Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Setiap hari, nama-nama grup K-Pop seperti BTS, BLACKPINK, atau SEVENTEEN selalu menghiasi trending topic Twitter (sekarang X). Dari konser virtual hingga debut idol baru, antusiasme terhadap budaya K-Pop seolah tak pernah surut. Tak hanya di Korea Selatan, tapi juga hingga pelosok Indonesia dari kota besar sampai desa kecil. Sementara itu, budaya Indonesia, yang kaya akan tarian, musik, dan warisan tradisi, masih berjuang mencari tempat di percakapan global.
Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: kenapa budaya K-Pop bisa mendunia, sementara budaya Indonesia hanya “ditonton” saat Hari Kartini atau 17 Agustusan?
Strategi Kultural yang Terencana
Keberhasilan K-Pop bukanlah kebetulan. Ini hasil strategi budaya jangka panjang yang dirancang pemerintah Korea Selatan sejak krisis ekonomi 1997. Lewat konsep Hallyu Wave, pemerintah mendanai industri hiburan, menciptakan regulasi yang mendukung kreator muda, membentuk agensi profesional, hingga memperkuat distribusi global lewat platform digital.
Budaya populer dijadikan alat diplomasi. Ketika BTS tampil di PBB atau BLACKPINK berkolaborasi dengan bintang dunia, itu bukan sekadar konser musik, tapi cerminan soft power Korea. Pemerintah mereka sadar bahwa budaya bukan cuma soal warisan masa lalu, tapi juga investasi masa depan.
Bandingkan dengan Indonesia. Meskipun kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa—dari gamelan, batik, tari Saman, hingga kuliner nusantara kebijakan budayanya masih sebatas seremoni. Pemerintah jarang melihat potensi budaya sebagai kekuatan ekonomi dan diplomasi. Pelestarian dilakukan, tapi promosi minim. Apalagi industrialisasi dan ekosistem kreatifnya belum kuat. Budaya jadi simbol nostalgia, bukan inovasi.
Faktor Masyarakat dan Generasi Muda
Kunci lain keberhasilan K-Pop ada pada masyarakat dan fans. Komunitas fandom K-Pop adalah mesin promosi tanpa bayaran. Mereka solid, kreatif, dan loyal. Mereka tak sekadar menonton, tapi aktif menyebarkan, menerjemahkan, hingga membuat konten turunan. Budaya partisipatif inilah yang membuat K-Pop cepat viral dan terasa dekat.
Sementara itu, di Indonesia, budaya lokal justru kurang diminati generasi mudanya sendiri. Banyak anak muda yang lebih fasih menyebut bias K-Pop daripada nama seniman tradisi di daerah mereka. Ini bukan salah mereka sepenuhnya—tapi karena budaya lokal jarang dikemas dengan cara yang relevan, segar, dan bisa diterima oleh era digital.
Mungkinkah Budaya Indonesia Mendunia Seperti K-Pop?
Jawabannya: sangat mungkin. Tapi syaratnya jelas ada kemauan politik dari negara dan dukungan sistemik dari masyarakat. Indonesia butuh roadmap budaya yang tidak hanya melestarikan, tapi juga menghidupkan, mendesain ulang, dan memasarkan budaya lokal dengan strategi kreatif. Kita juga butuh industri yang mendukung seniman muda untuk berkembang, bukan hanya tampil di festival daerah, tapi di panggung global.
Budaya Indonesia tidak kalah dari Korea. Kita hanya belum serius membangunnya menjadi kekuatan global. Jika pemerintah, media, dan generasi muda bersatu membentuk ekosistem budaya modern, maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti, tari Saman trending global seperti dance K-Pop. Kita hanya perlu percaya dan bertindak sekarang.
Redaksi Energi Juang News



