Esteria Tamba
(Penulis, aktivis)
Pemerintah mengklaim bahwa teknologi co-firing biomassa di PLTU adalah langkah menuju energi hijau dan net-zero emission. Namun bagi masyarakat yang tinggal di sekitar pembangkit, kenyataannya justru sebaliknya: udara makin sesak, lahan rusak, dan hidup mereka terus dikepung polusi.
Karena itu, warga terdampak kini menyerukan satu tuntutan jelas tutup PLTU co-firing biomassa sekarang juga.Program ini seharusnya menjadi simbol transisi energi, tapi di lapangan berubah menjadi simbol ketidakadilan lingkungan.
Masyarakat di berbagai daerah mengeluhkan pencemaran udara, abu pembakaran yang bertebaran, dan limbah biomassa yang mencemari air. Selain itu, bahan baku biomassa yang diambil dari hutan tanaman energi justru memicu deforestasi dan konflik lahan baru, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan hutan rakyat.Secara teknis, kontribusi biomassa dalam menurunkan emisi pun sangat kecil. Kajian Clean Air and Energy Research (CREA) menyebut pengurangan emisi dari co-firing hanya sekitar 1,5–2,4 persen, sementara emisi merkuri, debu, dan karbon tetap tinggi.
Artinya, co-firing bukan solusi transisi energi ia hanya memperpanjang usia batu bara dengan baju hijau.Dari perspektif aktivis lingkungan, kebijakan ini adalah bentuk greenwashing struktural. Pemerintah menutupi kegagalan beralih dari energi fosil dengan mengganti sebagian bahan bakar, tanpa mengubah sistem energi yang eksploitatif.
Di balik jargon “energi bersih”, ribuan warga hidup dalam radius berbahaya, mengalami gangguan pernapasan, kehilangan produktivitas pertanian, dan terancam hak hidupnya.Transisi energi yang sejati tidak bisa dibangun dengan cara menambal sistem lama. Ia harus berpihak pada rakyat bukan pada korporasi pembakar batu bara.
Jika negara sungguh ingin menurunkan emisi, solusinya bukan menambah biomassa, tapi menutup PLTU dan menggantinya dengan energi terbarukan yang tidak mencemari udara maupun menggerus hutan.
Seruan masyarakat untuk menutup PLTU co-firing biomassa bukanlah penolakan terhadap energi hijau, melainkan pembelaan terhadap keadilan ekologis. Karena energi berkelanjutan sejati bukan tentang seberapa banyak biomassa dibakar, tetapi tentang seberapa sedikit rakyat yang dikorbankan.
Redaksi Energi Juang News



