Senin, Juni 8, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaMembedah Lipstick Effect: Mengapa Kita Tetap ‘Ngopi’ Saat Dollar Mencekik?

Membedah Lipstick Effect: Mengapa Kita Tetap ‘Ngopi’ Saat Dollar Mencekik?

Pagi ini, angka di layar monitor menunjukkan realitas yang menantang dengan nilai 1 US Dollar setara dengan Rp18.190. Bagi banyak orang, angka ini membunyikan alarm peringatan tentang daya beli yang tergerus dan inflasi yang mengancam.

Namun, jika kita melangkah keluar ke pusat perbelanjaan atau kedai kopi kekinian, pemandangan yang tersaji justru kontras karena antrean tetap panjang dan transaksi digital terus berputar seolah gaya hidup masyarakat tidak tersentuh oleh fluktuasi kurs yang tajam. Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui konsep psikologis ekonomi yang dikenal sebagai Lipstick Effect.

Lipstick Effect: “Kemewahan Kecil” di Tengah Krisis

Istilah Lipstick Effect pertama kali dipopulerkan oleh Leonard Lauder dari Estée Lauder saat mengamati kenaikan penjualan lipstik di tengah krisis ekonomi. Secara psikologis, ketika masyarakat merasa tidak mampu lagi membeli “kemewahan besar” seperti properti, kendaraan, atau liburan mewah karena nilai tukar yang merosot dan ketidakpastian ekonomi, mereka secara naluriah mengalihkan keinginan tersebut pada “kemewahan kecil”.

Membeli secangkir kopi seharga Rp40.000 atau produk perawatan kulit tidak akan membuat seseorang bangkrut, namun tindakan tersebut memberikan suntikan dopamin dan rasa kendali di tengah tekanan ekonomi yang besar. Masyarakat tetap berbelanja bukan karena mereka tidak terdampak, tetapi karena mereka membutuhkan pelarian emosional yang terjangkau sebagai mekanisme pertahanan diri.

Rupiah Melemah, Kok Ekonomi dan Mal Masih Ramai?

Lebih jauh lagi, perlu dipahami bahwa pelemahan Rupiah terhadap Dollar tidak serta merta menjadi lonceng kematian bagi ekonomi sebuah negara. Indonesia memiliki beberapa bantalan kuat yang membuat ekonomi tetap resilien, seperti basis konsumsi rumah tangga yang sangat masif.

Karena sebagian besar perputaran ekonomi terjadi di dalam negeri dan tidak bergantung sepenuhnya pada barang impor, perilaku masyarakat yang tetap belanja dan berkegiatan sosial justru menjaga roda ekonomi domestik tetap berputar stabil. Selain itu, Indonesia kini memiliki diversifikasi ekspor yang lebih baik, di mana eksportir dalam negeri justru dapat diuntungkan oleh nilai tukar yang tinggi saat produk mereka dijual ke pasar internasional.

Baca juga :  Menakar Papua: Melampaui Polarisasi dan Mengedepankan Objektivitas

Stabilitas negara juga didukung oleh kebijakan moneter yang pruden dari Bank Indonesia dalam menjaga cadangan devisa, serta pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan digital yang memiliki ketergantungan lebih rendah terhadap bahan baku impor dibandingkan industri manufaktur berat.

Pada akhirnya, Lipstick Effect adalah bukti bahwa manusia bukanlah kalkulator ekonomi yang kaku, karena kita tetap membutuhkan hiburan dan kenyamanan di masa sulit. Selama ekonomi domestik tetap bergairah dan fundamental makro terjaga, Indonesia akan terus mampu bertahan menghadapi fluktuasi nilai tukar melalui adaptasi psikologis masyarakat maupun penguatan pasar di dalam negeri.

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments