Energi Juang News, Mentawai- Guncangan gempa tektonik kembali menggetarkan wilayah barat Indonesia pada Minggu (22/02/2026) malam. Getaran terasa di sejumlah daerah di Sumatera Barat dan Kalimantan, namun hingga kini belum ada laporan kerusakan berarti dari otoritas terkait.
Gempa M5,0 dari Zona Megathrust Mentawai
Gempa berkekuatan Magnitudo 5,0 mengguncang Pantai Utara Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada Minggu, 22 Februari 2026, pukul 22.35.41 WIB. Getaran dirasakan masyarakat di berbagai titik di Sumatera Barat, namun laporan resmi menyebut belum ada dampak kerusakan signifikan.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut sekitar 24 kilometer arah utara Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, dengan kedalaman 40 kilometer. Informasi awal sempat mencatat kekuatan gempa M5,2 sebelum dimutakhirkan menjadi M5,0.
Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan gempa tersebut tergolong gempa dangkal dan bersumber di zona megathrust. “Gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu malam.
Baca juga : Gempa Darat M3,2 Getarkan Bogor dan Sukabumi
Skala Guncangan di Berbagai Wilayah Sumbar
Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini memiliki karakter pergerakan naik (thrust). Guncangan terasa di Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, dan Agam dengan intensitas III MMI, ketika getaran jelas dirasakan di dalam rumah dan terasa seperti truk berat melintas pada siang hari.
Di Pariaman, Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, dan Bukittinggi, guncangan tercatat pada intensitas II MMI. Pada level ini, getaran hanya dirasakan sebagian orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang pelan.
BMKG menegaskan gempa tersebut tidak memicu tsunami. “Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Rahmat.
Rangkaian Guncangan Sepanjang Ahad
Gempa Mentawai tercatat sebagai yang paling kuat di antara gempa-gempa yang dirasakan masyarakat sepanjang Ahad, 22 Februari 2026. Pada Minggu pagi, gempa darat M4,2 mengguncang Gayo Lues, Aceh, dengan intensitas II–III MMI, yang berarti getaran dirasakan jelas di dalam bangunan namun tidak menimbulkan kerusakan serius.
Masih di hari yang sama, gempa Magnitudo 3,9 tercatat di wilayah Mukomuko, Bengkulu. Guncangan dengan intensitas II MMI itu dirasakan sebagian warga setelah episenter terukur di laut, 35 kilometer arah barat daya Mukomuko, dengan kedalaman 27 kilometer.
Getaran dari Gempa M7,2 Dekat Kinabalu
Selain rangkaian gempa di Sumatera, aktivitas tektonik kuat juga terjadi di kawasan utara. Gempa Magnitudo 7,2 dari laut, sekitar 109 kilometer arah timur laut Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, terekam pada kedalaman 628 kilometer. Guncangan gempa dalam ini dirasakan pada skala II MMI di sejumlah daerah di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Pada intensitas II MMI, getaran hanya dirasakan sebagian orang yang sedang berada di dalam rumah dan cenderung tenang, sementara benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang. Hingga laporan ini disusun, belum ada keterangan resmi mengenai kerusakan maupun korban jiwa terkait gempa dalam tersebut.
Imbauan Kewaspadaan dan Informasi Resmi
BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah rawan gempa untuk tetap waspada namun tidak panik. Warga diminta mengutamakan informasi dari kanal resmi BMKG dan lembaga berwenang saat terjadi guncangan, terutama terkait potensi tsunami atau peringatan dini lainnya.
Langkah sederhana seperti mengenali jalur evakuasi, menjauh dari bangunan tua yang rapuh, dan memastikan informasi tidak berasal dari sumber anonim menjadi bagian penting pengurangan risiko bencana. Di wilayah pesisir barat Sumatera dan utara Kalimantan, edukasi kesiapsiagaan terus menjadi kunci di tengah aktivitas tektonik yang tinggi.
Redaksi Energi Juang News



