Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Seringkali kita menoleh ke Barat untuk mencari definisi “keren”. Kita mengadopsi festival musik internasional atau gaya hidup urban demi menarik minat wisatawan. Namun, Bali mengajarkan kita hal yang kontradiktif namun manjur: semakin kita menggali akar tradisi sendiri, semakin dunia akan menoleh dengan rasa kagum. Salah satu bukti nyatanya adalah Ogoh-Ogoh.
Bukan Sekadar Patung, Tapi Manifestasi Diri
Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak untuk tontonan. Secara filosofis, ia adalah representasi Bhuta Kala simbol energi negatif dan sifat destruktif dalam diri manusia. Tradisi yang mulai masif sejak tahun 1980-an ini mengajarkan bahwa keburukan tidak bisa dihapus total, namun harus dikenali, dikendalikan, dan akhirnya “dinetralisir”.
Inilah poin penting bagi daerah lain di Nusantara: Budaya harus memiliki kedalaman makna. Wisatawan masa kini tidak lagi mencari objek foto yang kosong; mereka mencari pengalaman spiritual dan edukasi nilai. Ketika ogoh-ogoh dibakar setelah diarak, itu adalah simbol pemusnahan sifat buruk sebelum memasuki heningnya Nyepi. Narasi kuat seperti inilah yang membuat sebuah tradisi menjadi ikonik.
Kreativitas Tanpa Kehilangan Jati Diri
Menariknya, ogoh-ogoh menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kaku. Jika dulu dibuat dari bahan keras, kini para pemuda Bali (Sekaa Teruna-Teruni) berinovasi menggunakan bambu, kertas, dan bahan ramah lingkungan. Bahkan, bentuknya pun beradaptasi—mulai dari makhluk mitologi hingga kritik sosial terhadap tokoh publik.
Ini adalah pesan bagi daerah lain: Jangan takut berinovasi. Memperkaya budaya sendiri bukan berarti anti-modernitas. Kita bisa menggunakan teknologi pencahayaan terkini atau material modern untuk mengemas tari piring, reog, atau pawai budaya lokal lainnya, selama akar filosofisnya tetap terjaga. Ogoh-ogoh menjadi keren justru karena ia “berdialog” dengan zaman, bukan sekadar meniru tren luar negeri.
Gotong Royong: Mesin Penggerak Budaya
Kehebatan ogoh-ogoh terletak pada prosesnya. Ia lahir dari urunan dana, diskusi konsep, hingga pengerjaan teknis yang melibatkan seluruh elemen desa. Inilah yang disebut “kedaulatan budaya”. Daerah lain di Indonesia memiliki modal sosial serupa, seperti Pela Gandong di Maluku atau Mapalus di Minahasa.
Jika daerah-daerah di Nusantara mampu mengaktifkan kembali peran generasi muda untuk menciptakan “ikon” di daerahnya masing-masing secara gotong royong, maka pariwisata akan tumbuh secara organik. Wisatawan akan datang untuk melihat otentisitas, bukan imitasi budaya Barat.
Menjadikan Nusantara Pusat Perhatian
Menghargai budaya berarti merawatnya dengan kesadaran, bukan sekadar menjadikannya komoditas. Bali telah membuktikan bahwa dengan menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, sebuah tradisi kecil bisa mendunia.
Sudah saatnya daerah lain di Nusantara berhenti menjadi pengekor tren global dan mulai menggali “emas” di halaman rumah sendiri. Mari ciptakan “ogoh-ogoh” versi daerah kita masing-masing sebuah karya yang berakar pada tradisi, tumbuh dengan kreativitas, dan bersinar karena identitas yang jujur.
Redaksi Energi Juang News



