Esteria Tamba
(Aktivis,Penulis)
Program biodiesel B40, yang diterapkan sejak Januari 2025 dengan alokasi 15,6 juta kiloliter, menjanjikan penghematan devisa hingga Rp147 triliun dan penurunan emisi CO2 sebesar 27,18 juta ton.
Pemerintah memposisikannya sebagai solusi strategis untuk mengurangi impor solar hingga 60% campuran CPO, menciptakan nilai tambah Rp14,26 triliun bagi industri sawit domestik. Namun, di balik manfaat ekonomi ini, biodiesel justru memperburuk ketidakadilan lingkungan dan sosial, menjadikannya bukan solusi akhir, melainkan jembatan sementara yang rapuh.
Secara ekonomi, biodiesel memang mendongkrak kemandirian energi. Produksi CPO Indonesia mencapai 48,09 juta ton hingga Oktober 2025, dengan konsumsi biodiesel menyerap 51% dari total domestik atau 9,41 juta ton pada sembilan bulan pertama. Ini menyerap stok CPO berlebih akibat boikot Uni Eropa via RED II, yang membatasi impor sawit karena risiko deforestasi, sehingga menjaga harga stabil bagi 40% petani sawit rakyat.
Dibanding solar fosil, B40 menurunkan emisi jelaga, CO, dan NOx berkat oksigen alami CPO, dengan efisiensi mesin hampir setara meski konsumsi bahan bakar naik 2-3%. Penghematan devisa Rp60 triliun pada semester I 2025 membuktikan peran biodiesel sebagai “jembatan transisi” sambil menunggu PLTS dan kendaraan listrik matang.
Namun, kritik tajam muncul dari sisi lingkungan dan pangan. Deforestasi akibat ekspansi sawit naik 36% menjadi 30.000 hektare pada 2023, terutama di rawa gambut Kalimantan dan Papua, dengan netto 175.000-250.000 hektare hilang pada 2023-2024. Sawit memang efisien menghasilkan 36% minyak nabati global dari hanya 8,6% lahan tapi mandat B40 mendorong perluasan lahan tidak berkelanjutan, berkontribusi 6,4% deforestasi minyak nabati dunia.
Lebih parah, biodiesel menyerap 13,6 juta ton CPO pada 2025, sementara produksi nasional 47 juta ton tahun sebelumnya hanya sisakan 16% untuk minyak goreng memicu kelangkaan 2022 yang disalahkan pada distribusi, bukan biodiesel itu sendiri. Ini menciptakan konflik pangan: sumber daya sawit diprioritaskan energi daripada makanan, mengancam ketahanan pangan petani kecil.
Biodiesel bukan musuh, tapi korban kebijakan parsial. Alih-alih bergantung sawit monokultur, Indonesia bisa diversifikasi ke biodiesel mikroalga atau jelantah, yang emisi netonya nol dan tak bergantung lahan hutan.
Brasil capai B15 dari kedelai tanpa deforestasi masif, sementara Malaysia stuck B20. Dengan 1,9 juta tenaga kerja sawit terancam UE, pemerintah harus integrasikan RSPO ketat dan subsidi diversifikasi, ubah B40 dari “racikan hangat” jadi katalisator berkelanjutan. Tanpa itu, manfaat ekonomi B40 hanya topeng bagi kehancuran ekosistem jangka panjang.
Redaksi Energi Juang News



