Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Perang antara Israel dan Iran kian memanas. Diawali dengan serangan besar-besaran Israel terhadap lebih dari 200 target nuklir dan militer di berbagai wilayah Iran pada Jumat (13/6), perang berkobar menjadi lebih dahsyat setelah Iran membalas serangan Israel melalui rentetan serangan drone dan rudal ke wilayah negeri Zionis itu.
Saling serang antara kedua negara ini pun telah memakan korban dari kedua pihak. Israel sebagai simbol negara agresor atau imperialis seakan telah mendapatkan lawan sepadan: Iran.
Secara langsung atau tak langsung, Iran menjadi ‘sandaran’ bagi para pihak yang muak pada perilaku keji Israel selama ini, khususnya selama hampir dua tahun terakhir. Para pihak yang anti Israel ini sejatinya terdiri dari beragam spektrum politik-ideologi, seperti kaum Islamis maupun kalangan anti imperialis secara umum.
Bila dianalisis secara mendalam, adanya konflik Iran-Israel sebetulnya mengandung dampak positif bagi situasi sosial politik di Indonesia.
Mengapa?
Seperti diketahui, Iran merupakan negara di Kawasan Timur Tengah yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam bermazhab Syiah. Worldometer mencatat jumlah penduduk Iran yang menganut Islam Syiah mencapai sekitar 90% sampai 95% penduduk. Sementara, sekitar 4%-8% dari populasi Iran adalah Muslim Sunni.
Di Indonesia, komunitas penganut Islam Syiah merupakan minoritas secara kuantitas. Dan untuk diketahui, komunitas ini kerap mendapat persekusi dari kelompok-kelompok tertentu karena dianggap sesat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Juli 2024, misalnya, perayaan puncak Asyura atau Haul Imam Husein yang digelar jamaah Syiah di Bandung mendapat penolakan dari sekelompok orang. Lalu, bila kita ‘melintasi’ waktu, pada 2013 peringatan Asyura di Bandung juga mendapat penolakan dari 23 ormas.
Penolakan Asyura bukan saja terjadi Bandung. Perayaan Asyura di Semarang dan Solo pada 2017 dan 2018 lalu juga mendapatkan gelombang penolakan dari sejumlah ormas berlabel Islam. Sementara di Sulawesi Selatan, pada 2020, perayaan Asyura juga ditolak ormas-ornas Islam setempat.
Persekusi, serta bahkan pengusiran warga Syiah yang ‘fenomenal’ tentu saja terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur pada 2011. Mereka harus terusir dari tanah kelahirannya selama lebih dari satu dekade.
Jadi, sentimen anti Syiah merupakan permasalahan sosial yang serius bagi bangsa ini.
Disisi lain, sentimen anti Israel di masyarakat Indonesia pun sangat tinggi. Hal ini tak terlepas dari keberpihakan mayoritas rakyat Indonesia pada perjuangan Palestina, yang hingga kini masih ditindas zionis Israel.
Dan keberanian Iran sejalan dengan keinginan mayoritas penduduk Indonesia, bahkan warga muslim dunia maupun semua kalangan yang anti imperialisme.
Tindakan Iran yang merupakan negeri dengan penduduk mayoritas penganut ‘Syiah’ itu, dalam melawan Israel secara nyata, akan membuat negeri Ayatollah Ali Khamenei tersebut dipandang sebagai ‘pahlawan’ oleh masyarakat muslim dunia maupun siapapun yang mendukung Palestina.
Dukungan ini berpotensi menurunkan sentimen anti syiah di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir terjangkiti sentimen tersebut.
Mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim pasti mendukung keberanian Iran untuk berperang dengan Israel. Dan dukungan terhadap Iran ini, bisa meredakan sentimen anti Syiah di negeri ini. Semoga.



