Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Pernyataan Fadli Zon yang menyangkal adanya pemerkosaan massal dalam kerusuhan Mei 1998 bukan sekadar kontroversi, melainkan sebuah upaya yang berbahaya: manipulasi sejarah. Dalam bukunya 1984, George Orwell dengan tajam menggambarkan bagaimana penguasa otoriter mampu mengendalikan masyarakat dengan mengatur narasi sejarah. “Who controls the past controls the future. Who controls the present controls the past.” Kalimat ini kini seolah hidup kembali di hadapan kita.
Fadli Zon, seorang politisi senior, dengan enteng menolak fakta yang selama ini diakui luas oleh korban, saksi, dan hasil investigasi nasional maupun internasional. Ia mencoba membentuk ulang ingatan kolektif bangsa, seolah-olah tragedi itu hanyalah ilusi. Yang lebih mengkhawatirkan, ia melemparkan narasi ini ke ruang publik dengan keyakinan penuh, seolah sejarah bisa direvisi semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, fakta-fakta yang telah terverifikasi tak bisa dibantah hanya dengan opini kosong. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998 mencatat secara rinci bahwa telah terjadi kekerasan seksual dalam kerusuhan tersebut. Hingga akhir masa kerjanya, TGPF menemukan sedikitnya 25 korban pemerkosaan. 3 orang korban memberikan kesaksian secara langsung kepada tim investigasi, 9 korban diperiksa secara medis oleh dokter, dan 3 korban lainnya diketahui melalui keterangan orang tua mereka. Selain itu, 10 terungkap melalui keterangan saksi seperti perawat, psikiater, dan psikolog, sementara 27 korban lainnya diketahui dari kesaksian para rohaniawan dan konselor yang mendampingi mereka.
Tidak hanya itu, TGPF juga mencatat adanya 14 korban pemerkosaan yang disertai penganiayaan. 3 di antaranya diperiksa langsung oleh dokter, 10h korban diketahui dari kesaksian saksi keluarga, dan 1 korban lainnya berdasarkan keterangan konselor. Selain itu, terdapat 10 korban penyerangan dan penganiayaan seksual yang terungkap melalui berbagai sumber, mulai dari kesaksian korban sendiri, rohaniawan, hingga keluarga. Bahkan, TGPF juga menemukan 9 korban pelecehan seksual, termasuk 1 korban yang bersaksi secara langsung dan 8 korban lainnya yang kasusnya diketahui dari keterangan para saksi di Jakarta.
Data ini dengan tegas membuktikan bahwa kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Tragedi ini telah tercatat dalam dokumen resmi, disaksikan oleh para korban, dicatat oleh para profesional medis, dan diperkuat oleh keterangan rohaniawan, konselor, dan saksi keluarga.
Melalui kacamata George Orwell, kita dapat melihat bagaimana bahaya manipulasi sejarah bukan sekadar soal perdebatan fakta, tapi soal siapa yang berhak menulis memori kolektif bangsa. Bila peristiwa seperti Mei 1998 direduksi, dipelintir, bahkan dihapuskan, maka bangsa ini sedang diajak untuk melupakan traumanya sendiri. Dan bangsa yang lupa sejarahnya, seperti yang selalu diingatkan Bung Karno, adalah bangsa yang mudah dipecah belah dan dijajah kembali, bukan dengan senjata, tapi dengan narasi.
Dalam era post-truth seperti sekarang, ketika opini bisa dengan mudah viral dan fakta diperdagangkan seperti komoditas, pernyataan seperti yang disampaikan Fadli Zon bisa sangat berbahaya. Bukan hanya merusak rasa keadilan para korban dan keluarganya, tetapi juga membuka ruang bagi penguasa di masa depan untuk memanipulasi sejarah lain sesuai kepentingan mereka.
Membiarkan pernyataan seperti ini beredar tanpa kritik tajam adalah membiarkan luka sejarah dihapus dari catatan bangsa. Mengingatkan, mengulas, dan menegakkan kebenaran adalah bentuk perlawanan kita terhadap upaya pelapukan ingatan kolektif. Sejarah bukan milik penguasa. Sejarah adalah milik mereka yang mengalaminya, dan milik kita yang berjuang agar kebenaran tidak terkubur.
Redaksi Energi Juang News



