Kasus viral seorang pasien BPJS yang menunggu delapan jam untuk mendapat kamar rawat inap, lalu meninggal dunia dan mendapat cibiran dari oknum tenaga kesehatan di media sosial, menyisakan luka yang dalam. Tapi di balik amarah kolektif itu, ada pertanyaan yang lebih penting untuk kita jawab bersama: bagaimana caranya kita tetap berdaya di tengah sistem kesehatan yang belum sempurna, sembari terus mendorong perbaikannya?
Melawan Stigma “Pasien BPJS Merepotkan”
Langkah pertama yang paling mendesak adalah mengubah cara pandang masyarakat dan sebagian tenaga kesehatan terhadap status kepesertaan BPJS. Selama ini, memakai BPJS kerap dianggap sebagai “kelas dua” yang identik dengan antrean panjang dan pelayanan seadanya. Padahal, konstitusi menjamin setiap warga negara berhak atas pelayanan kesehatan yang layak, dan penanganan pasien semestinya didasarkan pada kebutuhan medis, bukan metode pembayaran. Menormalisasi anggapan bahwa “pasien BPJS itu buruh masyarakat kelas bawah” sama saja dengan membiarkan diskriminasi tumbuh subur. Mindset ini harus mulai diputus, dimulai dari cara kita bicara tentang BPJS sehari-hari di ruang keluarga, media sosial, hingga ruang praktik dokter.
Solusi di Tengah Sistem yang Belum Ideal
Sambil menunggu reformasi besar pada sistem pembiayaan kesehatan, ada langkah-langkah nyata yang bisa kita ambil sebagai individu maupun keluarga agar tidak sepenuhnya bergantung dan tidak terjebak lama dalam antrean fasilitas kesehatan yang padat:
1. Membangun “apotek hidup” di rumah. Menanam dan mengenal tanaman herbal sederhana seperti jahe, kunyit, atau sereh bisa menjadi pertolongan pertama yang murah dan mudah diakses untuk keluhan ringan sehari-hari, sebelum memutuskan perlu tidaknya ke fasilitas kesehatan.
2. Kembali ke pola makan real food. Banyak penyakit tidak menular berakar dari pola makan ultra-proses. Membiasakan konsumsi makanan alami dan minim pengolahan adalah investasi kesehatan jangka panjang yang sekaligus mengurangi beban pada sistem layanan kesehatan.
3. Literasi kesehatan mandiri. Memahami mana keluhan yang bisa ditangani sendiri di rumah dan mana yang benar-benar butuh penanganan medis segera akan membantu masyarakat menggunakan fasilitas kesehatan secara lebih tepat sasaran sehingga pasien dengan kondisi gawat darurat, seperti pada kasus viral ini, tidak semakin lama tertahan karena antrean membeludak.
4. Berani bersuara, bukan menyembunyikan status. Pasien yang menggunakan BPJS berhak menyampaikan keluhan pelayanan tanpa rasa takut dipermalukan. Semakin banyak suara yang terbuka, semakin sulit bagi sistem untuk terus menutup mata terhadap ketimpangan layanan.
Berdaya Bukan Berarti Diam
Penting digarisbawahi: solusi-solusi di atas bukan pengganti reformasi sistemik yang tetap harus diperjuangkan mulai dari perbaikan skema pembiayaan rumah sakit, penambahan fasilitas rujukan seperti ruang perawatan intensif, hingga perlindungan bagi tenaga kesehatan agar tidak terus-menerus bekerja dalam tekanan. Namun, sembari menanti perubahan besar itu terjadi, mengubah mindset dan membangun kemandirian kesehatan adalah bentuk perlawanan paling nyata yang bisa kita mulai hari ini dari rumah, dari cara berpikir, dan dari keberanian untuk tidak lagi menormalisasi ketimpangan.
Sehat yang sesungguhnya dimulai bukan hanya dari kartu BPJS di dompet, tapi dari kesiapan mindset kita menghadapi sistem yang belum sempurna, sambil terus mendorongnya menjadi lebih baik.
Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)




