Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Kasus yang saat ini ramai tentang Safeea Ahmad, putri dari Ahmad Dhani dan Mulan Jameela, menjadi bukti nyata bahwa masyarakat kita masih terjebak dalam mentalitas double standard yang bias gender dan sarat kekerasan psikologis.
Perempuan dan anak perempuan masih menjadi sasaran empuk hujatan publik, seolah-olah mereka harus menanggung dosa sosial yang diwariskan dari konflik orang dewasa. Ironisnya, laki-laki yang sering kali memegang peran penting dalam konflik rumah tangga justru sering luput dari hukuman moral yang sepadan.
Kita bisa melihat bagaimana Ahmad Dhani tetap eksis di panggung politik dan media tanpa bayang-bayang masa lalunya. Ia tetap diterima dengan penuh percaya diri oleh publik. Sebaliknya, Mulan Jameela hingga kini masih diseret dalam narasi “pelakor”, meski peristiwa yang memicunya sudah bertahun-tahun berlalu. Bahkan Maya Estianty, mantan istri Ahmad Dhani, sering diposisikan sebagai “korban elegan”, tapi secara tidak langsung dibebankan untuk terus memelihara luka itu sebagai simbol kesetiaan dan kesabaran.
Yang paling menyedihkan adalah ketika stigma itu tidak berhenti di orang tua saja, tapi juga diwariskan kepada anak. Safeea Ahmad kini menjadi korban hujatan dengan sebutan “anak pelakor” atau “anak gundik”. Ini adalah bentuk kekerasan siber (cyber gender-based violence) yang berbahaya, bukan hanya secara sosial tapi juga secara psikologis bagi anak. Masyarakat gagal membedakan konflik orang dewasa dengan hak seorang anak untuk hidup bebas dari stigma dan tekanan sosial.
Ketika publik dengan mudahnya melemparkan label seksis kepada anak, sebenarnya mereka sedang mengulang pola kekerasan struktural yang diwariskan oleh sistem patriarki. Dalam sistem ini, reputasi keluarga dan beban moral hampir selalu dibebankan kepada perempuan dan anak perempuan. Ayah jarang menjadi sasaran utama dari stigma sosial. Seolah-olah dosa moral hanya diwariskan melalui ibu, dan perempuanlah yang harus menanggung aib sebuah konflik keluarga.
Masalahnya, hujatan ini bukan sekadar komentar iseng. Ini adalah pelanggaran prinsip perlindungan anak. Anak, siapa pun dia, berhak tumbuh tanpa dibebani stigma sosial yang diciptakan oleh orang dewasa di masa lalu. Mereka tidak punya andil dalam keputusan orang tuanya, apalagi dalam konflik yang tak pernah mereka pilih untuk lahir di dalamnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih memuja standar ganda dalam menilai moralitas. Laki-laki lebih sering dimaafkan dan diberikan ruang kedua, sementara perempuan — dan bahkan anak perempuan — harus menanggung hukuman sosial yang berlapis dan sering kali seumur hidup.
Ini saatnya kita mengubah sudut pandang. Konflik rumah tangga publik figur memang menarik perhatian, tapi bukan berarti kita berhak mewariskan trauma dan stigma kepada generasi berikutnya. Anak-anak berhak dibebaskan dari bayang-bayang masa lalu orang tuanya. Kita harus berhenti menjadi bagian dari kekerasan siber yang semakin melanggengkan ketidakadilan gender dan menormalisasi kekerasan psikologis pada anak.
Kasus Safeea bukan hanya tentang satu keluarga, tapi cermin tentang siapa kita sebagai masyarakat. Apakah kita masih mau menjadi penonton yang menertawakan luka orang lain? Atau mulai berani menjadi orang yang membela anak-anak yang tidak pernah memilih untuk lahir dalam konflik sosial orang dewasa?
Sudah waktunya kita membuang standar ganda itu. Karena jika kita tidak membebaskan anak-anak dari beban ini, berarti kita sedang menyiapkan generasi yang tumbuh dengan luka yang kita buat sendiri.
Redaksi Energi Juang News



