Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaKrisis Pengangguran Gen Z Bisa Menjadi Indonesia Cemas 2045

Krisis Pengangguran Gen Z Bisa Menjadi Indonesia Cemas 2045

Oleh : Esteria Tamba
(Penulis, Aktivis)

Indonesia sedang duduk di atas bom waktu sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025 mencatat jumlah pengangguran mencapai 7,28 juta orang atau setara dengan 4,76 persen dari total angkatan kerja. Dari angka ini, generasi Z (Gen Z) menyumbang tingkat pengangguran tertinggi dengan 16 persen. Artinya, hampir dua dari sepuluh anak muda kita saat ini tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki sumber pendapatan. Situasi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah.

Gen Z adalah tulang punggung masa depan bangsa. Mereka adalah generasi yang paling melek teknologi, kreatif, dan adaptif. Namun jika mereka dibiarkan menganggur, potensi besar itu bisa berubah menjadi ancaman. Lihat saja kondisi di Nepal.

Ketika pemerintah gagal menjawab keresahan kaum muda, situasi bisa berubah jadi ledakan sosial. Hingga 43 persen penduduk Nepal adalah anak muda berusia 15-40 tahun, dengan tingkat pengangguran mencapai 20 persen. Frustrasi atas kemiskinan, pengangguran, dan pejabat yang sibuk pamer kemewahan menjadi bara dalam sekam.

Pada puncaknya, demonstrasi yang dimotori Gen Z pecah di Kathmandu dan merembet ke seluruh penjuru Nepal. Polisi antihuru-hara merespons brutal, menewaskan 20 orang dan melukai hampir 400 lainnya. Jam malam diberlakukan, militer mengambil alih keamanan, bahkan bandara internasional Kathmandu ditutup. Gelombang kemarahan ini memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak mengundurkan diri.

Apakah kita akan menunggu bara serupa membesar di Indonesia? Pengangguran bukan hanya persoalan ekonomi. Ini soal martabat dan kepercayaan pada negara. Ketika anak muda kehilangan akses pekerjaan, mereka kehilangan harapan. Kesenjangan ekonomi yang semakin melebar dapat memicu kriminalitas, radikalisasi, bahkan instabilitas politik.

Baca juga :  Ledakan SMAN 72: Pemerintah Harus Perangi Ekstremisme, Bukan Game Online

Pemerintah harus ingat, tahun 2045 disebut sebagai momen Indonesia Emas, saat bangsa ini akan merayakan 100 tahun kemerdekaan dan diharapkan menjadi negara maju. Namun cita-cita itu hanyalah ilusi jika bonus demografi yang kita miliki hari ini berubah menjadi beban demografi karena jutaan Gen Z dibiarkan menganggur. Indonesia Emas hanya akan tercapai bila generasi mudanya produktif, sejahtera, dan dilibatkan dalam pembangunan.

Pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan jargon penciptaan lapangan kerja. Kita butuh langkah konkret: mempercepat reformasi pendidikan agar sesuai dengan kebutuhan industri, mendukung ekosistem wirausaha muda, dan menghapus hambatan regulasi yang membuat usaha kecil sulit berkembang. Lebih dari itu, kebijakan fiskal dan APBN harus diarahkan untuk menciptakan insentif bagi perusahaan yang menyerap tenaga kerja muda.

Mengatasi pengangguran Gen Z bukan hanya soal memberi mereka pekerjaan, tetapi memberi mereka masa depan. Jika negara gagal menjawab keresahan ini, jangan kaget bila kita akan melihat gelombang protes yang lebih besar dari reformasi 1998 kali ini digerakkan oleh generasi digital yang bisa mengorganisir diri jauh lebih cepat dan masif.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments