Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Kabar bahwa pemerintah akan mengukur kecerdasan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan beragam reaksi di masyarakat. Selama ini, MBG dipahami sebagai langkah konkret pemerintah untuk menekan angka stunting dan memperbaiki gizi anak-anak sekolah. Namun, ketika alat ukur yang digunakan justru bergeser ke arah kecerdasan atau IQ, muncul pertanyaan kritis: apakah MBG memang dirancang untuk menaikkan IQ, atau malah ada kekhawatiran bahwa program ini belum menyentuh akar persoalan sesungguhnya?
Skala Besar MBG dan Kegelisahan soal Rata-rata IQ Anak Indonesia
Hingga awal 2026, program MBG disebut telah menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat, dengan target peningkatan hingga 82,9 juta tahun ini. Angka tersebut luar biasa besar menunjukkan ambisi pemerintah dalam membangun generasi sehat. Namun, data dari Deputi BGN yang menyebut rata-rata IQ anak Indonesia hanya 78, terendah di ASEAN, membuat banyak pihak cemas. Pertanyaan pun muncul: apakah kualitas gizi yang diberikan benar-benar mampu menunjang perkembangan otak anak, atau jangan-jangan justru ada masalah di lapangan mulai dari bahan pangan yang tercemar, distribusi yang tidak higienis, hingga pengawasan yang lemah?
Secara ilmiah, gizi memang berperan penting terhadap perkembangan otak. Asupan protein, zat besi, omega-3, dan vitamin esensial menjadi fondasi bagi kemampuan kognitif anak. Namun, kecerdasan tidak hanya dipengaruhi oleh makanan. Faktor lingkungan, stimulasi belajar, kualitas pendidikan, hingga stres sosial juga punya peran besar. Karena itu, mengukur efek MBG dengan tes IQ bisa jadi menarik sekaligus berisiko. Menarik karena bisa memberi data empiris tentang hubungan antara pangan bergizi dan perkembangan mental; berisiko karena bisa menimbulkan kesimpulan sempit seolah-olah gizi adalah satu-satunya penentu kecerdasan.
Baca juga : Polwan Impian Jambi: Diperkosa Oknum Polisi Sendiri
Lebih jauh, perlu diwaspadai pula kemungkinan efek sebaliknya. Jika bahan baku makanan dalam program MBG tidak sepenuhnya aman misalnya terpapar logam berat, pestisida, atau bahan kimia dari pengolahan massal maka bukan hanya stunting yang mengancam, tapi juga gangguan fungsi otak. Dengan kata lain, program yang niatnya meningkatkan kecerdasan bisa berujung menurunkannya bila pengawasan lemah. Maka, tes kecerdasan ini harus dijalankan bersamaan dengan audit ketat atas kualitas makanan di lapangan.
Kita tentu berharap hasil tes nanti bisa menjadi refleksi, bukan hanya evaluasi angka. Bila ternyata IQ anak-anak masih rendah, jangan buru-buru menyalahkan programnya. Itu bisa jadi sinyal untuk memperbaiki kualitas gizi, kurikulum pendidikan, maupun kondisi sosial ekonomi. Sebaliknya, jika hasilnya meningkat, itu menjadi bukti bahwa kebijakan gizi publik berdampak nyata bagi masa depan bangsa.
Bagi pembaca yang penasaran ingin mengetahui tingkat kecerdasan sendiri, Anda bisa mencoba tes IQ online gratis di situs berikut: World Wide IQ Test. Tes ini bukan pengganti penilaian profesional, tapi bisa memberi gambaran seberapa baik kemampuan logika dan penalaran Anda saat ini.
Pada akhirnya, program MBG tidak boleh hanya sekadar memberi makan, tapi juga memberi masa depan. Karena anak yang kenyang memang penting, tapi anak yang cerdas dan berpikir jernih itulah kunci kemajuan bangsa.
Redaksi Energi Juang News



