Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaPentingnya Peran Media Melawan Kekerasan Seksual

Pentingnya Peran Media Melawan Kekerasan Seksual

Oleh Iranto
(Aktivis, Social Media Specialist)

Energi Juang News, Jakarta- Berdasarkan data Komnas Perempuan Periode 2024, kasus kekerasan seksual di Indonesia masih menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.

Data terkini menunjukkan jumlah kasus kekerasan seksual yang dilaporkan ke Komnas Perempuan tahun 2024 sejumlah 445.502 kasus. Jumlah kasus ini mengalami kenaikan 43.527 kasus atausekitar 9,77% dibandingkan tahun 2023 (401.975).

Lonjakan Kasus Kekerasan Seksual dan Sikap Masyarakat

Sayangnya, respons masyarakat terhadap isu ini masih sangat beragam, dan sering kali dipengaruhi oleh latar belakang serta pengalaman pribadi masing-masing individu. Masyarakat yang pernah mengalami atau bersentuhan langsung dengan kasus kekerasan seksual cenderung memiliki empati lebih besar terhadap para korban. Sebaliknya, mereka yang belum pernah mengalami atau tidak memiliki pemahaman mendalam sering kali memandang isu ini dengan skeptisisme atau bahkan menyalahkan korban.

Seiring meningkatnya jumlah kasus, konsumsi informasi terkait kekerasan seksual pun turut meningkat. Media massa menjadi salah satu saluran utama penyebaran informasi ini. Namun, hubungan antara media dan isu kekerasan seksual tidak selalu berjalan selaras dengan prinsip keadilan gender.

Hampir tidak ada media arus utama yang tidak mengangkat isu kekerasan seksual dalam pemberitaannya. Akan tetapi, banyak di antaranya yang belum benar-benar konsisten dalam menyuarakan keberpihakan pada korban, terutama perempuan.

Dalam sejumlah pemberitaan, narasi yang disampaikan justru kerap menyudutkan korban, menempatkan perempuan sebagai objek sekaligus subjek utama dalam kekerasan yang mereka alami. Framing seperti ini tidak hanya mencederai keadilan, tapi juga memperburuk stigma terhadap korban.

Framing Media, Opini Publik, dan Dampaknya bagi Korban Kekerasan Seksual

Dalam sebuah buku yang berjudul Jungkir Balik Pers, yang ditulis oleh Nasihin Masha sering kali mengulas dalam tulisannya ” opini publik, bergantung pada bagaimana media memberikan framing pada sebuah isu”. Sederhananya, media memiliki andil yang sangat besar dalam mempengaruhi persepsi publik terhadap isu kekerasan seksual. Kecenderungan publik memojokan perempuan sebagai korban dapat diputar balikan oleh media dengan framing agar empati publik berpihak pada perempuan sebagai korban kekerasan seksual.

Baca juga :  Ketentuan Impor BBM Liberal Dirusak, Antek Asing Berteriak

Baca juga : Negara Tak Suka Dikritik? Pers Harus Dilindungi!

Media sejatinya memiliki peran besar dalam membentuk opini publik dan membangun kesadaran kolektif. Namun, kepentingan redaksi dan tekanan industri sering kali menjadikan isu kekerasan seksual sebagai komoditas pemberitaan alih-alih sebagai ruang advokasi. Ketidakkonsistenan media dalam mengangkat isu kekerasan seksual dengan perspektif korban menjadi tantangan serius yang harus diatasi.

Sudah saatnya media massa menjalankan fungsinya secara lebih bertanggung jawab. Edukasi mengenai kekerasan seksual, terutama yang menyasar perempuan sebagai kelompok paling rentan, harus menjadi prioritas. Media bukan hanya penyalur informasi, tetapi juga agen perubahan sosial. Dengan menyajikan pemberitaan yang adil, berimbang, dan berpihak pada korban, media dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih sadar, peduli, dan berpihak pada keadilan gender.

Oleh karena media mampu menggiring opini publik seperti yang diutarakan oleh Nasihin Masha, tidak menutup kemungkinan kesadaran publik atas keadilan gender dalam kasus kekerasan seksual tergugah. Pada akhirnya, edukasi yang diberikan oleh media melalui tulisannya cenderung lebih memperhatikan keadilan gender sebagai dasar Utama pemberitaan.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments