Jumat, Mei 29, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 83

‘Hobi’ Intoleran di Indonesia dan Zionis Israel: Berangus Kebebasan Beragama

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Peristiwa pencegahan Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, untuk memasuki Gereja Makam Suci dan memimpin Misa Minggu Palma menjadi pengingat pahit bahwa kebebasan beragama masih menjadi komoditas yang rapuh, bahkan di tempat-tempat yang dianggap suci bagi umat manusia. Tindakan aparat Israel tersebut bukan sekadar insiden administratif, melainkan refleksi dari problem yang lebih dalam: pembatasan hak beribadah oleh otoritas yang seharusnya menjamin kebebasan itu.

Dalam perspektif teori hak asasi manusia, sebagaimana ditegaskan oleh pemikir seperti John Rawls, kebebasan beragama adalah bagian dari “basic liberties” yang tidak boleh dikurangi oleh negara dengan alasan apa pun. Negara, dalam hal ini aparat keamanan, seharusnya bertindak sebagai penjaga netral yang memastikan setiap warga—tanpa memandang identitas agama—dapat menjalankan keyakinannya secara aman dan bermartabat.

Ironisnya, praktik serupa juga dapat ditemukan di Indonesia, negara yang secara konstitusional menjamin kebebasan beragama. Kasus penolakan pembangunan gereja di Jalan Turi Raya, Tanjung Senang, Bandar Lampung, menunjukkan bahwa tekanan terhadap kelompok minoritas tidak selalu datang dari negara, tetapi juga dari masyarakat.

Surat penolakan yang ditandatangani puluhan warga dengan alasan mayoritas agama menjadi bukti bahwa logika mayoritarianisme masih kuat mengakar.

Dalam kerangka sosiologi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “tirani mayoritas” yang dipopulerkan oleh Alexis de Tocqueville. Ketika suara mayoritas digunakan untuk membatasi hak dasar minoritas, maka demokrasi kehilangan substansinya. Demokrasi tidak hanya soal jumlah, tetapi juga tentang perlindungan terhadap mereka yang berbeda.

Di sisi lain, Pierre Bourdieu membantu kita memahami bagaimana kekuasaan simbolik bekerja dalam kasus-kasus seperti ini. Penolakan terhadap rumah ibadah sering kali dibungkus dengan legitimasi sosial dan agama, sehingga tampak “wajar”, padahal sejatinya merupakan bentuk dominasi terhadap kelompok yang lebih lemah.

Dengan demikian, yang kita hadapi bukan sekadar peristiwa terpisah antara Yerusalem dan Indonesia, melainkan pola yang serupa: penggunaan kekuasaan—baik oleh negara maupun masyarakat—untuk membatasi ruang hidup kelompok lain. Ini bukan soal menyamakan konteks politik atau sejarah yang berbeda, tetapi mengenali kesamaan pola tindakan yang mengabaikan prinsip dasar kebebasan beragama.

Penting untuk ditegaskan bahwa intoleransi bukanlah sifat inheren suatu bangsa atau kelompok tertentu. Ia adalah sikap yang bisa muncul di mana saja ketika kekuasaan tidak dibatasi oleh prinsip keadilan.

Oleh karena itu, membangun masyarakat yang toleran tidak cukup dengan slogan, tetapi memerlukan komitmen nyata untuk menegakkan hukum secara adil dan mendidik publik tentang pentingnya pluralisme.

Indonesia memiliki fondasi kuat melalui Pancasila dan konstitusi. Namun, fondasi itu akan rapuh jika praktik di lapangan justru membiarkan diskriminasi terus berlangsung.

Kasus di Bandar Lampung seharusnya menjadi alarm bahwa pekerjaan rumah kita belum selesai.

Apa yang terjadi di Yerusalem dan Indonesia mengajarkan satu hal penting: kebebasan beribadah tidak pernah boleh dinegosiasikan. Ketika hak itu dibatasi—oleh siapa pun dan di mana pun—maka yang dipertaruhkan bukan hanya nasib satu kelompok, tetapi masa depan kemanusiaan itu sendiri.

Redaksi Energi Juang News

Aminoto Kosin: Dari Mimpi Pilot Menjadi Maestro Jazz Indonesia

Aminoto Kosin
Aminoto Kosin

Energi Juang News,Jakarta- Dalam dunia musik Indonesia, tidak banyak musisi yang mampu memadukan dedikasi, spiritualitas, dan prestasi internasional secara seimbang. Salah satu sosok yang berhasil melakukannya adalah Aminoto Kosin, seorang musisi yang dikenal luas sebagai arranger, produser, komposer, sekaligus pemain keyboard dengan sentuhan musikal yang khas.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa bakat besar sering kali lahir dari proses panjang yang penuh ketekunan. Apa yang membuat kisahnya menarik bukan hanya prestasi, tetapi juga bagaimana mimpi masa kecilnya perlahan berubah arah hingga akhirnya menemukan panggilan sejatinya di dunia musik.

Seperti banyak anak lainnya, Aminoto Kosin kecil memiliki mimpi yang sederhana namun penuh imajinasi. Ia pernah bercita-cita menjadi seorang pilot. Membayangkan dirinya menerbangkan pesawat di langit luas terasa begitu menakjubkan bagi seorang anak kecil. Namun kehidupan memiliki cara unik untuk mengarahkan seseorang menuju jalan yang berbeda.

Ketika berusia tujuh tahun, Amin mulai belajar piano klasik. Awalnya kegiatan ini hanyalah bagian dari pendidikan musik biasa. Tetapi latihan demi latihan perlahan menumbuhkan rasa penasaran terhadap dunia nada, harmoni, dan komposisi.

Beberapa tahun kemudian, menjelang masa SMP, ia mengajukan permintaan khusus kepada ayahnya: sebuah organ electone. Ayahnya menyetujui, tetapi dengan satu syarat.

Motivasi itu cukup kuat. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasar, Amin akhirnya mendapatkan electone yang diinginkannya. Ia sangat gembira pada awalnya. Namun kegembiraan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Bagi Amin, suara electone terasa monoton. Ia merasa instrumen tersebut tidak memberikan ruang eksplorasi musikal yang luas seperti yang ia bayangkan. Rasa bosan itulah yang justru mengantarnya kembali kepada piano—alat musik yang kelak menjadi pusat hidupnya.

Perjalanan kembali ke piano menjadi titik penting dalam perkembangan musikal Amin. Di fase inilah ia mendapat bimbingan dari Nick Mamahit, seorang musisi yang berperan besar dalam mengarahkan kemampuan pianonya.

Di bawah bimbingan tersebut, Amin mulai memahami musik secara lebih mendalam: bukan sekadar memainkan nada, tetapi juga merasakan emosi dan struktur komposisi di dalamnya. Ia pun menyadari sesuatu yang penting: musik bukan sekadar hobi. Musik adalah jalur hidupnya.

Sejak saat itu, ia berlatih dengan disiplin tinggi. Ia percaya bahwa kerja keras adalah bentuk penghargaan terhadap apa yang sedang kita kerjakan. Prinsip sederhana ini menjadi fondasi bagi perjalanan kariernya di masa depan. Kerja keras Amin akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.

Pada tahun 1985, ketika usianya baru 25 tahun, ia meraih pengakuan internasional dengan memenangkan dua penghargaan bergengsi di Boston, Amerika Serikat: Jazz Master Award & Oscar Peterson Award.

Prestasi ini sangat membanggakan, karena tidak banyak musisi Indonesia yang mampu meraih penghargaan jazz internasional pada usia muda. Pencapaian tersebut juga membuktikan bahwa musisi Indonesia mampu bersaing di panggung dunia.

Di dalam negeri, Amin dikenal luas sebagai pemain keyboard dari band jazz legendaris Karimata. Grup ini merupakan salah satu pionir jazz fusion Indonesia yang memadukan unsur jazz modern dengan nuansa musik Indonesia. Melalui Karimata, Amin menunjukkan kemampuan musikalnya yang luar biasa dalam: improvisasi, aransemen, harmoni jazz modern.

Sentuhan aransemennya membuat banyak karya musik terdengar lebih hidup dan kompleks. Seiring waktu, karier Amin berkembang jauh melampaui panggung pertunjukan. Ia mendirikan Aminoto Kosin Productions, sebuah rumah produksi musik yang fokus pada: aransemen musik, produksi rekaman, konser dan pertunjukan musik

Selain itu, sejak Februari 2020 ia dipercaya menjadi Music Director dan Conductor di Jakarta Philharmonic Orchestra. Posisi ini menunjukkan reputasinya yang kuat dalam dunia musik orkestra dan komposisi.

Kariernya juga terus berkembang. Pada Januari 2025, ia menjabat sebagai Director di perusahaan musik Ninenote Music, yang berfokus pada pengembangan karya musik modern. Bagi Amin, kesuksesan bukan hanya tentang prestasi pribadi.

Ia juga ingin menularkan ilmu dan pengalaman kepada generasi muda. Karena itulah ia mendirikan Aminoto Kosin Music School pada tahun 2006. Sekolah musik ini menjadi tempat bagi banyak siswa untuk belajar: jazz, komposisi musik, improvisasi, teknik piano modern.

Banyak muridnya kemudian berkembang menjadi musisi profesional. Dedikasi ini menunjukkan bahwa Amin bukan hanya seorang performer, tetapi juga seorang pendidik yang berkomitmen membangun masa depan musik Indonesia.

Hal lain yang membuat perjalanan Aminoto Kosin berbeda adalah kedalaman spiritualitasnya. Ia percaya bahwa semua kemampuan yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Karena itu, ia melihat musik bukan hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan.

Ia aktif berbagi ilmu musik di berbagai gereja, bahkan hingga ke pelosok Indonesia dan India. Bagi Amin, musik dapat menjadi bahasa universal yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

Semangat musikal Amin juga diteruskan dalam keluarganya. Putri sulungnya, Pamela Kosin, mengikuti jejaknya sebagai musisi internasional dan kini berkarier sebagai komposer di Amerika Serikat.

Ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap musik dalam keluarga Kosin tidak berhenti pada satu generasi saja. Selain aktivitas musikalnya, Amin dikenal sebagai penyayang binatang dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.

Kepribadiannya yang rendah hati membuat banyak orang menghormatinya bukan hanya sebagai musisi hebat, tetapi juga sebagai pribadi yang inspiratif. Kisah hidupnya mengingatkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan sering kali dimulai dari langkah kecil seperti seorang anak yang belajar piano di usia tujuh tahun.

Redaksi Energi Juang News

Misteri Penjaga Danau di Desa Hutan Sunyi

Buaya Putih
Buaya Putih

Energi Juang News,Pemalang- Kabut pagi selalu turun lebih cepat di desa kecil itu. Desa yang berada di pinggiran hutan Guci Pemalang lebat tersebut dikenal adem, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Pepohonan tinggi seperti pagar alami yang melindungi rumah-rumah kayu sederhana milik warga sekitar Pemalang.

Bagi orang luar, desa itu terlihat damai. Burung berkicau, udara sejuk, dan aroma tanah basah dari hutan selalu terasa segar.

Namun bagi sebagian warga lama, ketenangan itu hanya lapisan tipis yang menutupi sesuatu yang jauh lebih tua… dan jauh lebih gelap.

Kisah ini bermula ketika keluarga Parman memutuskan pindah ke desa tersebut. Parman, istrinya Mimin, dan anak mereka Dika ingin hidup lebih tenang jauh dari keramaian kota.

Hari pertama mereka tiba, beberapa warga menyambut dengan ramah. Tapi ada sesuatu yang aneh dari tatapan mereka—seolah sedang menilai apakah keluarga baru ini bisa dipercaya atau tidak.

“Kalau butuh apa-apa bilang saja, Pak,” kata seorang lelaki tua bernama Pak Joyo.

Parman tersenyum.
“Terima kasih, Pak. Kami masih menyesuaikan diri.”

Warga hanya mengangguk pelan.

Beberapa hari kemudian, Parman mulai mendengar cerita-cerita aneh dari tetangga.

Katanya setiap pendatang baru wajib mengikuti sebuah ritual penghormatan kepada sesuatu yang mereka sebut “penjaga danau.”

Tak ada yang menjelaskan lebih jauh.

“Pokoknya ikut saja,” kata seorang ibu tua pada Mimin.
“Di sini memang begitu aturannya.”

“Penjaga danau itu apa?” tanya Mimin penasaran.

Ibu itu hanya tersenyum tipis.

“Lebih baik jangan banyak tanya.”

Tatapan ibu itu membuat Mimin merasakan hawa dingin yang aneh.

Malam sebelum ritual, udara desa berubah.

Angin dari arah hutan bertiup lebih dingin dari biasanya. Aroma lembab yang tajam masuk melalui celah-celah dinding rumah kayu.

Daun-daun berdesir pelan.

Seolah ada sesuatu yang berjalan di antara pepohonan.

Mimin tidak bisa tidur.

Ia menatap langit-langit kamar sambil memeluk selimut.

“Mas… kamu dengar suara itu?” bisiknya pada Parman.

Parman mengangkat kepala.

“Apa?”

“Kayak… langkah kaki di luar.”

Parman bangkit dan membuka sedikit jendela.

Di luar hanya terlihat pepohonan yang bergoyang perlahan.

“Cuma angin,” katanya menenangkan.

Tapi saat jendela ditutup, terdengar cipratan air jauh dari arah danau.

Padahal jaraknya hampir setengah kilometer.

Pagi berikutnya seluruh warga desa berjalan menuju danau.

Danau itu besar dan tenang, dikelilingi pohon besar yang akarnya menjalar hingga ke air.

Suasana terasa berbeda.

Tak ada tawa.

Semua orang berdiri rapi menghadap air.

Beberapa membawa bunga dan dupa.

Pak Joyo memberi isyarat kepada Parman.

“Lemparkan bunga ke air. Itu tanda penghormatan.”

Parman mengikuti tanpa banyak bertanya.

Saat bunga-bunga jatuh ke permukaan danau, angin tiba-tiba bertiup kencang.

Ranting pohon berderak keras.

Air danau bergelombang meski tidak ada perahu.

Dika yang berdiri di dekat ayahnya tiba-tiba menegang.

“Ayah…” bisiknya.

“Ada apa?”

“Aku lihat sesuatu di air.”

Parman menoleh.

“Apa?”

“Kayak… bayangan putih.”

Namun saat Dika berkedip, bayangan itu hilang.

Danau kembali tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Warga hanya saling pandang dengan wajah tegang.

Sejak ritual itu, desa terasa berbeda.

Orang-orang jadi lebih pendiam.

Malam hari terasa lebih sunyi dari biasanya.

Angin yang masuk melalui dinding kayu kadang terdengar seperti bisikan pelan.

Suatu malam, Mimin kembali terbangun.

Ia merasa seperti ada yang memperhatikan rumah mereka.

Ia membuka jendela perlahan.

Dari kejauhan terlihat danau yang memantulkan cahaya bulan.

Airnya tenang.

Tapi tiba-tiba terdengar suara riak perlahan.

Seolah ada sesuatu besar bergerak dari dasar danau.

Mimin menutup jendela dengan tangan gemetar.

Keesokan harinya, Parman memutuskan mencari jawaban.

Ia pergi ke rumah Mbah Kirun, tetua desa yang dikenal mengetahui banyak hal gaib.

Rumahnya berada di pinggir hutan, dikelilingi pohon tua.

Mbah Kirun duduk di beranda sambil menyalakan pipa tembakau.

“Aku tahu kenapa kamu datang,” katanya pelan.

Parman terdiam.

“Mbah… sebenarnya apa penjaga danau itu?”

Mbah Kirun menatap ke arah hutan sebelum menjawab.

“Buaya putih.”

Parman terkejut.

“Buaya?”

“Bukan buaya biasa,” lanjut Mbah Kirun.
“Itu makhluk tua. Penjaga danau sejak desa ini belum ada.”

“Maksudnya?”

“Dia muncul saat desa dalam bahaya… atau saat ada yang melanggar aturan.”

Parman menelan ludah.

“Pernah ada yang melihatnya?”

Mbah Kirun mengangguk pelan.

“Beberapa orang. Dan mereka semua bilang hal yang sama…”

“Apa?”

“Matanya… seperti manusia.”

Sejak hari itu, Dika mulai merasa aneh setiap melewati jalan dekat danau.

Kadang ia melihat sosok putih berdiri di tepi air.

Diam.

Tidak bergerak.

Namun setiap kali ia mendekat untuk memastikan, sosok itu selalu menghilang.

Suatu sore Dika berlari pulang dengan napas terengah.

“Ayah! Aku lihat lagi!”

“Lihat apa?”

“Orang… atau sesuatu… di danau!”

Parman mencoba menenangkan anaknya, tapi dalam hatinya ia mulai merasa takut.

Beberapa minggu kemudian desa mengadakan pesta.

Wayang kulit dipentaskan di lapangan.

Musik gamelan mengalun pelan.

Anak-anak berlarian.

Lampu minyak menggantung di mana-mana.

Suasana terlihat meriah.

Keluarga Parman ikut duduk bersama warga menikmati hidangan.

Namun di tengah keramaian itu, dua orang asing mendekati Dika.

Wajah mereka pucat.

Mereka tidak berkata banyak.

Salah satu dari mereka menyerahkan amplop kecil.

“Untukmu,” katanya singkat.

“Dari siapa?” tanya Dika bingung.

Kedua orang itu tidak menjawab.

Mereka hanya menatap danau sebentar… lalu pergi.

Dika membuka amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada sehelai daun cokelat tua.

Ujungnya menggulung.

Baunya lembab seperti tanah basah.

“Ini apa?” tanya Mimin.

Parman memegang daun itu.

Tangannya langsung terasa dingin.

Mbah Kirun yang kebetulan lewat melihatnya.

Wajahnya berubah pucat.

“Kalian sudah dipilih,” katanya pelan.

“Dipilih untuk apa?” tanya Parman.

Mbah Kirun menatap ke arah danau.

“Untuk dijaga.”

Malam itu, ketika pesta selesai dan lampu mulai padam, keluarga Parman berjalan pulang.

Angin bertiup dari arah danau.

Permukaan air berkilau di bawah cahaya bulan.

Dan untuk sesaat…

Parman melihat sesuatu muncul di tengah danau.

Sebuah punggung putih besar.

Lalu dua mata yang berkilau menatap ke arah darat.

Makhluk itu tidak menyerang.

Ia hanya diam… seolah mengawasi.

Parman menggenggam tangan istrinya.

“Sekarang aku mengerti,” bisiknya.

“Apa?”

“Kita bukan cuma pendatang di desa ini.”

“Apa maksudmu?”

Parman menatap danau sekali lagi.

“Kita sekarang bagian dari rahasia yang dijaga tempat ini.”

Air danau kembali tenang, tapi jauh di dalamnya sesuatu masih bergerak perlahan menunggu dan mengawasi.

Karena penjaga danau tidak pernah benar-benar pergi.

Redaksi Energi Juang News

Cinta Segitiga Berujung “Double Kejutan”

selingkuh dua gadis
selingkuh dua gadis

Energi Juang News, Bengkulu- Di sebuah kampung yang tenang di Bengkulu Utara, hidup seorang pemuda yang jadi buah bibir warga. Bukan karena prestasi, bukan juga karena kekayaan, melainkan karena kisah cintanya yanglebih mirip sinetron komedi murahan daripada kehidupan nyata.

Namanya Jeki, 23 tahun. Wajahnya lumayan bikin cewek-cewek menoleh dua kali. Rambut klimis amis, senyum manis, dan gaya percaya diri yang kadang lebih besar daripada isi dompetnya yang tipis.

“Dia itu modal tampang doang, tapi percaya dirinya kayak pejabat,” celetuk Pak RT suatu sore sambil menyeruput kopi.

Namun justru itulah yang jadi “senjata utama” Jeki. Dengan tampangnya, ia mampu menaklukkan hati banyak perempuan tanpa perlu janji masa depan yang jelas jelas amat.

Di antara banyaknya gebetan, ada dua nama yang paling serius: Mintul dan Mimin. Keduanya sama-sama masih muda, cantik, bodi lumayan kinyis kinyis dan yang paling penting sama-sama tidak tahu keberadaan satu sama lain.

Dalam urusan PDKT Jeki sangat pintar membagi waktu. Terbersit dalam benaknya, sekali dayung sentolop dua gadis bisa digagahi.

“Kalau pagi samaMintul, sore sama Mimin. Malam? Ya… lihat situasi,” katanya suatu ketika sambil tertawa.

Temannya, Parno, hanya geleng-geleng kepala.
“Lu ini bukan bagi waktu, tapi bagi masalah, Jek.”

Namun Jeki tidak peduli. Baginya, selama semuanya berjalan mulus, hidup terasa seperti liburan panjang.

Baik Mintul maupun Mimin sama-sama yakin bahwa mereka adalah satu-satunya wanita di hati Jeki. Bahkan keduanya sudah mulai membayangkan masa depan bersama.

“Dia janji mau serius sama aku,” kata Mintul kepada sahabatnya.
“Ih, sama! Dia juga bilang gitu ke aku,” kata Mimin—tanpa tahu mereka membicarakan orang yang sama.

Beberapa bulan berlalu, hubungan Jeki dan Mintul semakin dekat. Keahlian Jeki dengan janji mau dinikahi, seenak udelnya ia menggagahi Mintul hingga ngidam.

Suatu hari, Mintul datang dengan wajah pucat ke rumah Jeki.

“Mas… aku hamil,” katanya pelan.

Jeki terdiam. Untuk pertama kalinya, senyum percaya dirinya goyah.

“Yakin?” tanyanya.

Mintul mengangguk.

Tak butuh waktu lama, keluarga Mintul datang membawa “rombongan tekanan” meminta Jeki tanggung jawab.

“JAngan mau enaknya doang, sampe kebablasan. pake yang bener itu sentolop” tegas ayah Mintul.

Mau tidak mau, Jeki menikahi Mintul. Usianya belum genap 24 tahun, tapi statusnya sudah berubah jadi suami… sekaligus calon ayah.

“Gue kira hidup gue bakal santai, ternyata malah jadi bapak-bapak,” keluhnya ke Parno.

Parno hanya tertawa.
“Selamat ya, petualang cinta. Level baru: suami panik.”

Beberapa bulan setelah menikah, Mintul melahirkan. Keluarga besar bahagia. Meski semua tahu kehamilan itu “terjadi terlalu cepat”, mereka memilih untuk tidak mempermasalahkan.

“Yang penting sekarang sudah sah,” kata ibu Mintul.

Jeki mulai mencoba menjalani perannya sebagai suami. Meski kadang masih suka melamun, mungkin merindukan masa-masa bebasnya dulu.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Suatu siang, saat Jeki sedang santai di rumah, tiba-tiba seorang wanita datang dengan langkah cepat.

Mimin pacar keduanya yang kali ini, ada yang berbeda karena perutnya membesar.

Jeki pun langsung pucat.

“Mas, kita perlu bicara,” kata Mimin dengan nada serius.

Mintul yang mendengar suara itu keluar dari dalam rumah.

“Siapa ini?” tanyanya.

Mimin menatap Mintul, lalu kembali ke Jeki.
“Ini istrimu?”

Jeki hanya bisa mengangguk pelan.

Suasana langsung tegang.

“Bagus,” kata Mimin dingin.
“Sekarang jelaskan ke dia… kenapa aku juga hamil anakmu.”

Mintul pun terkejut.
“Apa?!”

Dalam kondisi terjepit seperti itu,Jeki kalo punya ajian menghilang tentu sudah dilakukan.

Tapi karena ulahnya ia tak berkutik, dan hanya bisa menekuk wajah memelas. Kedua insan yang mendapat servis sentolop Jeki itupun terlibat perdebatan pun tak terhindarkan.

“Jadi selama ini kamu selingkuh?” teriak Mintul.

“Bukan selingkuh, cuma… multitasking,” jawab Jeki gugup.

“Multitasking ndass mu!” bentak Mintul.

Mimin ikut angkat bicara.
“Mas, aku nggak mau tahu. Kamu harus tanggung jawab. Kalau tidak, keluargaku akan lapor polisi.”

Jeki plonga plongo menatap ke kiri dan kanan, berharap ada pintu rahasia untuk kabur, namun tidak ada.

Di tengah kekacauan itu, seseorang—entah siapa—mengusulkan ide yang membuat semua terdiam.

“Ya sudah… nikahi saja dua-duanya.”

Semua menoleh.

Jeki terlihat seperti menemukan secercah harapan.

“Iya juga ya…” gumamnya.

Namun Mintul langsung berdiri.
“Jangan mimpi!”

Mimin pun menggeleng.
“Aku nggak mau berbagi!”

Parno yang mendengar cerita itu kemudian hanya bisa tertawa terbahak-bahak.

“Lu kira ini sinetron, Jek? Bisa happy ending semua?”

Parno menepuk bahunya berseloroh,
“Harusnya mikir dari awal bagi ke gue, bukan lu embat dua duanya.”

Redaksi Energi Juang News

Guru MTs Depok Sebar Jasa Mesum, Kasus Viral

Guru MTs Depok Sebar Jasa Mesum, Kasus Viral

Energi Juang News, Depok- Viral di media sosial, seorang pria dilabrak emak-emak di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan karena diduga menyebarkan selebaran jasa mesum kepada anaknya. Belakangan, pria berinisial IK diketahui berprofesi sebagai guru madrasah tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Sawangan, Depok.

Peristiwa ini memicu perhatian publik dan mendorong pihak terkait segera mengambil langkah tegas.

Kemenag Benarkan Status Pelaku sebagai Guru MTs

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Depok, Enjat Mujiat, membenarkan bahwa IK merupakan salah satu guru di MTs wilayah Kedaung, Sawangan.

“Benar itu salah satu guru Mts di Kedaung, Kecamatan Sawangan,” kata Enjat pada Senin, 30 Maret 2026.

Enjat mengaku telah menerima laporan dari pengawas wilayah terkait kasus yang viral tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pihak yayasan telah menonaktifkan IK dari jabatannya.

“Hari ini kami memanggil kepala sekolah dan pihak yayasan,” ucap Enjat.

Yayasan Nonaktifkan Pelaku, Proses Hukum Berjalan

Perwakilan yayasan, Jarkasih, juga mengonfirmasi bahwa IK merupakan pengajar sekaligus operator di sekolah tersebut.

Baca juga : Sopir Taksi Online Perkosa Wanita di Depok, Polisi Tangkap Pelaku

“Beliau juga sebagai operator di sini,” tutur Jarkasih saat ditemui pada Senin, 30 Maret 2026.

Pihak yayasan langsung menggelar rapat internal dan memutuskan untuk menonaktifkan IK, baik sebagai guru maupun operator. Keputusan itu berlaku sejak Jumat pekan lalu.

Rekam Jejak Mengajar dan Respons Sekolah

Menurut Jarkasih, IK telah mengajar sejak 2017 dan dikenal memiliki dedikasi tinggi. Ia kerap datang lebih awal dan pulang paling akhir dibandingkan guru lain.

“Boleh dikatakan guru yang punya tipe luar biasa, pagi itu sudah standby, pulang juga terakhir. Ini pribadi beliau. Sehingga di kami itu guru-guru ya enggak punya curiga apa-apa gitu,” ucap Jarkasih.

Meski demikian, pihak sekolah mengaku terkejut atas kasus yang mencuat ke publik tersebut.

Pengakuan Pelaku dan Klarifikasi ke Sekolah

Pihak yayasan telah memanggil IK untuk memberikan klarifikasi di kediamannya pada Minggu, 29 Maret 2026. Dalam pertemuan itu, IK mengakui keterlibatannya dalam unggahan yang viral.

“IK sejak 2014 sudah mengidap penyakit HIV. Beliau masuk ke MTs sini 2017. Adapun proses masuknya di luar jangkauan kami karena memang kepala sekolah sebelumnya sudah meninggal,” ujar Jarkasih.

Namun, IK membantah tuduhan bahwa dirinya kerap menawarkan jasa mesum kepada siswa. Ia mengaku penyebaran selebaran tersebut baru dilakukan satu kali.

“Tapi, IK mengaku penyebaran itu baru sekali-kalinya dilakukan, sebelumnya kami gak tau, cuma pengakuan dia penyebaran penawaran jasa itu melalui kertas baru ini saja, sebelumnya saya enggak paham, apa melalui media sosial lainnya atau apa,” kata Jarkasih.

Penanganan Kasus oleh Aparat

Kasus ini kini ditangani oleh pihak kepolisian setempat. Sementara itu, Kementerian Agama terus berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memastikan penanganan berjalan sesuai aturan.

Redaksi Energi Juang News

DPR Minta Penahanan Amsal Sitepu Ditangguhkan

DPR Minta Penahanan Amsal Sitepu Ditangguhkan

Energi Juang News, Jakarta— Komisi III DPR RI mengambil sikap tegas dalam perkara dugaan korupsi pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dalam rapat resmi, lembaga legislatif ini menyatakan siap menjadi penjamin bagi terdakwa dan mendorong adanya keringanan putusan.

