Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Di tengah kemudahan layanan streaming musik yang hanya sejauh satu ketukan jari, Gen Z justru berbondong-bondong membeli vinyl atau piringan hitam format musik lawas yang butuh pemutar khusus, perawatan ekstra, dan tentu saja, waktu untuk menikmati.
Sekilas, ini tampak seperti sekadar tren nostalgia atau gaya hidup estetik semata. Namun di balik kebiasaan ini, tersimpan bentuk perlawanan yang lebih dalam: resistensi terhadap dominasi algoritma dan hiper-kapitalisme digital.
Gen Z membeli vinyl bukan sekadar demi “suara hangat” atau “koleksi estetik”, melainkan sebagai upaya sadar untuk melambat di era yang memaksa segala sesuatu jadi instan, cepat, dan terus-menerus dimonetisasi.
Layanan seperti Spotify, Apple Music, hingga TikTok kini tak hanya menyajikan musik, tapi juga memaksakan selera, membentuk preferensi, bahkan menggiring cara berpikir kita tentang apa yang pantas kita dengarkan.
Fenomena ini bisa disebut sebagai bentuk perlawanan senyap Gen Z terhadap apa yang disebut para akademisi sebagai “Hiperkapitalisme Digital” di mana waktu dan selera kita dikomodifikasi, dikurasi oleh algoritma, lalu dijual kembali dalam bentuk paket langganan, iklan, dan data.
Vinyl, dalam konteks ini, menjadi manifesto kecil: pengalaman mendengarkan yang bebas dari iklan, notifikasi, dan playlist otomatis yang selalu didesain untuk membuat kita tetap “nyangkut”.
Perspektif unik yang jarang dibicarakan adalah bagaimana vinyl menjadi bentuk reklaimasi atas hak memilih. Di platform streaming, kita disuguhkan lagu yang “mirip” dengan apa yang kita dengarkan bukan karena itu yang kita butuhkan, tapi karena sistem tahu itu akan mempertahankan kita lebih lama.
Dengan vinyl, Gen Z kembali menjadi kurator utama dalam pengalaman mendengarkan. Mereka tak sekadar dikendalikan algoritma; mereka memilih, memutar, dan terlibat secara penuh.
Ironisnya, pembelian vinyl juga memperlihatkan sisi ganda: di satu sisi menolak kapitalisme digital, tapi di sisi lain masih bersinggungan dengan kapitalisme itu sendiri karena banyak rilisan vinyl juga dijual oleh korporasi besar.
Namun di tengah dunia yang begitu dikendalikan oleh mesin, preferensi membeli benda fisik, mendengarkan secara analog, dan menyimpan musik dalam bentuk nyata bisa dianggap sebagai gerakan radikal mikro.
Vinyl bukan hanya bentuk nostalgia; ini adalah bentuk kesengajaan di era otomatisasi. Gen Z, yang sering dicap apatis dan terlalu tergantung teknologi, justru menunjukkan bahwa mereka mampu memilah, memilih, dan dalam sunyi yang hangat itu melawan.
Redaksi Energi Juang News



