Jumat, Juli 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaBiofuel dalam Kebijakan Net-Zero: Energi Hijau Berlumur Perusakan dan Penindasan

Biofuel dalam Kebijakan Net-Zero: Energi Hijau Berlumur Perusakan dan Penindasan

Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Di tengah gempita komitmen menuju net-zero emission, pemerintah dan industri berlomba mempromosikan biofuel sebagai solusi energi hijau. Namun di balik jargon keberlanjutan itu, aktivis lingkungan memperingatkan: kebijakan biofuel justru bisa menjadi pemicu deforestasi baru.

Organisasi lingkungan, seperti Biofuelwatch, Forest Watch Indonesia (FWI), dan Global Forest Coalition, menilai integrasi biofuel berbasis sawit dan kedelai dalam kebijakan net-zero akan memperluas pembukaan lahan secara besar-besaran.

Demi memenuhi permintaan bahan baku, jutaan hektare hutan tropis berpotensi berubah menjadi perkebunan industri. Sebuah studi bahkan memperkirakan, ekspansi untuk biofuel bisa mencapai 4,5 juta hektare bila kebijakan ini berjalan tanpa kontrol ketat.

Masalahnya bukan hanya hilangnya tutupan hutan, tetapi juga luka sosial dan ekologis yang ditinggalkan. Setiap hektare hutan yang ditebang berarti hilangnya ruang hidup masyarakat adat, meningkatnya konflik agraria, dan terancamnya keanekaragaman hayati. Para aktivis juga mengingatkan bahwa biofuel memiliki Indirect Land Use Change (ILUC) — emisi karbon tambahan akibat perubahan penggunaan lahan. Artinya, bahan bakar yang diklaim hijau justru dapat memproduksi lebih banyak emisi daripada energi fosil yang digantikannya.

Ironinya, Indonesia negara yang berjanji melindungi hutan dan menegakkan keadilan iklim malah mengulangi pola lama: mengganti satu bentuk ekstraktivisme dengan bentuk lainnya. Biofuel berbasis tanaman bukan solusi transisi energi, melainkan ilusi hijau yang berpihak pada korporasi, bukan rakyat. Jika kebijakan ini dibiarkan, transisi energi akan berubah menjadi ajang baru untuk eksploitasi lahan, bukan pembebasan dari krisis iklim.

Dari perspektif aktivis, energi berkeadilan bukan soal mengganti sumber bahan bakar, tetapi soal mengubah cara berpikir dan struktur ekonomi. Kebijakan net-zero seharusnya mengutamakan efisiensi energi, transportasi publik, dan pengembangan sumber terbarukan non-ekstraktif seperti limbah biomassa, tenaga surya, dan angin bukan memperluas lahan sawit.

Baca juga :  Gen Z Terhimpit Inflasi: Aset Bonus Demografi yang Terancam Terabaikan

Negara harus memastikan bahwa setiap liter biofuel yang diproduksi tidak berasal dari perusakan hutan, tidak menindas masyarakat adat, dan tidak menjadi dalih untuk menambah izin perkebunan. Komitmen net-zero sejati menuntut keadilan sosial dan ekologis: hutan tetap berdiri, rakyat tetap hidup, dan emisi benar-benar berkurang.

Biofuel bisa jadi simbol masa depan hijau hanya jika berdiri di atas prinsip keadilan, bukan di atas abu hutan yang terbakar. Karena bila transisi energi dibangun dengan menebang hutan dan mengorbankan rakyat, maka “hijau” hanya menjadi warna baru dari ketidakadilan yang sama.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments