Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaPenguasaan Tokopedia Oleh Tiktok, Manifestasi Neo-Kolonialisme 4.0

Penguasaan Tokopedia Oleh Tiktok, Manifestasi Neo-Kolonialisme 4.0

Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Baru-baru ini, investigator Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menegaskan transaksi pengambilalihan saham PT Tokopedia oleh TikTok Nusantara  Pte. Ltd. berpotensi menimbulkan praktik monopoli atau persaingan usaha tidak sehat.

Penilaian ini tak terlepas dari pengambil alihan 75,01% saham Tokopedia oleh TikTok Nusantara (SG) Pte secara yuridis pada 31 Januari 2024 .

Sebagaimana diketahui, Tokopedia merupakan salah satu pemain utama e-commerce Indonesia. Sedangkan TikTok adalah platform media sosial dengan fitur belanja (Shop) yang berasal dari China.

Artinya, ada penguasaan mayoritas saham e-commerce Indonesia, oleh platform asing. Hal ini juga bermakna, bahwa pasar dari e-commerce nasional tersebut (Tokopedia), dikuasai oleh platform China (Tiktok).

Sebab, sebagaimana temuan KPPU baru-baru ini,  Tokopedia dan Tiktok sejatinya berada dalam satu pasar yang bersangkutan, yakni pasar barang fisik seperti elektronik, fashion, kebutuhan harian, hingga perabot rumah tangga.

Lalu, selaras dengan temuan KPPU pula,  kenaikan harga pasca akuisisi ini sangat berpotensi terjadi. Sebab,  kecenderungan entitas penguasa pasar untuk menaikkan harga seperti sudah menjadi ‘hukum’ dalam sistem ekonomi pasar yang membuka peluang monopoli.

Penguasaan pasar oleh Tiktok selaku platform asing ini bukanlah isapan jempol. Sejak akuisisi mayoritas saham Tokopedia oleh Tiktok tuntas, sejak itu juga semua data pengguna ekosistem Tokopedia dikuasai oleh TikTok.

Dalam industri e-commerce sebagai buah Revolusi Industri 4.0, data memang ‘amunisi’ paling ampuh untuk menguasai pasar. Pada akhir 2023 saja, database yang dimiliki Tokopedia sekitar 150 juta pengguna, yang otomatis dikuasai TikTok pasca akuisisi.

Dan data menunjukkan, penguasaan pasar pasar e-commerce Indonesia oleh pemain asing sudah terjadi sejak 2023, sebelum Tiktok resmi ‘mencaplok’ Tokopedia.

Baca juga :  Pelecehan Seksual Terhadap Anak: Negara Harus Hadir!

Momentum Works dua tahun lalu mencatat rincian porsi transaksi bruto e-commerce di Indonesia adalah:

A.) Shopee 36% atau sekitar US$ 18,7 miliar

B.) Tokopedia 35% atau setara US$ 18,1 miliar

C.) Lazada 10% atau sekitar US$ 5,19 miliar

D.)Bukalapak 10% atau setara US$ 5,19 miliar

E.) TikTok 5% atau sekitar US$ 2,6 miliar

Hal itu menunjukkan bahwa pasar e-commerce Indonesia dikuasai oleh Lazada dan Shopee, yang berasal dari Singapura.

Dan ketika Tokopedia diambil alih oleh TikTok pada awal 2024, penguasaan pasar e-commerce nasional oleh pihak asing semakin kukuh.

Penguasaan pasar e-commerce Tanah Air oleh entitas asing ini, termasuk Tiktok, sejatinya merupakan manifestasi dari neo-kolonialisme di era revolusi 4.0. Ketika pemain ekonomi asing menguasai pasar nasional, yang pada hakikatnya adalah ‘penjajahan ekonomi’ Indonesia oleh pemodal asing.

Gawatnya, sebagaimana temuan KPPU juga, efek jaringan cukup besar yang muncul dari akuisisi Tokopedia oleh asing,  sangat berpotensi merugikan konsumen atau pelaku UMKM.

Sebab, strategi penjualan melalui praktik bundling (pengikatan layanan) sangat mungkin diterapkan oleh Tiktok. Dan itu akan menghambat masuknya para pelaku UMKM baru guna membuka lapak di platform tersebut.

Mirisnya, temuan KPPU itu terkonfirmasi oleh data yang dihimpun KemenKopUKM setahun lalu, ketika fakta bahwa 74% produk di e-commerce berasal dari impor terungkap ke publik.

Artinya, penguasaan pasar e-commerce oleh asing ini sejatinya bagian dari cara agar warga negeri ini menjadi konsumen barang-barang impor, bukan produk UMKM nasional.

Maka, seharusnya temuan KPPU ini menjadi momentum bagi negara dan siapapum yang mengklaim diri ‘nasionalis’, untuk melawan dominasi asing dalam industri e-commerce nasional. Hal ini sejatinya, merupakan perlawanan terhadap neo-kolonialisme 4.0.

Baca juga :  Iuran BPJS Naik Bertahap: Solusi Finansial atau Beban Baru?

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments