Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaPergerakanMahasiswa dan Krisis Fungsi Kontrol Sosial: Belajar dari Demo di Pati

Mahasiswa dan Krisis Fungsi Kontrol Sosial: Belajar dari Demo di Pati

Oleh: Iranto
(Aktivis, Social Media Specialist)

Energi Juang News, Jakarta-Demonstrasi besar yang akhir-akhir ini terjadi di Pati, Jawa Tengah, menjadi potret menarik sekaligus ironi. Ribuan warga turun ke jalan menuntut pemakzulan Bupati Sudewo karena kebijakannya yang menaikan PBB 250%. Aksi itu berlangsung masif, penuh risiko, dan benar-benar digerakkan oleh masyarakat akar rumput.

Pertanyaannya: di mana mahasiswa?

Tradisi panjang gerakan mahasiswa Indonesia sejak era 1966 hingga Reformasi 1998 selalu menempatkan mereka sebagai garda depan perlawanan rakyat. Mereka adalah motor yang menghubungkan suara masyarakat dengan ruang kekuasaan. Namun, kasus di Pati justru menunjukkan pergeseran: masyarakat berjuang sendiri, sementara mahasiswa absen sebagai penggerak utama.

Ketiadaan inisiatif mahasiswa dalam demonstrasi semacam itu memberi sinyal serius: fungsi kontrol sosial mahasiswa kian melemah. Ada beberapa faktor yang menyumbang kondisi ini. Pertama, mahasiswa mengalami depolitisasi di dalam kampus. Regulasi yang mengekang organisasi, budaya akademik yang pragmatis, hingga tekanan birokrasi membuat ruang kritis semakin sempit. Kedua, mahasiswa kehilangan kedekatan dengan persoalan rakyat. Ketika biaya hidup petani kian berat atau lingkungan rusak oleh investasi rakus, mahasiswa justru lebih sibuk dengan isu-isu internal organisasi, seminar seremonial, atau kompetisi karier.

Padahal, fungsi mahasiswa sebagai moral force adalah menjadi penyeimbang kekuasaan. Mereka bukan sekadar kelompok intelektual yang mengamati dari menara gading, tetapi juga suara lantang yang menyalurkan aspirasi publik. Jika masyarakat di Pati berjuang sendirian, itu menandakan mahasiswa gagal memainkan peran penghubung. Mereka kehilangan relevansi sebagai penggerak perubahan.

Kritik pentingnya: mahasiswa kini lebih sering hadir sebagai pengikut, bukan penggerak. Mereka turun ke jalan bila isu sudah viral, bukan karena kepekaan nurani terhadap ketidakadilan. Padahal, justru keberanian menginisiasi gerakanlah yang membedakan mahasiswa dari kelompok lain.

Baca juga :  HMI Desak Dirjen Minerba Hentikan Operasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara

Ke depan, arah pergerakan mahasiswa akan ditentukan oleh sejauh mana mereka mau kembali menyatu dengan rakyat. Kasus Pati bisa menjadi cermin keras: bila mahasiswa tetap absen, rakyat akan mencari jalannya sendiri. Dan bila itu terus terjadi, sejarah hanya akan mengenang mahasiswa sebagai generasi yang memilih diam ketika suara perubahan dipanggil.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments