yang selama ini terlalu tersentralisasi di tangan Barat.
Di era di mana informasi adalah senjata paling ampuh, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif. Baik Google maupun TikTok, keduanya bisa dimanfaatkan secara bijak asal disertai dengan sikap kritis dan kesadaran penuh akan siapa yang menyampaikan apa, dan untuk tujuan apa.
Pertanyaannya bukan hanya platform mana yang lebih cepat atau menarik, tetapi juga: siapa yang sedang membentuk cara kita melihat dunia?
Redaksi Energi Juang News



