Oleh: Iranto
(Aktivis, Social Media Specialist)
Energi Juang News, Jakarta-Konflik berkepanjangan di Timur Tengah kerap disajikan dalam narasi hitam-putih: Israel sebagai korban, Iran sebagai ancaman. Narasi ini sudah lama dibentuk oleh poros kekuasaan Barat, terutama Amerika Serikat, demi membenarkan dominasi militer dan ekonominya di kawasan. Padahal jika dilihat lebih jernih, Iran bukanlah penyulut konflik, melainkan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang sudah mengakar sejak era kolonialisme dan perang minyak.
Iran hari ini berdiri sebagai satu dari sedikit negara di Timur Tengah yang berani menentang arsitektur kekuasaan global yang dibangun AS dan sekutunya. Bagi Washington, sikap ini dianggap berbahaya. Bagi banyak rakyat di dunia Islam, sikap ini adalah bentuk harga diri.
Iran, Revolusi, dan Perlawanan
Sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan rezim Shah yang pro-Amerika, Iran memilih jalur politik luar negeri yang merdeka dan berbasis pada penolakan terhadap imperialisme. Inilah yang membuat Iran tak pernah masuk dalam poros negara-negara boneka AS seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, atau Bahrain, yang menggantungkan stabilitasnya pada bayang-bayang Pentagon.
Iran bukan tanpa cacat. Namun peranannya sebagai pendukung kelompok-kelompok perlawanan seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi Houthi di Yaman tidak bisa semata-mata dilabeli sebagai “sponsor teror. Dalam konteks yang lebih luas, mereka menjadi penyeimbang terhadap agresi militer Israel dan aliansi barat yang selama ini bertindak tanpa batas.
Israel dan AS: Agresi yang Dilindungi
Lihatlah bagaimana Israel, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, terus melancarkan operasi militer ke Suriah, Lebanon, dan Gaza. Ribuan warga sipil terbunuh, ratusan sekolah dan rumah ibadah hancur, tapi dunia diam. Amerika Serikat bukan hanya menutup mata, tetapi menjadi pemasok utama senjata, perlindungan politik, bahkan pelobi internasional agar Israel tak pernah dihukum oleh hukum internasional.
Bandingkan dengan Iran, yang hanya karena memperkaya uranium untuk kebutuhan energi dan pertahanan, langsung disanksi, dijatuhkan embargo, bahkan dicap sebagai ancaman global. Ini bukan soal bahaya nuklir, melainkan soal siapa yang boleh berkuasa dan siapa yang harus tunduk.
Diplomasi atau Dominasi?
Berkali-kali Iran menunjukkan niat berdiplomasi. Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) yang ditandatangani 2015 menjadi bukti bahwa Teheran bersedia membuka diri. Namun perjanjian itu dibatalkan sepihak oleh Donald Trump, dan pemerintahan Biden pun tak kunjung menunjukkan itikad serius untuk memulihkannya. Iran dikhianati, lalu disalahkan.
Ketika Iran merespons lewat jaringan proksinya terhadap agresi Israel, yang dibalas dengan serangan udara ke fasilitas-fasilitas Iran di Suriah dan Irak, Amerika langsung menyebutnya sebagai eskalasi. Padahal, ini adalah bentuk pembelaan diri. Dunia hanya melihat “serangan balasan”, tapi lupa bahwa selama ini Iran-lah yang diserang lebih dulu, baik secara militer maupun ekonomi.
Dunia Harus Bersikap Adil
Kini saatnya membongkar narasi ganda yang selama ini mendominasi media dan diplomasi global. Iran bukan biang kerusuhan, melainkan korban propaganda yang dikemas dengan sangat rapi oleh kekuatan barat. Selama dunia internasional masih melihat konflik di Timur Tengah melalui kacamata Washington, maka tidak akan pernah ada perdamaian sejati.
Perlawanan Iran bukan semata demi Syiah, bukan pula demi ekspansi ideologi. Perlawanan Iran adalah bentuk nyata dari keberanian sebuah bangsa untuk tidak tunduk pada tatanan dunia yang timpang. Iran tidak sempurna, tapi di antara reruntuhan etika politik global, ia menjadi suara yang tak bisa diabaikan.
Jika dunia sungguh ingin perdamaian, maka suara seperti Iran harus didengar—bukan dibungkam.
Redaksi Energi Juang News



