Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar gejolak teknikal pasar atau dampak sentimen global. Temuan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai tingginya konsentrasi kepemilikan saham oleh kelompok-kelompok tertentu di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru membuka persoalan yang lebih struktural dan mendasar: menguatnya praktik kapitalisme kroni dalam sistem ekonomi Indonesia.
Konsentrasi Kepemilikan Saham dan Rapuhnya IHSG di Bursa Efek Indonesia
MSCI menyoroti bahwa sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia dikendalikan oleh segelintir pemilik atau kelompok usaha tertentu, sehingga likuiditas pasar menjadi rapuh dan rentan terhadap aksi jual dalam skala besar.
Ketika pemilik dominan menarik atau mengalihkan kepentingannya, pasar langsung terguncang. Dalam kondisi seperti ini, IHSG tidak lagi mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional, melainkan menjadi cermin dari kepentingan sempit oligarki pasar.
Kapitalisme Kroni: Pasar Dikuasai Kedekatan dengan Kekuasaan, Bukan Kompetisi Sehat
Secara teoretis, fenomena ini sejalan dengan kritik klasik terhadap kapitalisme kroni (crony capitalism). Menurut Randall G. Holcombe (2015), kapitalisme kroni adalah sistem ekonomi di mana keberhasilan bisnis lebih ditentukan oleh kedekatan dengan kekuasaan dan penguasaan struktur pasar, bukan oleh efisiensi, inovasi, atau kompetisi sehat. Dalam sistem ini, pasar kehilangan fungsi alokatifnya, karena sumber daya ekonomi terkonsentrasi pada segelintir aktor dominan.
Baca juga : IHSG Anjlok Tajam, Direktur Utama BEI Iman Rachman Putuskan Mundur
Joseph E. Stiglitz (2012) juga menegaskan bahwa konsentrasi kepemilikan dan kekuatan ekonomi yang berlebihan akan merusak mekanisme pasar, meningkatkan ketimpangan, serta menciptakan instabilitas ekonomi. Pasar modal yang seharusnya menjadi sarana demokratisasi kepemilikan dan pembiayaan produktif justru berubah menjadi arena spekulasi elite, yang jauh dari kepentingan publik.
Gejala Kapitalisme Kroni di BEI: Market Depth Dangkal dan Kerentanan Investor Ritel
Kondisi BEI saat ini menunjukkan gejala tersebut. Tingginya konsentrasi saham pada kelompok tertentu menyebabkan pasar kehilangan kedalaman (market depth). Investor ritel dan institusi kecil berada dalam posisi asimetris, baik dari sisi informasi maupun kekuatan transaksi.
Akibatnya ketika terjadi koreksi, kepanikan meluas dan IHSG jatuh lebih dalam, bukan karena ekonomi riil melemah, tetapi karena struktur pasar yang timpang.
Oligarki Pasar Modal dan Penyimpangan dari Amanat Pasal 33 UUD 1945
Dalam perspektif ekonomi politik, situasi ini tidak dapat dilepaskan dari relasi erat antara modal besar dan kekuasaan. Jeffrey Winters (2011) menyebut oligarki sebagai kondisi ketika kekayaan terkonsentrasi digunakan untuk mempertahankan dan melipatgandakan kekuasaan ekonomi. Pasar modal dalam sistem oligarkis cenderung menjadi instrumen akumulasi kekayaan segelintir orang, bukan sarana pembangunan nasional.
Jika dibiarkan, kapitalisme kroni di pasar modal akan terus menggerogoti kepercayaan investor, merusak stabilitas keuangan, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. IHSG yang fluktuatif dan rapuh adalah sinyal bahwa fondasi pasar tidak sehat.
Lebih jauh, kondisi ini bertentangan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas keadilan dan kemakmuran rakyat.
Akhiri Kapitalisme Kroni: Perketat Free Float, Transparansi Kepemilikan, dan Perkuat Peran Negara sebagai Wasit
Karena itu, kapitalisme kroni harus disudahi. Otoritas pasar modal perlu mendorong transparansi kepemilikan saham, memperketat aturan free float, serta menindak praktik penguasaan pasar yang berlebihan. Negara tidak boleh tunduk pada kepentingan kelompok modal tertentu, tetapi harus hadir sebagai wasit yang menjamin persaingan adil dan perlindungan bagi seluruh pelaku pasar.
Tanpa pembenahan struktural dan keberanian politik untuk melawan kapitalisme kroni, IHSG akan terus menjadi indeks yang rapuh, dan pasar modal Indonesia akan sulit menjadi pilar perekonomian nasional yang sehat dan berkeadilan. Menyehatkan bursa efek berarti menyehatkan sistem ekonomi itu sendiri—dan itu hanya mungkin jika dominasi kroni dihentikan.
Redaksi Energi Juang News