Rapat dengar pendapat umum digelar bersama Amsal Sitepu yang mengikuti secara daring dari Nusantara II, DPR RI, Jakarta, Senin (30/3/2026). Hasilnya, seluruh fraksi menyepakati lima poin penting yang menjadi sikap resmi Komisi III.

DPR Ajukan Penangguhan Penahanan

Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, menyampaikan langsung salah satu poin utama hasil rapat tersebut.

Komisi III DPR RI mengajukan agar Saudara Amsal Christy Sitepu diberikan penangguhan penahanan dengan Komisi III DPR RI sebagai penjamin,” kata Habiburokhman.

Tak berhenti di situ, DPR juga mendorong agar Amsal dibebaskan atau setidaknya mendapatkan hukuman ringan, dengan mempertimbangkan fakta persidangan.

Hakim Diminta Pertimbangkan Keadilan Substantif

Dalam pernyataannya, DPR menekankan pentingnya keadilan substantif dibanding sekadar kepastian hukum formal.

“Komisi III DPR RI menyerukan agar Majelis Hakim dalam perkara Saudara Amsal Christy Sitepu untuk mempertimbangkan putusan bebas, atau setidaknya ringan, berdasarkan fakta persidangan serta menggali, memahami, dan mengikuti nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, termasuk bagi pekerja industri kreatif sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat 2 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman,” ucap Habiburokhman.

Baca juga : Pengacara Tegaskan Amsal Sitepu Tak Ada Niat Korupsi

Seluruh fraksi pun menyatakan sepakat atas kesimpulan tersebut.

“Sepakat?” tanya Habiburokhman.
“Sepakat,” jawab seluruh fraksi.

Sorotan pada Industri Kreatif

Komisi III menilai perkara ini tidak bisa dilepaskan dari karakter pekerjaan di sektor kreatif. Penentuan nilai kerja videografi dianggap tidak memiliki standar baku yang kaku.

Aktivitas seperti penyusunan konsep, pengambilan gambar, editing, hingga dubbing dinilai sebagai proses kreatif yang tidak bisa dihitung secara sederhana atau disamaratakan dengan harga tetap.

Fokus pada Pemulihan Kerugian Negara

Dalam kasus ini, nilai kerugian negara disebut mencapai Rp202 juta. DPR menilai pendekatan hukum seharusnya lebih menitikberatkan pada pemulihan kerugian, bukan sekadar pemenjaraan.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif untuk mencapai tujuan penegakan hukum, dibandingkan dengan orientasi hukuman semata.

Peringatan soal Overkriminalisasi

Komisi III juga mengingatkan agar penanganan kasus ini tidak menimbulkan dampak negatif bagi industri kreatif nasional.

Putusan yang terlalu keras dikhawatirkan menjadi preseden buruk dan memicu overkriminalisasi terhadap pelaku kreatif. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan sektor yang tengah berkembang di Indonesia.

Lima Poin Sikap Resmi DPR

Berikut lima poin kesimpulan rapat Komisi III DPR:

  1. Penegakan hukum harus mengedepankan keadilan substantif dibanding formalistik.
  2. Fokus utama pemberantasan korupsi adalah pemulihan kerugian negara.
  3. Putusan pengadilan tidak boleh merugikan iklim industri kreatif.
  4. Hakim diminta mempertimbangkan putusan bebas atau ringan.
  5. DPR siap menjadi penjamin untuk penangguhan penahanan Amsal Sitepu.

Redaksi Energi Juang News

Hegemoni Tanpa Mesiu: Belajar dari Negeri Gingseng dan Negeri Sakura

Hegemoni Tanpa Mesiu: Belajar dari Negeri Gingseng dan Negeri Sakura

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan pada 29 Maret hingga 2 April 2026 bukan sekadar agenda rutin pengisian stempel paspor kenegaraan. Di balik jabat tangan formal dan jamuan makan malam yang kaku, terselip sebuah ironi besar yang terus menghantui Jakarta mengenai bagaimana dua negara Asia Timur ini berhasil melakukan “invasi” global tanpa melepaskan satu butir peluru pun.

Sementara Indonesia masih sering terjebak dalam perdebatan nostalgik mengenai definisi kepribadian bangsa di kolom komentar media sosial, Jepang dan Korea Selatan telah lama melampaui fase tersebut dengan menjadikan budaya sebagai hulu ledak ekonomi dan politik yang paling mematikan.

Jepang dan Korea Selatan merupakan anomali yang indah dalam sejarah modern karena keduanya tidak hanya bangkit dari puing-puing kehancuran perang, tetapi bertransformasi menjadi raksasa yang kedaulatan politiknya justru dipertegas melalui soft power. Secara akademik, fenomena ini adalah manifestasi nyata dari smart power, yakni penggabungan antara kapasitas ekonomi yang tangguh dengan daya tarik budaya yang tak tertahankan. Jepang, misalnya, berhasil mengomodifikasi estetika tradisionalnya menjadi industri bernilai miliaran dolar melalui anime, video game, dan filosofi omotenashi yang presisi.

Mereka tidak memohon untuk disukai oleh dunia; mereka menciptakan standar kualitas tinggi yang membuat dunia merasa perlu untuk menyukai mereka. Di sisi lain, Korea Selatan melakukan manuver yang jauh lebih agresif melalui Hallyu. Seoul membuktikan bahwa budaya bukanlah barang museum yang berdebu dan kaku, melainkan komoditas strategis yang mampu menciptakan daya tawar politik luar biasa, membuat negara-negara besar berpikir dua kali untuk mengabaikan mereka karena pengaruh massa pengikut budayanya yang lintas batas.

Melihat keberhasilan tersebut, sudah saatnya Indonesia berhenti hanya menjadi penonton yang terpukau atau sekadar konsumen yang loyal terhadap produk kreatif tetangga. Kunjungan Presiden Prabowo harus menjadi titik balik transisi dari diplomasi yang sifatnya reaktif menuju diplomasi kreatif yang berdaulat. Indonesia memiliki modal kekayaan budaya yang jauh lebih beragam, namun sayangnya seringkali masih dikelola dengan mentalitas proyek tahunan yang dangkal daripada sebuah strategi industri jangka panjang yang terintegrasi.

Untuk mencapai level kedaulatan yang sama, Indonesia perlu segera melakukan institusionalisasi budaya sebagai industri yang serius. Hilirisasi ekonomi tidak boleh hanya berhenti pada komoditas nikel atau mentah lainnya, tetapi harus merambah pada “hilirisasi kreativitas” di mana negara hadir membangun infrastruktur pasar yang memungkinkan talenta muda hidup sejahtera dari karyanya.

Kedaulatan narasi juga menjadi kunci utama agar kita tidak lagi didefinisikan oleh agen luar atau sekadar menjadi pasar bagi narasi bangsa lain. Kita memerlukan ekosistem yang mampu memproduksi konten berkualitas tinggi dengan cita rasa lokal yang kompetitif secara global. Jika kunjungan ke Tokyo dan Seoul ini hanya berakhir pada penandatanganan MoU investasi manufaktur tanpa ada serapan ide strategis mengenai bagaimana membangun industri kreatif yang identik dengan gaya sendiri, maka kita sebenarnya sedang berjalan di tempat.

Kita tidak perlu menjadi Jepang kedua atau Korea Selatan berikutnya, tetapi kita harus menjadi Indonesia yang cukup cerdas untuk memahami bahwa di abad ke-21, kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari jumlah tank di jalanan, melainkan dari seberapa kuat irama budaya kita mampu menggetarkan dunia.

Jika tidak, kita akan selamanya menjadi tamu yang sangat sopan di rumah orang lain, sibuk memuji keindahan taman mereka sambil lupa bahwa kita memiliki hutan belantara potensi yang belum tersentuh.

Redaksi Energi Juang News

UNIFIL RI Diserang di Lebanon, 1 Tewas

UNIFIL RI Diserang di Lebanon, 1 Tewas

Energi Juang News, Jakarta- Serangan di wilayah selatan Lebanon kembali memakan korban dari pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Insiden terbaru terjadi di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3) malam, menewaskan satu personel yang bertugas di area tersebut.

Kronologi Insiden di Adchit Al Qusayr

Pasukan penjaga perdamaian yang tergabung dalam misi PBB dilaporkan menjadi korban setelah sebuah proyektil meledak di sekitar pos mereka. Ledakan itu menyebabkan satu prajurit meninggal dunia di lokasi kejadian.

“Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di pos UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” demikian pernyataan UNIFIL, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (30/3).

Pihak UNIFIL langsung merespons insiden tersebut dengan membuka penyelidikan untuk mengungkap sumber serangan.

“Kami tidak mengetahui asal usul proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menginvestigasi peristiwa ini,” lanjut badan PBB tersebut.

Dugaan Serangan ke Markas Indonesia

Sebelumnya, Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan adanya serangan militer Israel yang menyasar markas unit Indonesia di wilayah yang sama. Serangan itu terjadi pada Minggu dan sempat dilaporkan menyebabkan sejumlah personel mengalami luka-luka.

Informasi awal menunjukkan bahwa markas yang diserang berada tidak jauh dari lokasi ledakan yang menewaskan personel penjaga perdamaian.

Peran UNIFIL di Wilayah Konflik

Pasukan UNIFIL ditempatkan di Lebanon selatan untuk memantau situasi keamanan di sepanjang garis demarkasi antara Lebanon dan Israel. Kawasan ini sering menjadi titik panas akibat bentrokan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Baca juga : SBY Minta PBB Setop Penugasan UNIFIL

Saat ini, UNIFIL memiliki sekitar 10.000 personel dari berbagai negara. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.200 di antaranya merupakan prajurit TNI yang bertugas menjaga stabilitas kawasan.

Eskalasi Konflik Picu Risiko bagi Pasukan Perdamaian

Ketegangan di kawasan meningkat sejak pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam situasi tersebut, Israel kembali menggencarkan serangan ke wilayah Lebanon, terutama menargetkan Hizbullah.

UNIFIL mencatat markas mereka beberapa kali terdampak serangan. Pada 7 Maret lalu, tiga tentara asal Ghana dilaporkan terluka akibat insiden serupa.

Redaksi Energi Juang News

9,6 Juta Wajib Pajak Lapor SPT, Deadline Diperpanjang

9,6 Juta Wajib Pajak Lapor SPT, Deadline Diperpanjang

Energi Juang News, Jakarta- Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat hingga Sabtu, 28 Maret 2026, sebanyak 9,6 juta Wajib Pajak (WP) telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) untuk tahun pajak 2025. Angka ini setara 62,86 persen dari target pelaporan sebesar 15,27 juta SPT.

Realisasi Pelaporan Capai Lebih dari 60 Persen

Berdasarkan keterangan resmi DJP pada Senin, 30 Maret 2026, total pelaporan mencapai 9.665.246 SPT. Rinciannya, sebanyak 9.466.060 berasal dari wajib pajak orang pribadi, 197.466 dari badan usaha, serta 1.720 dari badan usaha dengan tahun buku berbeda.

Di sisi lain, aktivasi akun Coretax DJP juga menunjukkan perkembangan signifikan dengan jumlah mencapai 17.143.733 pengguna.

Tenggat Waktu Diperpanjang hingga Akhir April

Pemerintah memutuskan memperpanjang batas pelaporan SPT untuk wajib pajak orang pribadi hingga 30 April 2026. Semula, batas waktu ditetapkan pada 31 Maret.

Kebijakan ini diambil karena periode pelaporan beririsan dengan libur Lebaran serta adanya kendala teknis pada sistem Coretax. Sementara itu, batas waktu pelaporan untuk wajib pajak badan usaha tetap pada 30 April.

Sanksi Dihapus Selama Masa Perpanjangan

Seiring perpanjangan waktu, DJP juga memberikan relaksasi berupa penghapusan sanksi administratif. Kebijakan ini berlaku bagi wajib pajak yang menyampaikan SPT selama periode tambahan.

“Setelah tanggal 31 Maret 2026 sampai dengan tanggal 30 April 2026, diberikan penghapusan sanksi administratif, baik berupa denda maupun bunga,” demikian bunyi pengumuman resmi DJP, Jumat, 27 Maret 2026.

Relaksasi ini mencakup pelaporan SPT PPh tahun pajak 2025, pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 29, hingga pelunasan kekurangan pembayaran pajak.

Kendala Coretax Jadi Alasan Utama

Keputusan perpanjangan tenggat tidak lepas dari masa transisi penggunaan sistem Coretax. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengakui adanya hambatan teknis yang dirasakan pengguna, terutama masyarakat awam.

Ia bahkan mengaku mengalami kendala saat melakukan pelaporan.

“Terus terang saya tidak mengisi sendiri, saya ditemani oleh orang pajak. Masuk (ke sistem), berputar lagi, empat kali baru bisa masuk,” ucapnya pada, Rabu (25/03/2026).

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk memberikan tambahan waktu selama satu bulan.

Redaksi Energi Juang News

Kasus Amsal Sitepu: Penumbalan Pekerja Kreatif Oleh Hukum Negara

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Kasus yang menjerat videografer Amsal Christy Sitepu membuka satu persoalan serius dalam tata kelola hukum dan keuangan publik di Indonesia: kecenderungan menjadikan pekerja teknis sebagai “kambing hitam” ketika dugaan kerugian negara mencuat. Dalam perkara proyek pembuatan video profil 20 desa di Kabupaten Karo (2020–2022), Amsal—melalui CV Promiseland—dituduh melakukan mark up anggaran, meskipun seluruh pekerjaan telah disepakati, direvisi, diselesaikan, dan dibayar tanpa protes dari pihak desa.

Yang mengundang tanda tanya bukan hanya tudingan itu sendiri, tetapi juga logika di baliknya. Jaksa mendasarkan dakwaan pada perhitungan ahli dan auditor yang menyebut sejumlah komponen kerja kreatif—seperti konsep, clip on, editing, hingga dubbing—“seharusnya Rp0”. Klaim ini bukan sekadar problem teknis, melainkan mencerminkan kegagalan memahami watak kerja dalam industri kreatif.

Dalam perspektif sosiologi kerja, Karl Marx sejak awal telah mengingatkan tentang relasi kuasa dalam produksi: mereka yang tidak menguasai alat produksi dan pengambilan keputusan akan selalu berada dalam posisi rentan untuk dieksploitasi—atau dalam konteks ini, dikorbankan. Amsal sebagai pekerja kreatif jelas tidak memiliki otoritas menentukan struktur anggaran publik desa, apalagi melakukan penggelembungan secara sistemik. Ia adalah penyedia jasa, bukan pengendali kebijakan.

Pandangan ini diperkuat oleh Pierre Bourdieu melalui konsep field dan capital. Dalam “arena” birokrasi dan hukum, pekerja kreatif seperti Amsal memiliki modal simbolik dan kultural, tetapi minim modal kekuasaan. Ketika terjadi sengketa atau penyelidikan, aktor dengan modal kuasa lebih besar—yakni pejabat atau pemegang otoritas anggaran—cenderung lolos dari jerat hukum, sementara aktor lemah menjadi sasaran empuk.

Fakta bahwa tidak satu pun kepala desa yang menggunakan jasa Amsal ditetapkan sebagai tersangka memperkuat dugaan adanya ketimpangan ini. Padahal, dalam logika pengelolaan keuangan negara, pengguna anggaran memiliki peran kunci dalam menentukan nilai, menyetujui kontrak, dan mencairkan pembayaran. Jika memang terjadi mark up, maka relasi antara penyedia jasa dan pengguna anggaran semestinya menjadi fokus utama, bukan semata-mata menyasar pihak penyedia.

Lebih jauh, pendekatan auditor yang menyatakan komponen kreatif “bernilai nol” menunjukkan reduksi ekstrem terhadap kerja kreatif. Dalam ekonomi modern, nilai tidak hanya ditentukan oleh barang fisik, tetapi juga oleh ide, kreativitas, dan proses produksi non-material. David Throsby menegaskan bahwa produk kreatif memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai kultural yang tidak bisa diukur dengan pendekatan biaya konvensional semata. Menganggap konsep atau editing bernilai nol sama saja dengan meniadakan inti dari produksi kreatif itu sendiri.

Di sinilah negara tampak gagal memahami transformasi ekonomi menuju sektor kreatif. Alih-alih mengembangkan kerangka regulasi yang adaptif, aparat penegak hukum justru menggunakan logika administratif yang kaku dan tidak kontekstual. Hasilnya adalah kriminalisasi kerja kreatif.

Lebih problematis lagi, praktik seperti ini berpotensi menciptakan efek jera yang salah arah. Pekerja kreatif akan enggan terlibat dalam proyek pemerintah karena takut dikriminalisasi di kemudian hari. Dalam jangka panjang, hal ini justru merugikan negara sendiri karena menghambat inovasi dan kualitas layanan publik berbasis kreativitas.

Kasus Amsal seharusnya menjadi momentum refleksi. Penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pencarian “angka kerugian negara” semata, tetapi harus mempertimbangkan relasi kuasa, konteks kerja, dan struktur pengambilan keputusan. Tanpa itu, hukum akan kehilangan substansi keadilannya dan berubah menjadi alat reproduksi ketimpangan.

Jika negara terus-menerus menumbalkan pekerja teknis yang tidak memiliki kuasa struktural, maka yang terjadi bukanlah pemberantasan korupsi, melainkan sekadar penciptaan ilusi keadilan. Dan dalam ilusi itu, mereka yang lemah akan selalu menjadi korban pertama.

Redaksi Energi Juang News