Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaOrganisasi Mahasiswa: Ruang Tumbuh atau Arena Konflik?

Organisasi Mahasiswa: Ruang Tumbuh atau Arena Konflik?

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Organisasi mahasiswa, baik internal maupun eksternal kampus, sejatinya memiliki peran strategis dalam kehidupan demokrasi, pengembangan ilmu pengetahuan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Sejarah mencatat bagaimana mahasiswa pernah menjadi motor utama dalam perubahan besar negeri ini, mulai dari masa pergerakan nasional, reformasi 1998, hingga berbagai aksi kritis terhadap kebijakan pemerintah. Namun kini, idealisme itu perlahan memudar, berganti dengan konflik internal, perebutan kekuasaan, fanatisme simbol, dan kehilangan arah gerakan.

Jika kita menilik ke belakang, organisasi seperti HMI, GMNI, PMII, GMKI, PMKRI, dan lainnya pernah menjadi ruang lahirnya pemikir besar, pemimpin bangsa, dan penggerak sosial. Organisasi kemahasiswaan saat itu bukan sekadar tempat nongkrong, tetapi tempat membentuk karakter, mengasah kemampuan berpikir kritis, dan mematangkan visi kebangsaan. Tapi saat ini, banyak organisasi hanya berlomba memperbanyak anggota, menonjolkan warna identitas, dan sibuk dengan urusan internal semata. Persaingan antar organisasi tak lagi sehat dan malah menjadi ajang saling jegal.

Tak heran, anak muda hari ini semakin enggan terlibat dalam organisasi mahasiswa. Banyak dari mereka yang merasa kecewa karena organisasi yang diikuti justru tidak membantu pengembangan diri secara nyata. Lebih buruk, drama internal, senioritas berlebihan, hingga minimnya visi ke depan menjadikan organisasi lebih mirip panggung kekuasaan daripada ruang pembelajaran. Padahal, di era global ini, mahasiswa justru dituntut untuk berprestasi bukan hanya akademik, tetapi juga non-akademik agar siap bersaing di dunia nyata.

Data dari Kajian Tengah Tahun INDEF 2025 yang dipaparkan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menunjukkan bahwa sekitar 1,01 juta sarjana di Indonesia menjadi pengangguran. Salah satu sebabnya adalah minimnya soft skill dan ketidaksesuaian keahlian dengan kebutuhan lapangan kerja. Sayangnya, organisasi mahasiswa yang seharusnya menjembatani kekurangan ini malah tenggelam dalam konflik internal dan rutinitas seremonial yang tidak relevan. Seharusnya organisasi menjadi inkubator kepemimpinan, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang.

Baca juga :  Pelecehan Seksual di Grup Chat UI: Bukti Mengakarnya Patriarki

Di tengah krisis arah ini, perlu ada reorientasi besar dalam tubuh organisasi mahasiswa. Kepemimpinan yang berintegritas dan berpikiran terbuka harus menjadi syarat utama. Organisasi juga harus mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman, membekali anggotanya dengan skill yang dibutuhkan dunia kerja, serta mendorong semangat job-creator bukan hanya job-seeker.

Sudah saatnya mahasiswa kembali melihat organisasi sebagai alat perjuangan intelektual dan sosial, bukan sekadar geng yang membanggakan simbol dan warna. Fanatisme buta terhadap identitas organisasi hanya akan mempersempit wawasan dan melemahkan solidaritas antar mahasiswa. Kita butuh gerakan yang inklusif, lintas batas, dan berorientasi pada perubahan nyata.

Generasi muda tidak boleh lupa bahwa mereka pernah menjadi lokomotif kemerdekaan dan perubahan bangsa. Maka, jangan biarkan organisasi mahasiswa hari ini kehilangan ruh perjuangannya. Jadikan organisasi sebagai tempat berproses, bukan berkuasa. Sebab masa depan bangsa, sebagian besar, masih berada di tangan mahasiswa.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments