Jumat, Juli 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaFenomena Rojali: Cermin Daya Beli Masyarakat yang Melemah

Fenomena Rojali: Cermin Daya Beli Masyarakat yang Melemah

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Fenomena “Rojali” alias “rombongan jarang beli” belakangan ramai diperbincangkan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa tren ini mencerminkan masyarakat menahan belanja. Di mal-mal dan pusat perbelanjaan, kerumunan pengunjung tampak ramai, tetapi aktivitas transaksi tetap stagnan banyak yang datang, melihat-lihat, bahkan mencoba barang, tetapi akhirnya tak jadi membeli. Ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal kuat tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Fenomena Rojali sering kali ditemani oleh “Rohana” yang berarti “rombongan banyak tanya” tetapi tidak membeli. Dalam kuartal kedua 2025, kunjungan mal naik signifikan, namun indeks penjualan riil ritel justru menurun 0,3 % dibandingkan periode sebelumnya. Ini menggambarkan betapa aktivitas pengunjung tidak berbanding lurus dengan daya beli mereka.

Melemahnya daya beli ini bukan fenomena tiba-tiba. Inflasi tahunan pada Juni 2025 tercatat sebesar 1,87 % year-on-year (yoy), sedangkan inflasi inti berada di angka 2,37 % yoy. Kelompok volatile food termasuk bahan pokok seperti beras, bawang merah, dan cabai rawit mengalami inflasi sebesar 0,57 % yoy. Sementara kelompok administered prices (termasuk tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga) mencatat inflasi 1,34 % yoy. Inflasi ini, masih dalam batas aman BI, tetap memberi tekanan khususnya pada keluarga berpendapatan menengah ke bawah.

Kondisi ini memunculkan paradoks: pusat perbelanjaan yang aktif sosial tetapi mati dari aspek konsumsi. Orang masih membutuhkan hiburan dan interaksi sosial sayangnya, daya beli mereka tidak sejalan. Alhasil, meski konsumen datang secara fisik, uang mereka enggan mengalir ke konter penjualan.

Fenomena Rojali juga mencerminkan ketimpangan pendapatan yang semakin nyata. Konsumsi rumah tangga adalah penopang utama perekonomian Indonesia; jika konsumsi melemah, maka sektor ritel, distribusi, produksi, dan lapangan kerja akan terpukul. Ketika sebagian besar masyarakat menahan belanja, pertumbuhan ekonomi pun terancam stagnan.

Baca juga :  Kematian Dokter di Jambi: Evaluasi Total Program Internship!

Pemerintah perlu menjadikan fenomena ini sebagai alarm kritis. Pelambatan konsumsi bagi masyarakat menengah ke bawah jelas membutuhkan intervensi kebijakan yang konkret. Menekan harga-harga pokok terutama komoditas pangan dan energi adalah langkah awal yang mutlak. Stimulus fiskal yang tepat sasaran, bantuan subsidi stabilitas harga, serta akses kredit yang lebih mudah untuk sektor riil perlu diperkuat.

Peran dunia usaha juga tak boleh diabaikan. Produk perlu dirancang dengan price point yang benar-benar bisa dijangkau masyarakat saat ini. Strategi pemasaran juga harus lebih kreatif dan empatik memahami realita daya beli konsumen, bukan sekadar menarget keinginan pasar.

Namun ujung tombak perubahan berada di tangan pemerintahan. Rojali bukan sekadar tren ringan, tetapi alarm nyata bahwa daya beli masyarakat menurun meski transaksinya terlihat banyak. Jika fenomena ini diabaikan, maka bukan hanya omzet ritel yang tersendat, tetapi kesejahteraan masyarakat dan momentum ekonomi nasional bisa tergerus perlahan.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments