Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 69

Purbaya Tegaskan Tak Ada Penambahan Motor Listrik Tahun Ini

Energi Juang News, Jakarta- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tidak ada penambahan unit baru motor listrik untuk operasional program makan bergizi gratis (MBG) di tahun 2026.

Pengadaan kendaraan tersebut sempat menjadi sorotan lantaran dilakukan di tengah efisiensi anggaran.

Purbaya mengatakan pengadaan motor listrik yang ramai diperbincangkan itu berasal dari anggaran tahun lalu. Berdasarkan keterangan Dadan, Purbaya menyebut tidak ada pengadaan motor listrik baru di tahun ini.

“Dia (Kepala BGN Dadan Hindayana) bilang itu emang anggaran tahun lalu, yang sudah sempat terlanjur keluar itu. Tapi yang tahun ini, dia konfirmasi, nggak ada pembelian motor listrik baru, untuk program,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).

Anggaran Motor Listrik Hanya dari Tahun 2025, 2026 Tanpa Tambahan

Saat ditanya mengenai kabar penolakan pengajuan tambahan unit motor listrik, Purbaya menerangkan sisa pengadaan yang belum tiba di Indonesia akan ditolak. Realisasi pengadaan motor listrik saat ini baru mencapai 21.600-an dari target 24.400 unit.

Sisa Pesanan Motor Listrik Akan Dibatasi, Bukan Ditambah

“Kan sebagian udah keluar, sisanya ya ditolak. Jadi dibatasilah, bukan ditolak,” terang Purbaya.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana buka-bukaan soal alasan pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dadan beralasan pengadaan motor listrik bertujuan menunjang operasional di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Pengadaan motor listrik menjadi sorotan karena dilakukan di tengah efisiensi anggaran.

Baca juga : Purbaya Kucurkan Tambahan TKD Rp 10,6 Triliun ke Aceh, Sumut, dan Sumbar

“Ini kan untuk menjangkau daerah-daerah yang sangat sulit, jangkau desa-desa. Ini untuk nunjang operasional,” kata Dadan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).

Dadan menjelaskan, realisasi pengadaan motor listrik mencapai 21.600-an dari target 24.400 yang dananya berasal dari anggaran tahun 2025. Namun ia memastikan tidak ada anggaran serupa untuk tahun 2026.

Harga pasaran satuan motor tersebut adalah Rp 52 juta, namun BGN membelinya di harga Rp 40 jutaan. Menurutnya motor tersebut akan disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di daerah-daerah sulit.

Redaksi Energi Juang News

Musik dan Filosofi Ki Ageng Selo Grobogan

Musik Ki Ageng Selo
Musik Ki Ageng Selo

Energi Juang News,Yogyakarta- Ada perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lain, tapi juga menggeser cara pandang kita terhadap dunia. Di tengah lanskap sederhana Kabupaten Grobogan, pengalaman seperti itu bisa hadir tanpa diduga—bahkan dari sesuatu yang terlihat sepele, seperti sehelai daun.

Perjalanan ke Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, sekitar 10 kilometer ke arah timur dari jalur Wirosari, membawa kita ke sebuah ruang yang terasa seperti melambatkan waktu. Di sana berdiri Situs Cagar Budaya Ki Ageng Selo—tempat yang tidak hanya menyimpan sejarah, tapi juga menyimpan “nada” yang tak selalu terdengar oleh telinga.

Ki Ageng Selo dikenal sebagai sosok legendaris dalam sejarah Jawa. Ia sering dikaitkan dengan kisah-kisah spiritual, termasuk cerita terkenal tentang kemampuannya “menangkap petir”—sebuah simbol penguasaan diri dan kedekatan dengan alam semesta.

Namun, lebih dari mitos tersebut, Ki Ageng Selo adalah representasi dari harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. Situs cagar budaya ini menjadi ruang refleksi, di mana tradisi Jawa tidak hanya dikenang, tetapi juga dirasakan.

Di tempat seperti ini, musik tidak selalu hadir dalam bentuk instrumen. Kadang ia muncul dalam bentuk angin yang berdesir, langkah kaki di tanah, atau bahkan keheningan yang terasa “berbunyi”.

Di antara pengalaman yang paling membekas dari kunjungan ini adalah perjumpaan dengan sesuatu yang tampak sederhana: daun gandrik.

Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya daun biasa. Tapi dalam konteks budaya dan refleksi, daun ini menjadi simbol yang kuat. Ia mengajarkan tentang kesederhanaan, ketahanan, dan keterhubungan dengan alam.

Jika kita tarik ke dalam perspektif musik, daun gandrik seperti satu nada tunggal dalam komposisi besar kehidupan. Ia mungkin kecil, tapi tanpa kehadirannya, harmoni tidak akan lengkap.

Dalam tradisi Jawa, banyak filosofi hidup yang disampaikan melalui alam. Daun, air, angin—semuanya adalah “instrumen” yang memainkan musik kehidupan. Dan daun gandrik adalah salah satu not kecil yang mengingatkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal sederhana.

Dalam budaya Jawa, musik tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan konteks—ritual, spiritualitas, hingga kehidupan sehari-hari.

Gamelan, misalnya, bukan hanya alat musik, tapi medium komunikasi antara manusia dan yang lebih besar dari dirinya. Setiap dentingnya memiliki makna, setiap ritmenya mengandung filosofi.

Ketika kita berada di Situs Ki Ageng Selo, kita bisa merasakan bahwa “musik” tidak harus dimainkan untuk bisa didengar. Ia hadir dalam atmosfer, dalam energi tempat, dalam interaksi antara manusia dan alam.

Ini adalah bentuk musik yang lebih subtil—yang hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar hadir.

Bagi generasi muda yang hidup di era serba cepat, pengalaman seperti ini mungkin terasa asing. Tapi justru di situlah letak pentingnya.

Mengunjungi tempat seperti Situs Ki Ageng Selo bukan hanya tentang wisata, tapi juga tentang reconnect—dengan budaya, dengan alam, dan dengan diri sendiri.

Di tengah playlist digital dan algoritma musik, kita sering lupa bahwa ada bentuk “musik” lain yang tidak bisa di-streaming. Musik yang hanya bisa dirasakan ketika kita benar-benar melambat dan mendengarkan.

Apa yang bisa kita pelajari dari perjalanan ini?

Bahwa musik tidak selalu harus keras untuk bermakna. Bahwa harmoni tidak selalu datang dari banyak suara—kadang justru dari satu elemen kecil, seperti daun gandrik.

Dan yang paling penting, bahwa budaya bukan sesuatu yang jauh atau kuno. Ia ada di sekitar kita, menunggu untuk disadari.

Musik dan filosofi Ki Ageng Selo Grobogan mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah komposisi besar yang terdiri dari banyak elemen kecil. Dari tokoh spiritual, situs budaya, hingga sehelai daun—semuanya memiliki peran dalam menciptakan harmoni.

Bagi siapa pun yang ingin memahami budaya Indonesia lebih dalam, perjalanan seperti ini adalah awal yang baik. Karena di sana, kita tidak hanya melihat atau mendengar—kita merasakan.

Dan mungkin, di situlah musik yang paling sejati berada.

Redaksi Energi Juang News

Pengantin Kabur Di Bengkulu, Doyok Tekor Jojon Panen

pengantin lari
pengantin lari

Energi Juang News,Bengkulu- Dalam teori pernikahan, semua orang berharap bahagia. Dalam praktik lapangan, kadang hasilnya seperti proyek jalan desa: anggaran habis, hasil belum tentu mulus. Itulah yang dialami Doyok, pria 30 tahun dari Bengkulu, yang mendadak jadi korban “pergeseran hati secara sepihak”.

Doyok ini bukan orang sembarangan dalam urusan perjuangan cinta. Kalau ada lomba ngotot tingkat RT, kemungkinan besar dia juara harapan satu. Sejak lama ia menaksir Vipi, gadis 25 tahun yang level kecantikannya bikin cowok-cowok lain rela antre seperti daftar bansos.

Masalahnya, Vipi tidak tertarik. Jangankan kasih harapan, melirik saja irit. Tapi Doyok bukan tipe yang mundur sebelum saldo habis. Ia naik level: dari pendekatan biasa menjadi pendekatan struktural.

Orang tua Vipi dilobi. Keluarga besar didekati. Bahkan kalau perlu, mungkin tetangga tiga RT ikut diajak rembukan. Sistemnya mirip pemilihan lurah: siapa berani setor lebih, dia yang unggul. Istilah kerennya NPWP—Nomor Piro Wani Piro.

Dan benar saja, strategi “koalisi keluarga” berjalan mulus. Vipi yang awalnya ogah-ogahan, akhirnya luluh… atau lebih tepatnya, luluh karena tekanan situasi. Pacar lama diputus, Doyok naik pangkat jadi calon suami.

Resepsi pun digelar besar-besaran. Doyok tidak main-main. Uang warisan orang tua dikucurkan seperti proyek nasional. Dekor megah, makanan melimpah, tamu undangan sampai bingung parkir.

Singkatnya: pesta sukses, dompet kritis.

Masuk ke sesi malam pertama, Doyok sudah siap tempur. Persiapan tidak hanya lahir, tapi juga batin dan “logistik tambahan”. Dari jamu sampai telur bebek, semua dikonsumsi demi misi besar: “mbelah duren montong”.

Namun, hidup kadang lebih plot twist daripada sinetron.

Saat Doyok siap menjalankan tugas negara sebagai suami baru, pengantinnya… hilang.

Awalnya dikira ke kamar mandi. Lalu dikira ke dapur. Lama-lama dicari sampai ke grup WhatsApp keluarga, tetap tidak ketemu.

Akhirnya muncul kabar dari saksi mata: Vipi terlihat pergi bersama seorang pria. Dan bukan pria sembarangan—itu adalah Jojon, 32 tahun, mantan pacar sekaligus mantan kepala desa. Alias paket lengkap: pengalaman ada, jabatan pernah, kenangan masih tersisa.

Di sinilah teori “cinta lama bersemi kembali” membuktikan diri. Yang lama bukan berarti usang, kadang malah jadi pilihan utama.

Doyok? Jelas terpukul.

“Lha aku iki opo, panitia acara?” kira-kira begitu isi hatinya.

Semua usaha, semua biaya, semua strategi politik keluarga… runtuh dalam satu malam. Yang ia dapat bukan malam pertama, tapi malam penuh tanda tanya.

Lebih pahit lagi, pihak yang “panen raya” justru Jojon. Datang belakangan, tapi hasil maksimal. Istilah sepak bolanya: pemain cadangan, tapi cetak gol di injury time.

Doyok sempat mencoba jalur hukum. Laporan polisi dilayangkan. Tapi seperti kata pepatah modern: urusan hati tidak bisa diselesaikan dengan kuitansi.

Kalau pun Vipi kembali, masalahnya bukan sekadar balik badan. Kepercayaan sudah seperti kaca jatuh—bisa disambung, tapi retaknya tetap kelihatan.

Akhirnya Doyok hanya bisa menerima nasib. Uang habis, cinta kandas, pengalaman bertambah—meski tidak diinginkan.

Kisah ini jadi pelajaran penting bagi para pejuang cinta garis keras:
bahwa tidak semua yang bisa dibeli akan benar-benar bisa dimiliki.

Kadang, yang sudah akad pun masih bisa “diambil alih” oleh masa lalu.

Dan yang paling menyakitkan, bukan soal gagal “mbelah duren”…
tapi ternyata durennya sudah dipanen orang lain duluan.

Redaksi Energi Juang News

Hindari Ranjau Selat Hormuz, Iran Umumkan Rute Alternatif

Energi Juang News, Teheran – Rute alternatif diumumkan Iran untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Rute alternatif itu disiapkan dengan alasan risiko ranjau laut di zona utama jalur air strategis tersebut.

Dilansir AFP, Kamis (9/4/2026), Teheran telah setuju untuk membuka kembali selat tersebut untuk sementara waktu. Iran sepakat membuka lagi Selat Hormuz sebagai bagian dari gencatan senjata selama dua minggu.

“Semua kapal yang bermaksud melintasi Selat Hormuz dengan ini diberitahu bahwa untuk mematuhi prinsip-prinsip keselamatan maritim dan untuk terlindungi dari kemungkinan tabrakan dengan ranjau laut… mereka harus mengambil rute alternatif untuk lalu lintas di Selat Hormuz,” kata Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh media lokal.

Pernyataan tersebut juga membagikan instruksi untuk rute masuk dan keluar alternatif melalui selat tersebut.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Gencatan senjata ini ditandai dengan dibukanya Selat Hormuz.

Awalnya gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Dalam pernyataan Trump yang diunggah akun X Gedung Putih seperti dilihat, Rabu (8/4), Trump memberikan syarat kepada Iran. Yakni Iran harus membuka Selat Hormuz secara penuh.

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta agar saya menunda penggunaan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman atas Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!” kata Trump.

Dewan Keamanan Nasional Iran mengatakan pihaknya akan mengalokasikan tenggat waktu 2 minggu untuk bernegosiasi dengan AS. Tenggat waktu ini dapat diperpanjang dengan persetujuan kedua belah pihak.

Redaksi Energi Juang News

Sadis! Anak Tega Penggal Ayah Kandung

Energi Juang News, Bengkalis- Aksi pembunuhan sadis menggemparkan warga di Desa Tasik Serai, Kecamatan Tualang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Seorang anak tega memenggal kepala ayah kandungnya sendiri hingga tewas kala sedang tidur.

Seorang anak berusia 19 tahun tega membunuh ayah kandungnya sendiri di Desa Tasik Serai, Kecamatan Tualang Muandau, Kabupaten Bengkalis. Remaja berinisial RMMP itu memenggal kepala sang ayah, RP (48) hingga tewas di tempat.

Pembunuhan sadis itu terjadi pada Selasa, 7 April 2026. Pelaku berinisial RMMP (19) membunuh ayahnya, RP (48) yang sedang tertidur lelap.

Pihak kepolisian bergerak cepat mendatangi lokasi dan mengamankan pelaku tak lama setelah kejadian tersebut. Berdasarkan pemeriksaan sementara, pelaku mengaku tega menghabisi nyawa ayahnya sendiri karena sakit hati lantaran sang ibu kerap menerima kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari sang ayah.

Pembunuhan itu diketahui terjadi pada Selasa, 7 April 2026. Bermula saat pelaku mendengar ayah dan ibunya, JL (43) bertengkar hebat di pagi hari.

Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, mengatakan pagi itu RMMP mendengar ayahnya marah-marah kepada ibunya. Percekcokan dipicu sang ayah yang meminta uang kepada ibunya.

Korban (RP) sempat bertengkar dengan saksi 1 (JL) karena korban meminta uang kepada saksi 1 sambil marah-marah dan kemudian sempat terjadi pertengkaran antara korban dan juga saksi 1,” kata Fahrian dalam keterangannya, Rabu (8/4).

Meski sempat bertengkar, JL sempat memberikan uang Rp 150 ribu sebelum ia pergi ke ladang.

Siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, JL masih berada di ladang, sementara suaminya di rumah sedang tidur. Saat tidur itulah, RMMP membunuh ayahnya.

“Pada saat itu korban sedang tidur di dalam kamarnya, pelaku yang melihat korban sedang tidur di dalam kamar langsung mengambil parang babat dari gudang rumahnya dan kemudian pelaku sambil membawa parang pergi ke kamar korban,” jelasnya.

Dalam kondisi gelap mata, RMMP kemudian membacok ayahnya berkali-kali hingga tewas.

“Sehingga menyebabkan korban meninggal dunia di tempat kejadian,” tuturnya.

Kejadian yang menggemparkan masyarakat sekitar ini dilaporkan ke polisi. Aparat kepolisian merespons cepat kejadian tersebut dan mengamankan pelaku di dalam rumahnya.

Babhinkamtibmas Desa Tasik Serai yang mendapatkan informasi dari warga melaporkan kejadian tersebut ke Piket Pawas Iptu Yarman. Sekitar pukul 14.00 WIB, Bhabinkamtibmas dan Piket Pawas tiba di lokasi.

“Sesampainya di TKP piket gabungan menemukan satu orang laki-laki yang diketahui berinisial RP dalam kondisi sudah tergeletak di dalam kamar dengan keadaan tewas,” paparnya.

Polisi juga mengamankan pelaku yang saat itu ada di dalam rumahnya.

“Pelaku sudah kami amankan dan masih dalam pemeriksaan intensif,” ucap Fahrian.

Menurut Fahrian, pelaku tidak berusaha melarikan diri usai membunuh sang ayah.

“Pelaku nggak kabur, ada di rumahnya,” imbuhnya.

Motif Pembunuhan karena Sakit Hati
Polisi mengungkap motif remaja inisial RMMP (19) yang tega menebas kepala ayah kandungnya, RJ (48) di Kabupaten Bengkalis, Riau. RMMP mengaku sakit hati karena ibunya sering menerima kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dari sang ayah.

“(Motif) sakit hati ibunya sering menerima KDRT,” kata Fahrian.

Saat ini pelaku diamankan di Mapolres Bengkalis untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Redaksi Energi Juang News

Publik Soroti Pengadaan Ribuan Motor Listrik untuk MBG, Apa Kata Kepala BGN?

Energi Juang News, Jakarta – Publik menyoroti pengadaan puluhan ribu motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak heran, sebab kebijakan tersebut diambil saat pemerintah sedang menjalankan efisiensi anggaran.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana pun merespons sorotan publik ini. Dadan beralasan pengadaan motor listrik bertujuan menunjang operasional di daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Dadan: Motor Listrik untuk Jangkau Daerah Sulit, Bukan Kebijakan Baru 2026

“Ini kan untuk menjangkau daerah-daerah yang sangat sulit, jangkau desa-desa. Ini untuk nunjang operasional,” kata Dadan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).

Dadan menjelaskan, realisasi pengadaan motor listrik mencapai 21.600-an dari target 24.400 yang dananya berasal dari anggaran tahun 2025. Namun ia memastikan tidak ada anggaran serupa untuk tahun 2026.

Harga pasaran satuan motor tersebut adalah Rp 52 juta, namun BGN membelinya di harga Rp 40 jutaan. Menurutnya motor tersebut akan disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di daerah-daerah sulit.

Realisasi 21 Ribu Motor Listrik, Semua dari Anggaran Tahun 2025

“Kita distribusikan nanti secara nasional untuk seluruh orang pada SPPG di daerah yang sulit,” tutur Dadan.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membenarkan bahwa pengadaan motor untuk SPPG berasal dari anggaran tahun 2025. Purbaya mengaku baru tahu belakangan dan menyebut sudah memotong anggaran terkait pengadaan tersebut.

“Tahun lalu itu rupanya, tahun ini nggak ada. Kita baru tahu belakangan, udah dipotong anggarannya kalau nggak salah, saya harus tanya Dirjen Anggaran lagi,” sebut Purbaya.

Baca juga : Motor Listrik untuk MBG: Ketika Anggaran Publik Melenceng dari Prioritas

Saat ditanya apakah Presiden Prabowo Subianto mengetahui pengadaan tersebut, Purbaya mengaku tidak tahu. Sebelumnya, Purbaya menilai anggaran BGN harusya diprioritaskan untuk pengadaan makanan.

Sementara itu, Menteri Sekretariat Negara, Prasetyo Hadi menyebut akan melakukan pengecekan lebih lanjut. Menurutnya, setiap anggaran kementerian/lembaga merupakan bagian dari perencanaan.

“Kan begini semua penganggaran tentu kan bagian dari perencanaan ya, BGN juga sama, pemerintah pasti mengetahui hal tersebut. Hanya memang dalam pelaksanaannya tentunya disesuaikan dengan kondisi-kondisi berkenaan dengan hal tersebut izinkan kami koordinasikan lebih baik lagi,” tutup Prasetyo.

Redaksi Energi Juang News

Vape, Kepentingan Kapitalis Merusak Kesehatan Rakyat

Fenomena peredaran narkotika dalam bentuk baru kembali menguji ketegasan negara dalam melindungi warganya. Kali ini, ancaman tersebut hadir dalam wujud yang tampak “modern” dan kerap dianggap aman: rokok elektronik atau vape.

Temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa Indonesia tengah menghadapi eskalasi serius penyalahgunaan zat berbahaya melalui media ini.

Berdasarkan hasil uji laboratorium BNN terhadap 341 sampel cairan vape, ditemukan fakta yang mengkhawatirkan: 11 sampel mengandung kanabinoid sintetis, satu sampel mengandung methamphetamine (sabu), dan 23 sampel terbukti mengandung etomidate obat bius yang kini telah masuk dalam kategori narkotika golongan II berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2025.

Fakta ini menegaskan bahwa vape bukan lagi sekadar produk konsumsi alternatif, melainkan telah menjadi medium baru peredaran narkotika.

Celah Hukum Penindakan

Namun, ironisnya, penegakan hukum terhadap kasus-kasus tersebut masih bertumpu pada undang-undang kesehatan yang memiliki daya jerat lebih lemah. Kondisi ini menciptakan celah hukum yang dimanfaatkan oleh jaringan peredaran narkotika untuk terus berekspansi.

Oleh karena itu, memasukkan vape sebagai objek larangan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Narkotika dan Psikotropika menjadi langkah mendesak dan strategis.

Secara teoretis, fenomena ini dapat dibaca melalui perspektif risk society yang dikemukakan oleh Ulrich Beck. Beck menegaskan bahwa masyarakat modern dihadapkan pada risiko-risiko baru yang dihasilkan oleh perkembangan teknologi dan industri.

Vape adalah contoh nyata bagaimana inovasi teknologi yang semula dipromosikan sebagai alternatif “lebih aman” justru melahirkan risiko laten yang sulit dikendalikan.  Ketika zat narkotika dapat dengan mudah disamarkan dalam cairan vape, maka risiko tersebut tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sistemik.

Komodifikasi Kesehatan Publik

Selain itu, teori komodifikasi dalam ekonomi politik, sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx, membantu menjelaskan bagaimana industri vape beroperasi. Dalam logika kapitalisme, segala sesuatu termasuk kesehatan manusia dapat direduksi menjadi komoditas demi akumulasi keuntungan. Industri vape, yang kini berkembang pesat, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kapital besar yang terus mencari celah pasar, bahkan jika harus mengabaikan dampak kesehatan publik.

Dalam konteks ini, negara tidak boleh tunduk pada tekanan kapital. Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi segenap warga negara, termasuk dari ancaman kesehatan dan kerusakan generasi muda akibat narkotika.

Urgensi Sikap Tegas Negara

Pelarangan vape sebagai alat menjadi langkah preventif yang krusial. Dengan menutup akses terhadap perangkatnya, maka distribusi cairan vape yang mengandung zat terlarang juga dapat ditekan secara signifikan.

Langkah ini bukan tanpa preseden. Singapura telah lebih dulu melarang peredaran vape sejak 2018 dan menjadi bagian dari puluhan negara di dunia yang mengambil kebijakan serupa.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pelarangan vape bukanlah langkah ekstrem, melainkan respons rasional terhadap ancaman kesehatan publik.
Indonesia seharusnya tidak tertinggal.

Jika negara serius dalam memerangi narkotika, maka pendekatan parsial tidak lagi memadai. Dibutuhkan langkah tegas dan komprehensif, termasuk dengan memasukkan larangan terhadap vape dalam RUU Narkotika dan Psikotropika.

Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal regulasi, melainkan soal keberpihakan. Apakah negara berdiri di sisi kesehatan rakyatnya, atau justru memberi ruang bagi industri yang berpotensi merusak masa depan generasi muda?

Jawabannya harus jelas: keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Gus Falah: RUU Perampasan Aset Harus Mampu Tangkal Berbagai Modus Manipulasi Harta

Energi Juang News, Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menegaskan RUU tentang Perampasan Aset terkait Tindak Pidana harus mampu menangkal berbagai modus manipulasi harta oleh para pejabat.

Gus Falah pun mengungkapkan modus-modus tersebut, ketika Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi III DPR RI dengan Dr. M. Rullyandi, S.H., M.H dan Chandra M Hamzah, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

“Orang itu bila ingin menyembunyikan sesuatu, pasti dengan berbagai macam cara. Memanipulasi data dan surat tanah, LHKPN nya dikecil-kecilin, modus-modusnya seperti itu,” ujar Gus Falah.

RUU Perampasan Aset Harus Antisipasi Manipulasi LHKPN dan Aset Pejabat

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR itu  menegaskan, semua pihak terutama DPR harus memperkaya RUU Perampasan Aset agar mampu menangkal modus-modus itu.

Gus Falah juga mengusulkan agar ketentuan ini dibuatkan hukum acara tersendiri. Jadi, regulasi ini bersifat lex specialis.

“Hal ini agar aturan ini bisa kita laksanakan dengan baik,” pungkasnya.

Redaksi Energi Juang News

Prabowo Sentil Pengkritik Jembatan

Prabowo Sentil Pengkritik Jembatan

Energi Juang News, Jakarta- Pemerintah menegaskan komitmennya untuk tetap bekerja melayani masyarakat di tengah berbagai kritik yang terus bermunculan. Stabilitas nasional juga disebut masih terjaga meski dinamika global, terutama di kawasan Timur Tengah, sedang memanas.

Prabowo: Kondisi Nasional Masih Aman

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa dirinya telah menelaah berbagai laporan dari jajaran menteri. Dari hasil evaluasi tersebut, ia menilai kondisi Indonesia tetap berada dalam situasi yang aman.

Hal itu disampaikan dalam Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Saya telah mempelajari data-data angka dan dalam kesempatan ini adalah kesempatan yang baik, setelah saya mempelajari angka-angka dan dapat laporan dari menteri-menteri saya ternyata kondisi kita cukup aman,” kata Prabowo.

Kritik Dianggap Bagian dari Dinamika

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyoroti munculnya kritik dari sejumlah kelompok masyarakat. Ia menegaskan bahwa perbedaan sikap, termasuk ketidakinginan untuk bekerja sama dengan pemerintah, tetap harus dihormati.

“Memang ada satu fenomena yang kita rasakan bersama bahwa ada kelompok-kelompok di masyarakat, saudara-saudara kita juga, keluarga besar NKRI juga yang mempunyai suatu sikap yang bisa dikatakan sangat tidak mau kerja sama. Kita hormati, kita tidak ada masalah,” ujarnya.

Analogi Jembatan: Sindiran untuk Pengkritik Pasif

Untuk menggambarkan situasi tersebut, Prabowo menggunakan analogi pembangunan jembatan di sebuah desa. Ia menyoroti adanya pihak yang tidak ikut berkontribusi, tetapi aktif mengkritik.

“Saya katakan kalau di suatu tempat, suatu desa, melihat kebutuhan butuh jembatan kemudian sebagian besar gotong royong untuk membangun jembatan tapi ada sekelompok yang tidak mau bangun jembatan, tapi tidak masalah, silakan,” kata Prabowo.

Baca juga : Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat

Ia bahkan mengungkapkan kebingungannya terhadap pihak yang enggan terlibat, namun vokal dalam memberikan kritik.

“Hanya saya juga nggak ngerti ada orang mau bangun jembatan, dia tidak mau bangun jembatan tapi dia kritik, ‘Kamu goblok kamu. Kayunya salah jangan di situ, pakunya salah, rantainya salah’. Salah aja. Lah kita yang mau bangun jembatan apa sikap kita? Apa kita grogi? ‘Goblok kamu, kamu bikin jembatan, goblok’. Ya saya goblok tapi rakyat ini minta jembatan, ya, saya bangun jembatan. Jadi ini fenomena,” ujarnya.

Fokus Pemerintah Tetap pada Rakyat

Prabowo menegaskan, pemerintah tidak akan teralihkan oleh kritik yang bersifat destruktif. Ia meminta seluruh jajaran untuk tetap fokus pada kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, kerja nyata untuk rakyat harus menjadi prioritas utama, terlepas dari adanya pihak yang memilih berada di luar upaya tersebut.

Redaksi Energi Juang News

Polemik Ijazah Jokowi, JK: Publik Resah

Polemik Ijazah Jokowi, JK: Publik Resah

Energi Juang News, Jakarta- Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menyoroti polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang tak kunjung selesai. Ia menilai isu tersebut telah berlangsung terlalu lama dan membawa dampak luas bagi masyarakat.

Polemik Berlarut Dinilai Rugikan Banyak Pihak

Pernyataan itu disampaikan JK usai melaporkan Rismon Sianipar terkait dugaan penyebaran informasi bohong yang menyeret namanya. Ia disebut mendanai Roy Suryo dan pihak lain dalam polemik ijazah Jokowi.

Menurut JK, isu tersebut sudah bergulir selama dua hingga tiga tahun. Ia menilai polemik ini tidak hanya menguras waktu, tetapi juga memicu kerugian dari berbagai sisi.

“Sebenarnya kasus ini kan sudah 2 tahun, 3 tahun. Meresahkan masyarakat, merugikan waktu, merugikan Pak Jokowi, merugikan semua, puluhan miliar uang habis untuk apakah itu pengacara, apakah itu seperti saya ini, waktu saya hilang, dilibatkan,” kata JK di gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Wednesday (08/04/2026).

Biaya Tinggi dan Picu Perpecahan Sosial

JK menegaskan, dampak polemik tersebut tidak hanya bersifat materiil. Ia melihat adanya perpecahan di tengah masyarakat akibat pro dan kontra yang terus berkembang.

“Waktu kita habis, biaya ongkosnya mahal, dan terjadi perpecahan di masyarakat. Pro kontra kan perpecahan, mati-matian di TV. Itu sifat nasional kita terganggu dengan cara itu,” ujarnya.

Solusi Sederhana: Tunjukkan Ijazah Asli

JK menilai persoalan ini seharusnya bisa diselesaikan dengan langkah sederhana. Ia meyakini bahwa Jokowi memiliki ijazah asli dan cukup menunjukkannya kepada publik untuk mengakhiri polemik.

“Sebenarnya sederhana persoalannya, karena saya yakin Pak Jokowi bahwa punya ijazah asli. Ya sebenarnya kita setop lah ini perkara dengan cara tinggal Pak Jokowi memperlihatkan ijazahnya yang asli,” tuturnya.

Baca juga : KPU Solo Klarifikasi: Dokumen Pendaftaran Jokowi Tidak Dimusnahkan, Hanya Buku Agenda

“Saya yakin Pak Jokowi mengerti bagaimana kerugian sosial kita, masalah 2-3 tahun ini. Tinggal dikasih lihat (ke) masyarakat saja selesai. Saya yakin itu Pak Jokowi akan begitu karena daripada kita berseteru, ada kelompok berseteru bertahun-tahun, hilang waktu, hilang harkat sosial, itulah kita harapkan,” imbuh JK.

Harapan Konflik Segera Diakhiri

JK berharap polemik tersebut segera berakhir. Ia menilai konflik berkepanjangan ini tidak sejalan dengan semangat persatuan yang seharusnya dijaga oleh pemimpin negara.

“Saya yakin dan pasti Pak Jokowi tidak menginginkan sebagaimana Presiden tidak menginginkan masyarakatnya pecah belah karena soal kecil ini,” ucapnya.

Laporan Resmi ke Bareskrim Polri

JK telah melaporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/135/IV/2026/SPKT/Bareskrim Polri tertanggal Wednesday (08/04/2026).

Laporan tersebut terkait dugaan penyebaran berita bohong, fitnah, dan pencemaran nama baik. Kasus ini mengacu pada Pasal 263 KUHP, Pasal 434 KUHP, Pasal 433 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, serta Pasal 27A juncto Pasal 45 ayat (4) UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang perubahan UU ITE.

Redaksi Energi Juang News