Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaGen Z Terhimpit Inflasi: Aset Bonus Demografi yang Terancam Terabaikan

Gen Z Terhimpit Inflasi: Aset Bonus Demografi yang Terancam Terabaikan

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Di tengah gelombang inflasi yang makin terasa, ada satu kelompok yang sangat terdampak namun justru paling minim dibicarakan dalam diskursus kebijakan ekonomi: Gen Z. Generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung bonus demografi Indonesia ini justru menjadi kelompok paling rentan secara finansial. Pemerintah dinilai abai terhadap ancaman ini. Jika dibiarkan, bukan hanya mimpi Gen Z yang tergerus, tetapi juga masa depan ekonomi Indonesia.

Menurut laporan terbaru, secara kumulatif dari Januari hingga Juni 2025, inflasi telah mencapai 1,27% (ytd), dan dalam basis tahunan diproyeksikan naik menjadi 1,77% (yoy). Angka ini tampak moderat. Namun, kenaikan harga pangan, biaya transportasi, dan kebutuhan pokok telah menekan daya beli masyarakat muda.

Situasi ini makin diperparah oleh fakta bahwa Gen Z belum memiliki ketahanan finansial yang memadai. Berdasarkan data dari Sun Life Indonesia, hanya 49% Gen Z yang merasa aman secara finansial, jauh tertinggal dibanding 63% Baby Boomer dan 61% Milenial. Tingkat kepercayaan diri dan kematangan perencanaan keuangan mereka adalah yang paling rendah di antara semua kelompok usia. Bahkan, 29% dari mereka tidak mencari bantuan sama sekali dalam membuat keputusan finansial, menjadikan mereka rentan terhadap jebakan utang, investasi bodong, dan pengambilan keputusan ekonomi jangka pendek.

Ironisnya, Gen Z adalah kelompok paling adaptif terhadap teknologi, dengan 21% mengandalkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengatur keuangan mereka. Teknologi tanpa kebijakan pendukung yang memadai ibarat kapal tanpa kompas. Mereka bisa melaju, tetapi rentan tersesat dalam badai ekonomi yang tidak stabil.

Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan “mekanisme pasar” untuk menyelesaikan masalah ini. Dibutuhkan intervensi serius, seperti edukasi finansial wajib sejak sekolah menengah dan akses luas ke konseling keuangan gratis. Subsidi terarah, perlindungan terhadap kebutuhan dasar, serta peningkatan upah minimum yang disesuaikan dengan inflasi adalah bentuk nyata kehadiran negara.

Baca juga :  Banjir Bukan Takdir: Saatnya Mengubah Cara Kita Melihat Bencana

Gen Z bukan hanya pemilik masa depan, mereka adalah masa kini yang menentukan. Jika dibiarkan berjuang sendiri di tengah tekanan biaya hidup yang terus naik, Indonesia bukan sedang menikmati bonus demografi, melainkan menyia-nyiakannya. Sebuah bangsa besar tidak akan tumbuh dari generasi yang lelah menghadapi harga bensin, cicilan, dan biaya makan harian yang tak sebanding dengan penghasilan.

Sudah saatnya pemerintah berhenti menunggu krisis dan mulai membangun ketahanan generasi muda. Karena Gen Z bukan beban—mereka adalah investasi. Investasi terbaik bukan di tambang atau properti. Lebih baik berinvestasi pada manusia muda yang masih punya waktu, tenaga, dan semangat membangun bangsa. Jangan biarkan mereka jatuh sebelum sempat berdiri.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments