Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Proyek Rempang Eco City semakin terkuak keburukannya. Trend Asia dan Transparency International Indonesia (TII) telah meluncurkan hasil kajian bertajuk “Buku Putih Valuasi Kerusakan Proyek Rempang Eco City”, baru-baru ini.
Hasil kajian itu mengungkapkan tingginya kerugian sosial, ekonomi, dan ekologis jika proyek Rempang Eco City tetap dilanjutkan.
Melibatkan 87 keluarga di Rempang, hasil riset yang berlangsung sejak Mei 2025 ini menunjukkan potensi ekonomi Rempang dari bentang alam, budaya, keanekaragaman hayati, rumput laut, hingga perikanan.
Dari kajian itu terungkap, rata-rata total potensi ekonomi per rumah tangga per bulan mencapai Rp32 juta. Padahal, sebelumnya, pemerintah menyatakan penghasilan warga hanya sekitar Rp3.000.000 per bulan.
Disini tampak ada perbedaan hampir sepuluh kali lipat antara klaim pemerintah dengan hasil kajian Trend Asia-TII.
Maknanya, proyek ini merupakan buah dari hasil kajian pemerintah yang tak vaid, yang bertolak belakang dengan kenyataan.
Hasil riset ini juga menghitung kerugian lingkungan seperti gangguan ekosistem, hilangnya flora dan fauna, mata pencaharian, serta timbulnya abrasi.
Setelah dikalkulasikan, risiko kerugian lingkungan masyarakat Rempang mencapai Rp109 juta per rumah tangga sebulan. Atau tiga kali lipat dari potensi ekonomi yang dipropagandakan pemerintah.
Hasil kajian itu mengonfirmasi bahwa proyek Rempang Eco City memang sangat bermasalah. Berkedok konservasi, proyek ini berlandaskan pengabaian terhadap rakyat yang telah lama menetap di kawasan itu.
Fakta ini menunjukkan, lagi-lagi rakyat ditindas oleh oligarki.
Dalam pengembangan proyek tersebut, pemerintah memberikan hak pengelolaan dan pengembangan kepada PT Makmur Elok Graha (MEG), anak perusahaan Grup Artha Graha milik konglomerat Tomy Winata.
Disinilah oligarki terwujud. Berbasiskan diksi dari bahasa Yunani Kuno, oligarki dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh segelintir orang, yang dikendalikan oleh sekelompok elit yang memiliki kekayaan.
Sehingga, Rempang Eco City bisa diartikan sebagai proyek penindasan rakyat demi keuntungan oligarki yang merupakan persekongkolan pemerintah dan konglomerat.
Redaksi Energi Juang News



