Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)
Energi Juang News, Jakarta– Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau kini bukan lagi surga hijau bagi satwa langka, tetapi lambang dari kerakusan manusia yang terus menggerus hutan demi keuntungan jangka pendek. Dari total 81.739 hektare kawasan TNTN, lebih dari 40.000 hektare telah berubah fungsi menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman liar, menurut data Kementerian Kehutanan. Kerusakan ini bukan sekadar angka; ini adalah luka dalam di paru-paru bumi yang tak lagi bisa disembunyikan.
Gajah Sumatera, salah satu ikon fauna yang dilindungi, kini berada di ambang kepunahan. Kasus terbaru memperlihatkan betapa menyedihkannya situasi: seekor gajah jantan ditemukan mati, diduga diracun, lalu gadingnya dicuri. Peristiwa ini bukan hanya kriminalitas terhadap satwa, tapi juga simbol dari kebangkrutan moral yang menggerogoti bangsa.
Lalu siapa yang bertanggung jawab? Jawabannya rumit, tapi jelas: negara dan individu sama-sama berperan. Negara, melalui aparat dan institusinya, gagal mengawasi dan menindak tegas perambahan hutan. Sementara individu—baik pelaku perambahan, pemilik kebun ilegal, hingga pemburu gading—menjadi aktor dalam kejahatan ekologi yang sistemik. Mereka bergerak dalam ruang abu-abu hukum, kadang didukung oleh kekuasaan lokal yang tutup mata.
Fenomena ini mengingatkan kita pada filsuf Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa “homo homini lupus”—manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dalam konteks ini, manusia bukan hanya menjadi serigala bagi sesama manusia, tetapi juga bagi alam dan seluruh makhluk hidup lainnya. Ketamakan, bila tak dikendalikan, akan melahirkan kebijakan yang semata mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.
Yang lebih menyedihkan, perusakan ini bukan hal baru. Selama puluhan tahun, kawasan TNTN terus dirambah, hingga kini berubah menjadi ladang sawit ilegal. Satgas Pengamanan Kawasan Hutan (PKH) pun mengakui sulitnya menertibkan ribuan hektare kebun sawit ilegal yang telah telanjur mapan secara sosial dan ekonomi. Celakanya, kehadiran negara kerap datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali.
Perlu dipahami bahwa krisis lingkungan bukan hanya isu ekologi, tetapi juga cermin rusaknya kesadaran kolektif kita sebagai bangsa. Ketika hutan dibabat demi sawit, kita sedang menjual masa depan demi keuntungan sesaat. Ketika satwa diburu dan dibunuh, kita sedang menghapus keanekaragaman hayati yang menjadi identitas negeri ini.
Tesso Nilo menjerit, dan jeritannya seharusnya tidak hanya didengar, tapi juga ditindaklanjuti. Perlu kebijakan tegas, penegakan hukum tanpa pandang bulu, serta pendekatan sosial-ekonomi yang manusiawi agar masyarakat tidak terdorong terus merambah hutan.
Sebab, jika kita terus membiarkan serigala di dalam diri kita mengambil alih, maka kelak yang tersisa hanyalah puing-puing hijau yang dulu kita sebut hutan.
Redaksi Energi Juang News



