Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaBerdikari Energi: Jangan Ganti Ketergantungan dari Singapura ke Amerika

Berdikari Energi: Jangan Ganti Ketergantungan dari Singapura ke Amerika

Oleh: Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Energi Juang News, Jakarta– Keputusan pemerintah untuk menghentikan impor BBM dari Singapura seharusnya dipandang sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Ini adalah arah kebijakan yang sejatinya sejalan dengan cita-cita Bung Karno tentang berdikari—berdiri di atas kaki sendiri—yang menekankan pentingnya bangsa Indonesia membangun kekuatan ekonominya sendiri tanpa terlalu bergantung pada negara lain.

Selama bertahun-tahun, Singapura menjadi salah satu sumber impor BBM utama bagi Indonesia, meski faktanya negara itu bukanlah produsen minyak mentah. Hal ini tentu tidak masuk akal secara logika ekonomi. Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, bahkan menyoroti kejanggalan ini, mengungkap bahwa harga BBM dari Singapura setara dengan harga dari negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi.

Berdikari Energi dan Kritik Ketergantungan Impor BBM

Ironisnya, BBM dari Singapura dikirim dengan kapal kecil, yang justru menambah ketidakefisienan dalam logistik. Maka, keputusan menghentikan impor dari Singapura layak didukung karena mendorong efisiensi, menghemat devisa, serta membuka ruang untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri.

Namun sayangnya, langkah ini justru diikuti dengan rencana mengalihkan impor BBM ke Amerika Serikat. Ini jelas merupakan ironi. Mengganti ketergantungan dari Singapura ke Amerika bukanlah wujud dari berdikari, melainkan hanya memindahkan titik ketergantungan. Impor dari Amerika membutuhkan waktu pengiriman hingga 40 hari. Secara logistik dan efisiensi energi, ini sangat memberatkan dan rentan terhadap risiko keterlambatan pasokan. Belum lagi soal ketergantungan spesifikasi minyak mentah tertentu, yang membuat kita semakin tidak fleksibel dalam menentukan strategi energi nasional kita sendiri.

Baca juga : Permintaan ExxonMobil Melanggar Trisakti dan Konstitusi

Dalam konteks geopolitik global, bergantung pada pasokan BBM dari Amerika juga mengundang potensi risiko baru. Bisa saja keputusan tersebut dikendalikan oleh kepentingan perdagangan dan diplomasi luar negeri, bukan semata-mata didasarkan pada kebutuhan energi nasional. Hal ini menciptakan ruang baru bagi permainan mafia migas yang sejak lama menjadi benalu dalam industri energi Indonesia.

Baca juga :  Self-Love, Hadiah Terbaik Bagi Gen Z Di Hari Valentine

Dari Singapura ke Amerika: Substitusi Ketergantungan Baru

Di sinilah pentingnya kita kembali pada semangat berdikari ala Bung Karno. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi besar untuk mengolah minyak sendiri. Daripada terus-menerus mengandalkan pasokan dari luar, mengapa kita tidak mengembangkan kilang-kilang modern yang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri? Apalagi, proyek pembangunan dan revitalisasi kilang di Balikpapan, Tuban, dan beberapa wilayah lain sudah mulai berjalan. Jika dikelola dengan serius dan transparan, Indonesia sebenarnya tidak perlu lagi bergantung pada BBM impor, baik dari Singapura maupun Amerika.

Kemandirian Energi Nasional ala Bung Karno

Kemandirian energi bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal harga diri sebagai bangsa. Berdikari bukanlah slogan kosong, melainkan prinsip yang harus diterjemahkan dalam kebijakan nyata. Maka, mendukung penghentian impor dari Singapura adalah langkah benar, tetapi akan menjadi sia-sia jika kita kembali menciptakan ketergantungan baru dari negeri adidaya seperti Amerika Serikat. Yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukanlah substitusi ketergantungan, melainkan keberanian untuk sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri. Saatnya kita percaya pada kekuatan bangsa ini—mengolah sendiri, menghasilkan sendiri, dan menguasai sendiri sumber energi kita.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments