Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Fenomena Video Syur dan Pornografi Digital
Baru-baru ini, video syur Andini Permata menghebohkan jagat media sosial. Video berdurasi 2 menit 31 detik itu berisi aksi erotis seorang perempuan dengan seseorang yang diduga kuat adik kandungnya.
Video Andini Permata pun menjadi buruan di berbagai platform media sosial seperti TikTok, X, hingga Facebook.
Sejatinya, video syur ini merupakan manifestasi dari pornografi di jagat digital serta media sosial. Dan pornografi semacam ini merupakan reinkarnasi dari pornografi di media konvensional.
Lantas, apa sebenarnya makna pornografi?
Tubuh Perempuan sebagai Komoditas Industri Pornografi
Menurut R. Ogien (Haryatmoko, 2007: 93), pornografi dapat diartikan sebagai representasi eksplisit berupa gambar, tulisan, lukisan, dan foto dari aktivitas seksual atau hal yang tidak senonoh, mesum atau cabul. Orientasinya adalah untuk menjadi konsumsi publik.
Ketika pornografi ‘kawin-mawin’ dengan industri, pada saat itulah muncul logika profit. Hasil kajian tim PSW Institut Agama Islam Negeri Mataram beberapa tahun lalu mengungkapkan, pornografi dalam media tak terlepas dari kebutuhan industri akan ladang penghasil pundi-pundi keuntungan. Akibatnya, tubuh perempuan dalam konteks ini menjadi komoditas utamanya.
Dengan demikian, dalam konteks ini tubuh perempuan menjadi objek yang tersubordinat, berada di bawah kepentingan akumulasi profit. Jadi dalam industri pornografi, perempuan hanya dijadikan objek dari kepentingan pemilik modal.
Demikianlah pornografi dalam masyrakat industri kapitalis.
MacKinnon, seorang feminis, menjelaskan bahwa dalam masyarakat Industri kontemporer, pornografi menjadi produksi masal yang menggunakan perempuan demi keuntungan laki-laki. Secara keseluruhan, dalam perspektif ini perempuan dieksploitasi dan dijual untuk kesenangan seksual laki-laki.
Mungkin pandangan ala feminisme ini terkesan bias gender. Namun, bila mengingat para pemilik modal yang menuai keuntungan di industri pornografi kebanyakan adalah laki-laki, perspektif itu ada benarnya.
Kapitalisme Digital, Algoritma, dan Hegemoni Platform
Pornografi, memang bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk eksploitasi dan penindasan terhadap perempuan dalam sistem kapitalisme.
Dan kini, kapitalisme itu telah ‘bermetamorfosa’ menjadi kapitalisme digital.
Ya, revolusi 4.0 membuahkan digitalisasi seluruh aspek kehidupan. Masyarakat kini lebih banyak mengonsumsi media digital. Polanya bergeser dari media konvensional, seperti media elektronik dan cetak, ke media sosial yang hadir dalam beragam platform.
Platform-platform seperti Facebook, Tiktok, Instagram maupun X, merupakan perwujudan dari kapitalisme digital.
Dan kapitalisme model begini membutuhkan alat hegemoni terhadap para penggunanya. Algoritma, merupakan alat hegemoni itu. Ia menentukan apa yang bisa pengguna lihat dan lakukan. Perusahaan pemilik platform merancang algoritma ini untuk mendorong keterlibatan pengguna dan mengejar keuntungan.
Seorang akademisi, Prof. Merlyna Lim menyatakan bahwa algoritma telah menjadi bentuk kekuasaan baru yang bekerja senyap. Namun ia sangat efektif berfungsi sebagai alat hegemoni atau penguasaan terhadap pengguna.
Dalam konteks inilah, fenomena video syur semacam Andini Permata bis akita cerna. Seorang Andini, atau siapapun namanya, seperti terlihat sukarela menampilkan erotisme dari tubuhnya.
Tapi, sejatinya tidak demikian.
Kesadaran Kritis di Tengah Hegemoni Kapitalisme Digital
Kapitalisme digital melalui algoritma membentuk imaji yang menguasai pikirannya. Andini seperti terhipnotis untuk bisa menjadi bagian dari alat hegemoni kapitalisme digital tersebut.
Dan untuk bisa seperti itu, maka yang bersangkutan harus memproduksi konten yang bisa menyebar dengan cepat dan luas di antara pengguna. Masyarakat menyebut konten semacam itu ‘viral’. Di TikTok, istilah populernya adalah FYP (For You Page).
Ketika kontennya viral, maka potensi untuk terkenal dan meraih ‘cuan’ terbuka lebar. Demikianlah imaji, atau lebih tepatnya ilusi yang terbangun karena hegemoni kapitalisme digital.
Bagi pemilik platform sendiri, konten-konten viral menjadi wahana mendulang keuntungan. Konten viral meningkatkan engagement pengguna, menarik pengguna baru, dan memperpanjang waktu yang dihabiskan pengguna di platform bersangkutan. Karena itulah pemilik platform sangat mendorong konten viral. Muara dari itu semua adalah peningkatan pendapatan platform melalui iklan dan fitur berlangganan.
Meskipun muncul dugaan bahwa video syur Andini palsu atau hanya jebakan malware, kemunculan video semacam ini sudah sangat sering. Karena itu, kita perlu membangun kesadaran bersama agar tidak terilusi oleh hegemoni kapitalisme digital.
Dengan begitu, kita tetap menjadi manusia merdeka, bukan budak para kapitalis digital yang hobi mendulang laba.
Redaksi Energi Juang News



