Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaTanahnya Turun, Gedungnya Naik. Kapan Jakarta Sadar?

Tanahnya Turun, Gedungnya Naik. Kapan Jakarta Sadar?

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Selama ini setiap kali banjir datang, pemerintah langsung heboh seperti panitia acara dadakan: ada rapat mendadak, pasang pompa air di sana-sini, dan tentu modifikasi cuaca biar hujan “digeser” ke tempat lain. Padahal masalah utamanya bukan sekadar air hujan yang kebanyakan, tapi tanah Jakarta sendiri yang malah turun mesin.

Bayangkan, sejak 1974 sampai kini, permukaan tanah di Jakarta turun sekitar 4,5 meter. Artinya kalau dulu rumah kamu dua lantai, sekarang mungkin sudah terasa seperti satu setengah. Dan yang menakutkan, laju penurunan itu bisa mencapai 17 cm per tahun. Kalau terus begini, prediksi bahwa 95% wilayah Jakarta Utara bakal terendam sebelum 2050 bukan lagi sekadar teori konspirasi itu peringatan keras.

Penyebab utamanya? Ya, kebiasaan menyedot air tanah berlebihan. Lebih dari 30% warga Jakarta masih mengandalkan air tanah karena layanan air bersih PAM Jaya baru menjangkau sekitar 68% warga. Jadi, jangan heran kalau tanah makin kering di dalam, tapi makin “tenggelam” di luar. Ironinya, kita sibuk memperbanyak sumur bor, padahal yang ditenggelamkan bukan cuma rumah tapi masa depan kota.

Baca juga : Sekolah: Tempat Didik atau Tempat Ribut?

Belum lagi godaan gedung pencakar langit. Jakarta punya ratusan bangunan tinggi menjulang, seolah ingin menantang langit padahal tanah di bawahnya malah nyaris rebah. Sama seperti orang yang memaksakan berdiri di karpet bolong, lama-lama ya ambles juga. Ditambah lagi efek pemanasan global: es di kutub mencair, laut naik, dan Jakarta makin sering disebut “kota di bawah laut masa depan”.

Tanahnya Turun, Gedungnya Naik: Mengapa Jakarta Kian Terancam Tenggelam?

Pemerintah memang sudah mulai membangun tanggul raksasa di utara Jakarta, tapi mari jujur: tanggul hanya solusi setengah hati bila masalah dasarnya tidak dibereskan. Ibarat memakai ember kecil untuk menampung air di kapal yang bocor; usaha bagus, tapi kapal tetap tenggelam kalau lubangnya tidak ditutup.

Harusnya pemerintah lebih fokus ke hilir ke sistem drainase, pengelolaan pompa, dan pengawasan bangunan. Tapi yang lebih penting, fokus juga ke perubahan perilaku masyarakat dan industri. Setop sedot air tanah, tambah jaringan air bersih, bangun sistem resapan, dan tata ulang kota dengan akal sehat, bukan hanya dengan izin menara baru.

Dari Reaktif ke Visioner: Langkah Panjang Menyelamatkan Jakarta dari Tenggelam

Ini bukan lagi soal musim hujan atau curah hujan ekstrem. Ini soal Jakarta yang sudah “haus” secara harfiah dan struktural. Kalau tidak segera ada langkah panjang dan serius, jangan heran nanti kita butuh perahu, bukan motor, untuk berangkat kerja. Modifikasi cuaca boleh jadi solusi jangka pendek, tapi memperbaiki cara kita memperlakukan bumi Jakarta adalah satu-satunya solusi jangka panjang yang masuk akal.

Jadi, sebelum Jakarta benar-benar berubah jadi “Venesia Asia” (tapi tanpa romantismenya), sudah seharusnya Pemda berhenti beraksi hanya saat air naik. Saatnya berpikir bukan hanya bagaimana mengeringkan genangan, tapi bagaimana menghentikan tenggelamnya kota sebelum terlambat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments