Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Seorang anak laki-laki bernama Alvaro Kiano Nugroho (6) yang hilang selama delapan bulan, ditemukan tewas. Anak yang hilang di Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu menjadi korban pembunuhan ayah tirinya.
Peristiwa tragis yang dialami Alvaro itu merupakan bukti, betapa kekerasan terhadap anak masih menjadi permasalahan akut di Jakarta, bahkan Indonesia.
Data memang menunjukkan, kasus kekerasan terhadap anak di Jakarta masih tinggi hingga kini. Dinas PPAPP DKI Jakarta mencatat, sejak Januari hingga 19 November 2025, terjadi 588 kasus kekerasan seksual terhadap anak, 242 kasus kekerasan fisik terhadap, dan 236 kasus kekerasan psikis terhadap anak.
Lalu, tercatat pula 109 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap anak, 38 kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menimpa anak, 30 kasus perundungan terhadap anak, serta 25 kasus salah perlakuan dan penelantaran terhadap anak.
Realitas itu membuktikan bahwa pemerintah mutlak harus membangun keluarga berkualitas. Sebab, kekerasan dalam keluarga, termasuk yang menimpa anak-anak disebabkan keluarga yang tak berkualitas dalam segala atau sebagian aspek.
Keluarga, adalah fondasi utama bagi pembangunan suatu bangsa. Keluarga juga menjadi penentu kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Sehingga, kualitas suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas keluarganya. Keluarga yang kuat dan harmonis menciptakan masyarakat yang stabil dan sejahtera, yang secara langsung berdampak pada ketahanan sosial dan nasional.
Sebaliknya, permasalahan di tingkat keluarga seperti kemiskinan, kekerasan, atau perceraian, dapat menjadi akar masalah sosial yang lebih luas. Untuk itu, Pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak dasar warganya, termasuk hak anak atas pengasuhan yang layak dan hak perempuan atas pemberdayaan.
Intervensi pemerintah dalam pembangunan keluarga, bertujuan memastikan hak-hak ini terpenuhi, terutama bagi keluarga rentan.
Sudah seharusnya pemerintah dan seluruh perangkat negara menyadari, bahwa pembangunan keluarga berkualitas bukanlah sekadar program sosial pelengkap, melainkan strategi fundamental untuk mencapai tujuan pembangunan nasional yang lebih besar.
Tanpa keluarga berkualitas, negara akan runtuh perlahan karena akan bermunculan Alvaro-Alvaro lainnya, generasi penerus bangsa yang menjadi korban kebengisan dalam keluarga.
Redaksi Energi Juang News



