Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Terkait sejarah manusia, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengajukan teori out of Nusantara untuk menandingi teori mapan out of Africa. Apa isi teori itu?
Persebaran manusia di seluruh penjuru dunia bukan berawal dari Afrika, melainkan dimulai dari Nusantara.
Fadli menyebut salah satu bukti teorinya adalah jejak Homo Erectus yang ditemukan oleh Eugène Dubois di tepian Bengawan Solo.
Problemnya, secara ilmiah, tidak ada bukti-bukti yang mendukung teori out of Nusantara.
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengungkapkan, fosil Homo erectus tertua bukan dari Indonesia.
Di nusantara, penemuan fosil Homo erectus tertua berasal dari Sangiran dan Bumiayu yang berusia antara 1,5 juta sampai 1,6 juta tahun. Adapun fosil Homo erectus tertua di dunia berasal dari Afrika yang berusia 1,8 juta tahun. Jadi, fosil Homo erectus di Nusantara lebih muda dari Homo erectus Afrika.
Selain itu,Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga mencatat ada jeda antara waktu kehidupan Homo erectus dengan Homo sapiens yang hidup di Indonesia. Jadi, wilayah yang sekarang disebut Indonesia ini dulu pernah kosong tanpa spesies manusia pasca punahnya Homo erectus hingga kedatangan Homo sapiens.
Baca juga : Fadli Zon Digugat Terkait Pemerkosaan Mei 98, PTUN Mengecewakan
Adapun punahnya Homo erectus karena faktor bencana alam yang menyebabkan kekosongan nusantara terjadi pada 80.000 tahun lalu.
Sehingga, Homo erectus yang fosilnya ditemukan di Trinil, Ngandong, Sangiran, atau Bumiayu bukanlah nenek moyang dari Homo sapiens atau manusia modern Indonesia saat ini.
Homo sapiens baru ada di kawasan Nusantara pada 60.000 sampai 70.000 tahun lalu. Penemuan fosil di Gua Lida Ajer, Sumatera Barat menjadi buktinya.
Dan para Homo Sapiens itu adalah pendatang, bukan asli Sumatera Barat atau nusantara. Mereka berasal dari Afrika.
Lalu, yang patut kita pertanyakan, apakah dasar dari teori yang diajukan oleh Fadli Zon itu? Sebab secara sains, jelas teori yang dikemukakan sang Menteri tak bisa dipertanggungjawabkan.
Tampak jelas, Fadli Zon berusaha mengobarkan nasionalisme yang berdasarkan mitos. Nasionalisme semacam ini berbasiskan pada cerita, simbol, dan narasi-narasi yang dianggap sejarah namun tak punya landasan ilmiah.
Dulu di Jerman sempat muncul etnosimbolisme yang menekankan pentingnya mitos-mitos leluhur untuk membentuk rasa kesatuan bangsa. Mitos itupun menciptakan citra bangsa yang keliru, dan menjadi dasar bagi gerakan fasisme Nazi. Sejarah pun telah mencatat salah satu tragedi kemanusiaan mengerikan akibat berkuasanya Nazi.
Di Jerman, nasionalisme yang berlandaskan mitos terbukti berkembang menjadi ideologi berbahaya karena memadukan nasionalisme ekstrem, rasisme, dan pseudosejarah untuk membangun basis spiritual yang bermuara pada kebrutalan politik.
Lantas, apakah Fadli Zon ingin mengembangkan nasionalisme serupa?
Redaksi Energi Juang News



