Jumat, Juni 12, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaFenomena #SellSingapore: Ketika Modal Pulang ke Rumah Sendiri

Fenomena #SellSingapore: Ketika Modal Pulang ke Rumah Sendiri

Media Singapura sempat menyoroti tekanan di pasar keuangan Indonesia dengan narasi “Sell Indonesia”. Namun, alih-alih meredup, narasi tersebut justru berbalik arah. Kini, muncul fenomena menarik yang mengguncang jagat finansial: tagar #SellSingapore ramai diperbincangkan netizen sebagai respons atas langkah sejumlah konglomerat besar Indonesia yang mulai melepas aset premium mereka di Singapura untuk mengalihkan investasi ke dalam negeri.

Salah satu langkah yang paling menyita perhatian adalah upaya keluarga Mochtar Riady melalui OUE Commercial REIT yang dilaporkan mencari pembeli untuk One Raffles Place. Gedung ikonik di jantung distrik bisnis Singapura ini memiliki nilai fantastis, mencapai sekitar S$2,4 miliar. Tak hanya itu, pengusaha Sukanto Tanoto juga dikabarkan mulai mendivestasi sejumlah aset properti di negara tersebut. Bagi banyak analis, langkah ini merupakan bentuk nyata reposisi portofolio strategis di tengah perubahan dinamika ekonomi kawasan.

Sinergi Kebijakan dan Repatriasi Modal

Pergeseran fokus investasi ini bukanlah kebetulan. Pemerintah Indonesia kini tengah gencar melakukan perbaikan fundamental ekonomi, salah satunya melalui penyempurnaan aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Melalui sistem ekspor satu pintu yang lebih ketat, pemerintah mewajibkan dana hasil ekspor untuk lebih banyak ditempatkan dan diputar di dalam negeri.

Langkah ini diperkuat dengan diplomasi ekonomi yang dilakukan Presiden Prabowo, yang secara intensif merangkul kelompok pengusaha besar nasional untuk terlibat langsung dalam pengembangan industri strategis domestik. Kebijakan ini menciptakan insentif yang jauh lebih menarik bagi modal domestik untuk kembali ke tanah air dibandingkan membiarkannya terparkir di luar negeri.

Singapura di Titik Jenuh

Di sisi lain, daya tarik Singapura sebagai “pelabuhan aman” mulai diuji oleh tantangan domestiknya sendiri. Ekonomi Singapura tengah menghadapi perlambatan pertumbuhan, sementara pasar properti menunjukkan tanda-tanda stagnasi akibat serangkaian kebijakan pengetatan yang dilakukan pemerintah setempat. Kondisi ini membuat para investor besar mulai menghitung ulang prospek pertumbuhan aset mereka. Ketika yield atau imbal hasil di Singapura melandai, peluang investasi di Indonesia yang sedang tumbuh pesat menjadi magnet yang sulit diabaikan.

Baca juga :  Jebakan Paradoks: OTT KPK dan Akar Korupsi yang Mengakar Kuat

Bukan Sekadar Tren Media Sosial

Fenomena #SellSingapore memang belum bisa diartikan sebagai eksodus modal besar-besaran dari Singapura ke Indonesia. Namun, kemunculan tren ini menandakan perubahan psikologi pasar yang signifikan. Kepercayaan diri investor domestik terhadap prospek ekonomi Indonesia mulai menguat, didorong oleh kepastian regulasi dan potensi pasar yang belum tergarap optimal.

Pada akhirnya, #SellSingapore bukan sekadar “balas dendam” di media sosial. Ini adalah refleksi dari sebuah realitas ekonomi baru di mana modal mulai mencari rumah yang memberikan pertumbuhan jangka panjang yang lebih pasti. Ketika para konglomerat memilih untuk “pulang,” ini menjadi sinyal positif bagi optimisme ekonomi Indonesia ke depannya.

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments