Senin, April 20, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaFOMO atau Realita? Menelusuri Budaya Hustle di Kalangan Gen Z

FOMO atau Realita? Menelusuri Budaya Hustle di Kalangan Gen Z

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Di tengah ledakan digital yang melanda Indonesia, fenomena sosial di kalangan Gen Z kini semakin kompleks. Berdasarkan data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada tahun 2024 telah mencapai angka fantastis, yaitu 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 penduduk.

Dari jumlah tersebut, Gen Z (kelahiran 1997–2012) menjadi kelompok usia terbanyak yang mendominasi lalu lintas dunia maya dengan persentase 34,40%. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh dalam era konektivitas, di mana internet bukan hanya alat bantu, tetapi juga ruang hidup sosial utama.

Dengan dominasi tersebut, bukan hal mengejutkan jika kegiatan utama Gen Z saat mengakses internet adalah membuka berbagai media sosial seperti Twitter, Instagram, LinkedIn, WhatsApp, hingga Line. Aplikasi-aplikasi ini memang menawarkan kemudahan komunikasi dan akses informasi yang cepat, tetapi juga menghadirkan ruang kompetisi yang tak kasat mata.

Ketika setiap orang bebas memamerkan pencapaian, kehidupan glamor, atau update karier terbaru, sebagian dari Gen Z mulai merasa tertinggal. Inilah cikal bakal munculnya Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut ketinggalan yang membuat banyak anak muda merasa harus selalu ada di setiap momen, mengikuti tren terkini, atau mengejar pencapaian orang lain.

Sayangnya, FOMO tak berhenti sebagai rasa takut. Ia berubah menjadi pemicu budaya hustle, sebuah gaya hidup yang menjadikan produktivitas sebagai identitas diri. Semakin sibuk, semakin dihargai. Istirahat dianggap kelemahan. Dan bekerja keras siang malam jadi standar emas kesuksesan.

Tak jarang, banyak Gen Z merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa, karena media sosial seolah menampilkan dunia yang selalu bergerak. Dalam kondisi seperti ini, tekanan untuk terus produktif bukan lagi lahir dari kebutuhan, tetapi dari perasaan takut dilihat tidak cukup ambisius.

Baca juga :  Deklarasi SDG di Jepang: Solusi atau Hanya Strategi Branding?

Budaya hustle yang didorong oleh FOMO ini memang sekilas terlihat sebagai dorongan positif. Namun dalam praktiknya, hal ini dapat menciptakan jebakan psikologis yang melelahkan. Banyak anak muda merasa harus selalu up to date, harus terlihat produktif, bahkan jika itu berarti mengorbankan waktu tidur, kesehatan mental, dan kehidupan sosial di dunia nyata.

Keinginan untuk tampil sempurna dan selalu berhasil, yang ditanamkan melalui algoritma media sosial, menjadikan hidup sebagai ajang pembuktian tak berujung. Padahal, tidak semua hal harus dipublikasikan, dan tidak semua keberhasilan orang lain berarti kita gagal.

Dalam realitas ini, tantangan bagi Gen Z adalah bagaimana menavigasi hidup di tengah gempuran ekspektasi sosial dan ilusi pencapaian. Ketika setiap scroll di layar bisa memicu rasa bersaing atau minder, saatnya kita bertanya kembali: apakah kita benar-benar mengejar mimpi, atau hanya berlari karena takut tertinggal?

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments