Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaBangkitnya Poros Baru, Dolar Mulai Tergeser

Bangkitnya Poros Baru, Dolar Mulai Tergeser

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Langkah negara-negara Asia yang mulai berani meninggalkan dominasi dolar Amerika bukan sekadar keputusan ekonomi. Lebih jauh, ini adalah napas baru dari cita-cita lama yang dulu pernah dibakar Bung Karno lewat gagasan New Emerging Forces (NEFO).

Meski sering disamakan dengan Gerakan Non Blok (GNB), sejatinya NEFO dan GNB berbeda tujuan. GNB bersikap netral dalam ketegangan Perang Dingin antara Barat dan Timur, sementara NEFO adalah gerakan perlawanan nyata terhadap imperialisme, kapitalisme, dan kolonialisme dalam segala bentuknya, termasuk sistem ekonomi global yang timpang.

Di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Bung Karno dengan lantang menolak ketergantungan pada blok mana pun. Ia mengajak negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk membentuk kekuatan sendiri: berdikari secara ekonomi, politik, dan budaya.

Kini, setelah lebih dari enam dekade, ide NEFO itu menemukan relevansinya kembali ketika beberapa negara Asia mulai “buang dolar” dari sistem transaksi mereka. Ini bukan hanya tentang diversifikasi mata uang, tapi tentang pembebasan dari jeratan sistem finansial yang selama ini didikte Amerika.

Langkah seperti yang dilakukan China, India, Malaysia, bahkan Indonesiayang mulai memperluas transaksi bilateral menggunakan mata uang local adalah bentuk perlawanan modern terhadap dominasi dolar. Dalam data IMF menunjukkan per kuartal IV-2024, porsi dolar AS menyentuh angka 57,8% sebagai penguasa cadangan devisa global, porsi dolar dalam cadangan devisa dunia memang masih dominan, namun perlahan mulai tergerus. Hal ini menunjukkan bahwa poros dunia mulai bergeser dari monopoli Amerika menuju tatanan yang lebih multipolar.

Bung Karno tentu akan membaca fenomena ini sebagai bentuk perlawanan struktural. Baginya, penjajahan bukan selalu tentang pasukan atau perang, tapi bagaimana sistem dan aturan global memaksa negara-negara berkembang untuk tunduk. Dolar selama ini bukan sekadar alat tukar, tapi simbol kekuasaan. Ketika negara-negara Asia mulai mengabaikan dolar, artinya mereka sedang mengancam hegemoni itu secara langsung.

Baca juga :  Minyak, Ego, dan Amerika yang Lelah

Yang menarik, gerakan ini tidak lagi lahir dari ideologi yang keras seperti pada masa Bung Karno, melainkan dari kebutuhan rasional untuk melindungi stabilitas ekonomi nasional. Inilah wajah baru NEFO lebih cair, lebih taktis, dan lebih terintegrasi dalam sistem global. Tanpa harus keluar dari tatanan internasional, negara-negara Asia mampu menciptakan poros kekuatan yang tidak lagi bergantung pada adidaya manapun.

Ini adalah perlawanan cerdas: bukan dengan senjata, bukan dengan propaganda keras, tapi lewat pergeseran aliran modal dan transaksi harian yang menggerus kekuatan dolar secara perlahan. Indonesia dan Asia kini tidak hanya menjadi pasar, tapi juga mulai membentuk aturan main sendiri. Inilah makna sejati kemerdekaan yang dulu diteriakkan Bung Karno: berdikari secara ekonomi, politik, dan budaya.

Buang dolar bukan semata tren. Ia adalah kelanjutan dari perjuangan panjang melawan bentuk-bentuk kolonialisme modern. Dan barangkali, inilah saatnya NEFO benar-benar hidup kembali dalam format yang relevan dengan zaman.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments