Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaPapua: Konflik yang Tak Pernah Selesai, Hanya Berganti Bentuk

Papua: Konflik yang Tak Pernah Selesai, Hanya Berganti Bentuk


Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Penembakan pesawat sipil milik Smart Air di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, kembali mengingatkan bahwa Papua belum pernah benar-benar tenang. Dua awak pesawat meninggal, sementara belasan penumpang sipil berlari menyelamatkan diri ke hutan di sekitar landasan. Peristiwa itu segera memunculkan dua narasi yang selalu muncul setiap kali kekerasan terjadi di Papua. Kelompok TPNPB-OPM menganggap pesawat sebagai target sah karena dicurigai membawa aparat, sedangkan Tentara Nasional Indonesia menegaskan pesawat itu murni mengangkut warga sipil. Di titik inilah konflik Papua selalu berulang: bukan hanya baku tembak, tetapi perang kebenaran.

Papua bukan wilayah dengan konflik terbuka seperti perang konvensional. Ia lebih menyerupai luka yang tidak pernah sembuh. Kadang mengering, lalu terbuka lagi di tempat berbeda. Dahulu konflik identik dengan pertempuran di pegunungan, kini bergeser ke ruang kehidupan sehari-hari. Bandara kecil, pesawat perintis, guru, bahkan tenaga kesehatan menjadi bagian dari ketegangan. Transportasi udara di Papua bukan sekadar fasilitas, melainkan jalur hidup masyarakat di wilayah yang sulit ditembus darat. Ketika pesawat ditembak, yang terganggu bukan hanya negara, tetapi logistik, pendidikan, layanan medis, dan rasa aman warga.

Setiap pihak memiliki logika sendiri. Negara melihat tindakan bersenjata sebagai kriminalitas yang mengancam kedaulatan dan keselamatan publik. Kelompok bersenjata melihat kehadiran negara sebagai simbol kekuasaan yang mereka tolak. Di antara dua keyakinan itu berdiri masyarakat sipil yang tidak sedang memperjuangkan ideologi apa pun, melainkan hanya ingin hidup normal. Namun justru mereka yang paling sering menjadi korban, baik karena serangan maupun karena operasi keamanan setelahnya.

Selama puluhan tahun, respons terhadap konflik Papua lebih sering berbentuk pengamanan. Ketika terjadi penyerangan, aparat mengejar pelaku. Ketika pengejaran terjadi, ketegangan meningkat. Ketika ketegangan meningkat, kepercayaan masyarakat menurun. Lingkaran itu berulang. Insiden berganti, tetapi polanya tetap sama. Kekerasan bukan selalu besar, namun cukup sering untuk membuat rasa aman tidak pernah stabil.

Masalah mendasarnya bukan sekadar senjata, melainkan kepercayaan. Sebagian masyarakat Papua masih memandang kehadiran negara sebagai sesuatu yang jauh, bahkan asing. Sementara negara memandang stabilitas sebagai prasyarat pembangunan. Dua pandangan itu berjalan bersamaan tanpa ruang temu yang benar-benar dipercaya semua pihak. Akibatnya, setiap peristiwa selalu dibaca dengan cara berbeda. Satu peluru bisa dimaknai sebagai teror atau perlawanan, tergantung siapa yang melihat.

Penembakan pesawat hanyalah satu episode terbaru. Sebelumnya sekolah pernah ditutup, tenaga kesehatan ditarik, dan kampung kosong karena warga mengungsi. Konflik Papua tidak pernah berhenti karena ia tidak berdiri pada satu kejadian, melainkan pada rasa saling curiga yang diwariskan bertahun-tahun. Selama penyelesaiannya hanya hadir setelah peluru dilepaskan, konflik akan terus muncul kembali dengan bentuk baru.

Papua pada akhirnya bukan hanya soal keamanan wilayah, tetapi soal hubungan negara dan warganya. Dan selama hubungan itu belum pulih, ketenangan di Papua akan selalu sementara reda, lalu kembali menyala.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments